Hadir di GMS Nusa Dua ibadah jam 8 pagi. Dilayani Pendeta Samuel Muji Santoso mengangkat kisah Saul: dari pilihan menjadi penolakan. Awalnya dipanggil dengan Roh mengakhiri dengan daging.
Di awal kotbah, Pendeta Samuel menegaskan, modal utama menerima panggilan Tuhan adalah ’lutut’, dan setia melakukan sesuatu yang tak kelihatan.
“Tak ada yang salah dengan panggilan pelayanan di awal-awal. Tapi menjadi masalah jika kita tak menjaga panggilan kita,” kata pendeta Samuel Muji, gembala regional dan pemimpin gereja GMS yang melayani sebagai Gembala Regional Jawa Timur, Bali, Kepulauan Nusa, dan Australia, serta berbasis utama di GMS Bali.
Bacaan utama dari I Samuel 15, saat Saul ditolak menjadi raja. Sorotan ada pada ayat 9, mencatat ketidaktaatan Raja Saul kepada Allah karena menyelamatkan Raja Agag, memilih ternak terbaik, dan menolak menumpas segalanya.
”Saul adalah pilihan utama Tuhan, tapi bahaya menjadi orang yang dipercaya Tuhan tapi tak mendengarkan,” ingatnya.
Di ayat 20-21, Saul mengelak dari perbuatannya.
Lalu kata Saul kepada Samuel: ”Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas.
Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal.”
Telinga untuk mendengar
Tak ada yang salah dengan pemakaian Tuhan. Tapi, menjadi salah jika kita tidak sungguh-sungguh. Di sini jadi pertanyaan, apakah kita punya telinga untuk mendengar?
”Penting untuk menjaga karakter,” pesan Pastor Samuel.

Beberapa poin dari Firman Tuhan pagi ini.
Pertama, Saul lebih takut kehilangan penerimaan manusia daripada kehadiran Tuhan
Berkatalah Saul kepada Samuel: ”Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka.” (24)
Pemimpin yang baik selalu bertanya apa yang Tuhan inginkan untuk saya kerjakan, bukan apa yang mebuat orang lain senang
”Sebagai seorang pemimpin kita harus lebih mempertimbangkan hati Tuhan, daripada mengambil hati manusia dengan melakukan kebijakan populis,” ujarnya.
Dalam hal ini Saul mengalami bahaya takut akan ditolak, haus popularitas, dan selanjutnya mengambil keputusan berdasar opini.
”Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin mudah tergoda untuk mendapatkan tepuk tangan manusia. Pemimpin yang baik harus lebih takut mengecewakan Tuhan daripada kehilangan dukungan manusia,” simpul Samuel.
Kedua, Saul menggantikan ketataan dengan pembenaran. Ia tak mau disalahkan. Karena itu, jaga karakter dengan sunggguh-sungguh. Jangan selalu memberikan alasan untuk membenarkan diri kita
Ketiga, Saul lebih sibuk menjaga reputasi daripada pertobatan
”Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN, Allahmu.” I Samuel 15:30.
Semakin dipakai Tuhan, harusnya kita semakin rendah hati.
Keempat, Saul kehilangan hati yang mau bertumbuh. Semakin lama kita menjadi pemimpin, kita bisa menjadi semakin sulit dinasihati. Untuk itu, pelajaran pemimpin besar: kita mau dimuridkan seumur hidup, karena kita juga manusia.
“Orang sombong membuat dia tak bisa bertumbuh. Pengurapan memberi kesempatan, tapi karakter akan menentukan apakah seseorang akan tetap dipakai Tuhan,” pungkas Samuel.


