Namaku Alam: Ketika Sejarah Menjadi Beban Seorang Anak

Saya mengenal Leila S. Chudori. Menggemari juga karya-karyanya.

Mbak Leila menjadi mentor pada penerimaan calon reporter baru Tempo, Oktober 2006. Meminta carep Tempo menonton film All The President’s Men -kisah duo jurnalis Amerika membongkar Skandal Watergate, dan mendiskusikannya.

Kemudian, saya juga menjadi penggemar karyanya. TV Series -janganlah disebut sinetron- ‘Dunia Tanpa Koma’. Lalu novel-novel berlatar ‘kuminis‘: Pulang,  maupun penculikan di akhir Orde Baru, ‘Laut Bercerita’. Semua novel yang dibumbui adegan percintaan ‘tipis-tipis‘. Kali ini, Namaku Alam, juga berlatar kisah getir dampak tragedi komunisme dan perang panjang setelah itu.

Novel ini menghadirkan Segara Alam—yang akrab dipanggil Alam—sebagai seorang anak muda yang tumbuh dengan membawa sejarah keluarganya. Ia bukan sekadar sedang mencari jati diri seperti anak muda pada umumnya. Alam juga harus berhadapan dengan pertanyaan yang jauh lebih berat: siapa sebenarnya dirinya, ketika masa lalu keluarganya ikut menentukan bagaimana orang lain memandangnya?

Alam adalah putra Dimas Suryo, jurnalis, pengikut Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang ditembak mati aparat. Jika Pulang banyak bercerita tentang generasi yang terusir dan kehilangan tanah air, Namaku Alam membawa kita melihat persoalan itu dari perspektif generasi berikutnya.

Alam tidak mengalami langsung berbagai pergolakan politik yang menimpa ayahnya. Ia lahir kemudian. Tiga tahun setelah 1965. Tetapi sejarah itu tetap hadir dalam kehidupannya. Masa lalu orang tuanya menjadi semacam bayangan yang terus mengikuti langkahnya.

Ia harus memahami bahwa identitas seseorang ternyata tidak selalu dibentuk oleh pilihan dirinya sendiri. Kadang-kadang, ia juga dibentuk oleh sejarah yang diwariskan kepadanya.

Namun Alam bukan tokoh yang hanya pasrah pada keadaan.

Ia tumbuh sebagai anak muda yang mencoba memahami dunia dengan caranya sendiri. Ada pencarian, kebingungan, kemarahan, cinta, persahabatan, dan berbagai proses pendewasaan yang membuat tokoh Alam terasa dekat dengan kehidupan kita.

Justru di situlah kekuatan Leila Chudori. Sejarah tidak disajikan seperti buku pelajaran. Tidak ada kesan sedang menggurui pembaca tentang politik atau masa lalu Indonesia. Sejarah hadir melalui manusia: melalui hubungan ayah dan anak, keluarga, persahabatan, cinta, bahkan luka yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Sejarah ternyata bukan hanya tentang tanggal dan nama. Sejarah adalah tentang manusia yang pernah mengalaminya.

Bagi saya, salah satu hal menarik dari Namaku Alam adalah pertanyaan tentang hubungan anak dengan masa lalu orang tuanya.

Apakah seorang anak harus menanggung kesalahan orang tuanya? Tentu tidak. Tetapi apakah seorang anak bisa begitu saja melepaskan diri dari sejarah keluarganya?

Ternyata juga tidak sesederhana itu. Alam harus belajar menerima bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah kisah yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Tetapi pada saat yang sama, ia juga mempunyai hak untuk menentukan siapa dirinya dan bagaimana ia ingin menjalani hidupnya.

Ini menjadi pesan yang terasa sangat relevan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering membawa “warisan” dari keluarga. Bisa berupa nama baik, harapan, luka, nilai-nilai, bahkan persoalan yang belum selesai.

Ada anak yang merasa harus meneruskan prestasi orang tuanya. Ada yang merasa harus memperbaiki kesalahan generasi sebelumnya. Ada pula yang justru ingin berjalan ke arah yang sama sekali berbeda.

Hak menulis setiap generasi

Pada akhirnya, menjadi dewasa mungkin memang berarti belajar berdamai dengan masa lalu tanpa harus hidup di dalamnya. Namaku Alam juga mengingatkan bahwa setiap generasi mempunyai hak untuk menulis ceritanya sendiri.

Alam adalah anak dari sebuah sejarah. Tetapi ia bukan sekadar produk dari sejarah itu. Ia adalah manusia dengan pilihan-pilihannya sendiri. Dan mungkin, itulah inti perjalanan Alam: mengenal masa lalu, memahami keluarganya, tetapi pada akhirnya menemukan namanya sendiri.

Karena nama bukan hanya sesuatu yang diberikan orang tua. Nama juga adalah sesuatu yang perlahan-lahan kita isi dengan pilihan, keberanian, kesalahan, cinta, dan perjalanan hidup kita sendiri.

Membaca Namaku Alam membuat saya kembali pada satu kesadaran sederhana:

Kita memang tidak bisa memilih dari keluarga dan sejarah seperti apa kita dilahirkan. Tetapi kita selalu punya kesempatan untuk memilih akan menjadi manusia seperti apa kita kelak. Dan mungkin, di situlah Alam menemukan makna sesungguhnya dari namanya. Termasuk masa lalu yang membelenggu kisah cintanya dengan Dara Ariani.

Leave a Reply

Your email address will not be published.