Berkunjung ke salah satu lokasi penuh sejarah di Minahasa. Inilah Benteng Moraya.
Dalam kesempatan ke Sulawesi Utara bulan lalu, sempat pula mampir ke Benteng Moraya, salah satu situs sejarah paling penting di Minahasa. Terletak di tepi Danau Tondano, kawasan ini menjadi simbol perjuangan rakyat Minahasa dalam menghadapi kolonialisme Belanda pada awal abad ke-19.

Asal-usul nama Moraya
Kata ’Moraya’ berasal dari bahasa Minahasa (Toulour) yang sering dimaknai sebagai ’genangan darah’ atau ’danau yang diselimuti darah’. Nama tersebut mengingatkan pada pertempuran sengit yang terjadi di kawasan ini ketika rakyat Minahasa mempertahankan tanah leluhur mereka dari pasukan Belanda.
Benteng Pertahanan Rakyat Minahasa
Benteng Moraya merupakan pusat pertahanan masyarakat Minahasa dalam Perang Tondano. Benteng aslinya dibangun dari kayu-kayu besar dan berfungsi sebagai tempat berlindung sekaligus markas perlawanan. Tokoh-tokoh Minahasa seperti Korengkeng, Sarapung, Tewu, Lumingkewas Matulandi, Lontoh Kamasi, dan Ukung Mamahit.

memimpin perjuangan melawan kolonial Belanda. Perlawanan tersebut mencapai puncaknya sekitar tahun 1808–1809. Walaupun akhirnya benteng jatuh, semangat perjuangan masyarakat Minahasa menjadi bagian penting dalam sejarah nasional Indonesia.
Perang ini terjadi pada periode tahun 1661 sampai 1664. Perang ini terjadi karena ambisi VOC untuk memonopoli beras di semua kawasan Walak Minahasa yang akhirnya ditandai dengan pembangunan pusat pemukiman yang bernama Toudano yang sekarang menjadi Minawanua, pada tahun 1664.

Minawanua memiliki makna ’bekas wanua’ yakni kata mina bermakna ‘sudah tiada’ sebagai penggambaran bahwa wilayah ini telah tiada akibat keganasan perang yang terjadi kala itu.
Peperangan ini dimulai pada tanggal 1 Juni 1661 dengan beranggotakan 1400 pasukan yang juga diikuti para perempuan Minahasa yang berlangsung di atas perairan dan rawa.
Perang Tondano yang terjadi pada tahun 1808-1809 adalah perang yang melibatkan orang Minahasa di Sulawesi Utara dan pemerintah kolonial Belanda pada permulaan abad XIX. Perang pada permulaan abad XIX ini terjadi akibat dari implementasi politik pemerintah kolonial Hindia Belanda oleh para pejabatnya di Minahasa, terutama upaya mobilisasi pemuda untuk dilatih menjadi tentara.

Perang Tondano II sudah terjadi ketika memasuki abad ke-19, yakni pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Perang ini dilatarbelakangi oleh kebijakan Gubernur Jenderal Daendels. Daendels yang mendapat mandat untuk memerangi Inggris, memerlukan pasukan dalam jumlah besar. Untuk menambah jumlah pasukan maka direkrut pasukan dari kalangan pribumi.
Mereka yang dipilih adalah dari suku-suku yang memiliki keberanian berperang. Beberapa suku yang dianggap memiliki keberanian adalah orang-orang Madura, Dayak dan Minahasa. Atas perintah Daendels melalui Kapten Hartingh, Residen Manado Prediger segera mengumpulkan para ukung.
Dari Minahasa ditarget untuk mengumpulkan calon pasukan sejumlah 2.000 orang yang akan dikirim ke Jawa. Ternyata orang-orang Minahasa umumnya tidak setuju dengan program Daendels untuk merekrut pemuda-pemuda Minahasa sebagai pasukan kolonial. Banyak di antara para ukung mulai meninggalkan rumah. Mereka justru ingin mengadakan perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Benteng Moraya Masa Kini
Benteng yang dapat dilihat sekarang bukanlah benteng kayu asli, melainkan monumen dan kawasan wisata sejarah yang dibangun kembali oleh pemerintah daerah. Bangunan utamanya berupa menara pengamatan yang menghadap langsung ke Danau Tondano dan pegunungan di sekitarnya.
Makna Bagi Masyarakat Minahasa
Bagi orang Minahasa, Benteng Moraya bukan sekadar objek wisata. Tempat ini merupakan simbol keberanian dan persatuan masyarakat Minahasa, pengingat pengorbanan leluhur dalam mempertahankan tanah air, pusat identitas budaya dan sejarah Minahasa, serta arisan yang menghubungkan generasi sekarang dengan perjuangan masa lalu.
Karena itu, Benteng Moraya sering disebut sebagai ‘saksi bisu Perang Tondano’, sebuah monumen yang mengabadikan salah satu episode paling heroik dalam sejarah Sulawesi Utara dan Indonesia.


