Ghost In The Cell: Jaminan Kualitas Film Joko Anwar

Kemarin, di sela-sela kuliah di kampus Atma Jaya BSD, melempar pertanyaan ke mahasiswa, “Apa film terakhir di Netflix yang ditonton?”

Seorang mahasiswi menjawab, “Ghost In The Cell.”

Saya membalas, “Oh, Vino Bastian ya. Saya nonton dua kali di bioskop.”

Langsung direvisi, ”Bukan, Pak. Itu Miracle in Cell No 7. Ini Ghost In The Cell-nya Joko Anwar.”

Seketika langsung teringat saat jelang rilis film ini, April 2006. Ada bus yang sengaja ditempel iklan promo ‘Ghost In The Cell‘. Dan, Sabtu pagi ini, saya menuntaskannya di layar Netflix.

Inilah film ke-27 Joko Anwar, berdurasi 106 menit, dengan latar Lapas Labuhan Angsana. LSF mencatatnya sebagai horor-thriller/misteri bertema balas dendam arwah, sementara berbagai ulasan menekankan lapisan komedi dan satire sosialnya.

Jelas salah satu unsur keren ‘Ghost In The Cell‘ karena film ini bertabur bintang. Ada Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, Lukman Sardi, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Morgan Oey, Arswendy dan tokoh utama jurnalis yang terjebak masuk penjara: Endy Arfian.

Dalam Ghost in the Cell, kita memang disuguhi hantu, kematian misterius, darah, tubuh yang bergelimpangan dan teror yang datang dari sesuatu yang tak kasatmata. Tetapi semakin film berjalan, semakin terasa bahwa hantu bukanlah persoalan paling menakutkan.

Yang lebih mengerikan adalah manusia yang memiliki kekuasaan. Atau lebih tepat lagi: manusia yang memiliki kekuasaan tetapi kehilangan rasa takut kepada hukum, kehilangan rasa malu, dan kehilangan perasaan bersalah.

Film ini mengambil latar sebuah lembaga pemasyarakatan. Di sana, para narapidana hidup dalam ruang yang sesak, keras dan penuh kekerasan. Ada geng-geng yang saling bermusuhan. Ada petugas yang menyalahgunakan kewenangan. Ada permainan kepentingan. Ada ketidakadilan.

Lalu datang Dimas, seorang napi baru. Sejak kedatangannya, muncul serangkaian kematian misterius. Jurnalis yang meliput pembalakan liar di Kalimantan. Hutan dibabat demi menjadi pabrik nikel.

Sejak kedatangan Dimas, satu demi satu penghuni lapas tewas dengan cara mengerikan. Sosok yang tidak terlihat seolah-olah sedang melakukan pembalasan. Persis dengan cara mengerikan matinya bos media Dimas.

Di sinilah Joko Anwar mulai bermain. Kalau kita hanya melihat Ghost in the Cell sebagai film tentang hantu yang meneror penjara, kita mungkin kehilangan separuh kenikmatan film ini.

Miniatur masyarakat

Penjara dalam film ini sesungguhnya adalah miniatur masyarakat. Joko Anwar seolah menjelaskan bahwa penjara dipakai sebagai metafora kehidupan sosial.

Maka pertanyaannya kemudian bukan cuma: Siapa hantunya?

Tetapi mengapa sebuah sistem sampai membutuhkan hantu untuk menghukum orang-orang yang seharusnya bisa dihukum oleh hukum?

Dan di situlah film ini menjadi menarik.

Bertabur bintang, tetapi tidak sekadar bertabur nama

Salah satu kekuatan Ghost in the Cell adalah jajaran pemainnya. Tapi, ini bukan film yang bergantung pada satu aktor utama saja.

Para aktor seperti membentuk sebuah parlemen kecil di dalam penjara. Ada yang berkuasa. Ada yang ditindas. Ada yang oportunis. Ada yang mencoba bertahan hidup. Ada yang berusaha mencari kebenaran. Dan ada yang tahu bahwa dalam sebuah sistem yang rusak, moralitas kadang menjadi barang mewah.

Abimana Aryasatya tampil sebagai Anggoro, seorang napi yang berada dalam posisi konflik dengan kepala lapas. Bront Palarae -aktor asal negeri jiran Malaysia- menjadi Jefri, sosok penguasa di balik jeruji. Endy Arfian menjadi Dimas, mantan jurnalis yang masuk penjara dan kemudian terseret ke dalam misteri kematian para napi.

Yang menarik, Joko Anwar tidak membuat penjara menjadi sekadar lokasi. Ia menjadikan penjara sebagai laboratorium kekuasaan.

Penjara atau Indonesia?

Di sinilah satire film ini terasa. Lapas Labuhan Angsana seperti Indonesia dalam ukuran mini.

Ada aturan. Ada pejabat. Ada aparat. Ada bawahan. Ada orang kuat. Ada orang lemah. Ada transaksi. Ada kelompok-kelompok kepentingan. Ada privilese. Dan, tentu saja, ada mereka yang selalu merasa hukum hanya berlaku untuk orang lain.

Film ini seperti ingin bertanya: Apa bedanya penjara dengan masyarakat jika hukum bisa dinegosiasikan?

Di dalam penjara, orang dikurung karena melanggar hukum. Tetapi bagaimana kalau orang yang seharusnya menegakkan hukum justru bermain-main dengan kekuasaan?

Bukankah saat itu penjaranya sudah keluar dari gedung? Ia masuk ke dalam sistem. Ia masuk ke dalam birokrasi.

Ia masuk ke dalam politik. Dan akhirnya masuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

Korupsi: Ketika jabatan berubah menjadi mesin ATM. Salah satu kritik yang paling terasa adalah soal korupsi.

Dalam Ghost in the Cell, kekuasaan tidak digambarkan sebagai sesuatu yang luhur. Kekuasaan justru terlihat seperti sesuatu yang bisa diperdagangkan. Ada orang yang mendapatkan kewenangan bukan untuk melayani, tetapi untuk mendapatkan keuntungan. Ada jabatan yang seharusnya menjadi amanah, tetapi berubah menjadi peluang.

Dan di sinilah satire Joko Anwar terasa pedas: Korupsi bukan sekadar mengambil uang negara. Korupsi adalah ketika seseorang mulai menganggap fasilitas jabatan sebagai hak pribadi.

Mobil dinas menjadi mobil keluarga. Kewenangan menjadi alat menekan bawahan. Aturan menjadi alat tawar-menawar. Hukum menjadi pintu yang bisa dibuka dan ditutup sesuai kepentingan.

Kalau sudah begini, siapa sebenarnya yang menjadi penjahat? Orang yang berada di balik jeruji? Atau orang yang memegang kunci jeruji?

Film ini juga menarik ketika dibaca dalam konteks politik. Joko Anwar tidak harus menyebut nama partai politik tertentu untuk membuat penonton menangkap sindirannya.

Politik digambarkan sebagai dunia yang penuh kepentingan. Hari ini bisa menjadi lawan. Besok menjadi kawan. Hari ini saling mencaci. Besok duduk satu meja. Sebab dalam politik, yang abadi bukan permusuhan. Yang abadi adalah kepentingan.

Itulah salah satu ironi terbesar yang terasa dari film ini. Bahkan di dalam penjara pun terbentuk politik. Ada kelompok. Ada aliansi. Ada pemimpin. Ada pengikut. Ada yang menjadi korban. Ada yang menjadi broker. Ada yang memilih diam karena diam lebih aman. Bukankah itu juga yang sering terjadi di luar penjara?

Maka mungkin Joko Anwar sedang mengatakan: Jangan terlalu cepat menertawakan politik para napi. Bisa jadi politik di luar penjara tidak jauh berbeda. Bedanya hanya jasnya lebih bagus.

Partai politik dan penyakit “orang sendiri”

Salah satu penyakit politik yang paling sulit diberantas adalah politik kelompok. Kalau yang salah adalah lawan, kita berteriak. Kalau yang salah adalah kawan sendiri, kita mencari alasan. Kalau yang melakukan korupsi adalah orang dari kubu sebelah, kita menyebutnya bukti kebobrokan sistem.

Tetapi kalau yang melakukannya adalah orang sendiri, tiba-tiba kita menjadi ahli mencari konteks. Ghost in the Cell terasa relevan dengan absurditas semacam itu.

Sebab dalam sistem yang rusak, kebenaran sering kali tidak ditentukan oleh apa yang benar. Kebenaran ditentukan oleh: siapa yang punya kekuasaan. Dan siapa yang punya cukup banyak teman.

Selamat menonton!

https://youtu.be/otL78_pk_A0?si=LK7o1SzrJ6-p8YaC

Leave a Reply

Your email address will not be published.