Sebisa mungkin di setiap daerah, main ke stadion di sana. Di Palangka Raya, nama mantan wali kota diabadikan sebagai stadion kebanggaan yang terletak di jalan utama Tjilik Riwut.
Pada kunjungan ke Palangka Raya 2019, bertepatan dengan hari laga Kalteng Putra di Liga 1 saat itu. Sayang, kala itu tak sempat nonton, karena acara ’Borneo Berdoa’ yang saya hadiri bersamaan jamnya. Apalagi, cek di aplikasi Gojek, lokasi stadionnya cukup jauh.
Tak disangka, pada kunjungan lebih lama ke Palangka Raya April 2026, lima hari empat malam, menginap di Hotel Swissbel, di Jl. Tjilik Riwut KM 5, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. yang berhadapan langsung dengan Stadion Tuah Pahoe.

Sayang, geliat sepak bolanya sudah berbeda dengan tujuh-delapan tahun lalu. Kalteng Putra FC kini ada di Liga 4, setelah mengundurkan diri pada Liga Nusantara alias Liga 3 2025.
Rumput masih bagus. Tribun masih bisa diduduki, termasuk bangku pemain cadangan. Rupanya, stadion ini baru dipakai Liga 4 beberapa bulan lalu. Pada Maret 2012, stadion berkapasitas 10 ribu orang ini pernah menggelar laga persahabatan bersejarah antara Persepar Palangka Raya melawan Timnas Indonesia U-23 yang berakhir imbang dengan skor 2-2.
Nama stadion ini diambil dari nama Wali Kota ke-10 Palangka Raya, Tuah Pahoe, politisi asal Partai Golkar yang wafat 29 Mei 2008. Wali kota yang dianggap punya kontribusi pada Kalteng Putra FC, termasuk menjadi ketua umum ’Laskar Isen Mulang’, dua tahun sebelum berpulang.
Selain untuk sepak bola, kompleks Stadion Tuah Pahoe—yang juga berdampingan dengan GOR Serbaguna Indoor—sering digunakan untuk event daerah berskala besar, mulai dari konser, festival budaya, hingga acara keagamaan seperti Tabligh Akbar. Juga ’Festival Isen Mulang’, pesta budaya tahunan terbesar di Kalimantan Tengah yang menampilkan kekayaan seni, tradisi, dan kearifan lokal. Nama ’Isen Mulang’ berasal dari bahasa Dayak Ngaju yang berarti pantang mundur. Acara ini biasanya diselenggarakan sebagai bagian dari perayaan Hari Jadi Provinsi Kalimantan Tengah.
Masa kejayaan klub Kalteng Putra FC paling ikonik terjadi pada periode tahun 2018 hingga pertengahan 2019.

Pada masa ini, klub asal Palangka Raya tersebut menjelma dari tim kasta kedua menjadi ’tim bertabur bintang’ dan ’kuda hitam’ yang sangat ditakuti di kancah sepak bola tertinggi Indonesia.
Di bawah asuhan pelatih Kashartadi, Kalteng Putra sukses mengunci tiket promosi ke Liga 1 setelah keluar sebagai Juara 3 Liga 2 2018. Momen krusial itu terjadi saat mereka menumbangkan Persita Tangerang dengan skor 2-0 di Stadion Pakansari melalui gol Dendi Agustian Maulana dan I Made Wirahadi.
Memasuki awal tahun 2019, manajemen Kalteng Putra jor-joran membangun skuad mewah untuk menyambut Liga 1. Hasilnya instan, mereka berhasil melaju hingga babak semifinal dan menjadi Juara 3 Bersama di Piala Presiden 2019 setelah secara mengejutkan menumbangkan raksasa sepak bola Indonesia seperti Persipura Jayapura, Persija Jakarta, dan PSM Makassar. Kalteng Putra tumbang di semifinal dari Arema Malang dalam dua laga di Kanjuruhan dan Stadion 17 Mei Banjarmasin.
Beberapa pemain impor yang memperkuat Kalteng Putra FC antara lain gelandang serang asal Brasil Diogo Campos, bek tengah Brasil Rafael Bonfim, gelandang pekerja keras Jeang Takuya Matsunaga serta duo lini serang asal Brasil Hedipo Gustavo serta Eydison Teofilo.
Untuk pemain lokal berlabel bintang nasional ada nama-nama Yohanes Ferinando Pahabol, Patrich Wanggai, Michael Rumere, I Gede Sukadana, Rizky Dwi Febrianto, serta dua kiper Dimas Galih Pratama dan Reky Rahayu. Ada juga pemain naturalisasi asal Korea, Yu Hyun-koo dan Onorionde Kughegbe (OK) John dari Nigeria.
Semoga persepakbolaan Kalteng kembali bergigi dan diperhitungkan di pentas liga Indonesia!


