Manado bukan hanya tentang Bunaken, bubur tinutuan, atau keramahan masyarakatnya. Di sebuah bukit kawasan CitraLand, berdiri sosok Yesus Kristus dengan kedua tangan terentang, seolah sedang turun dari langit untuk memberkati kota.
Sebuah monumen yang bukan sekadar menawarkan kemegahan arsitektur, melainkan juga kisah tentang iman, rasa syukur, dan harapan.
Dalam kunjungan ke Manado, Sulawesi Utara, Oktober 2026, saya menyempatkan diri mendatangi salah satu ikon kota yang paling mudah dikenali: Monumen Tuhan Yesus Memberkati.
Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke Manado, monumen ini memang pantas masuk daftar kunjungan. Bukan hanya karena ukurannya yang menjulang tinggi, tetapi juga karena bentuknya yang berbeda dari kebanyakan patung Yesus di berbagai belahan dunia.
Jika patung Christ the Redeemer di Rio de Janeiro, Brasil, menampilkan Yesus berdiri tegak dengan kedua tangan terbentang, patung di Manado justru menggambarkan Yesus dalam posisi condong ke depan, seolah melayang turun dari langit.
Kedua tangannya terulur dalam gestur memberkati. Jubahnya tampak berkibar seakan tertiup angin. Dari sudut tertentu, kita seperti melihat sosok Yesus sedang bergerak menghampiri manusia.
Menariknya, monumen ini tidak berdiri di pusat kota atau halaman gereja, melainkan di kawasan perumahan CitraLand, Winangun, Manado. Di atas perbukitan, dengan panorama kota dan laut sebagai latarnya.
Ada kesan yang sulit diabaikan: di tengah hiruk-pikuk kehidupan manusia, monumen ini menghadirkan simbol kehadiran Tuhan yang seolah tidak pernah jauh.

Dari Gagasan Ciputra Menjadi Ikon Manado
Kisah berdirinya Monumen Tuhan Yesus Memberkati tidak dapat dipisahkan dari sosok mendiang Ciputra atau yang akrab dikenal sebagai Pak Ci. Pengusaha properti kelahiran Sulawesi Tengah ini bukan hanya dikenal sebagai pengembang berbagai kawasan perumahan dan pusat bisnis di Indonesia. Ia juga memiliki kecintaan besar terhadap seni, termasuk seni patung.
Gagasan membangun monumen ini muncul pada Agustus 2005, ketika Ciputra mengunjungi proyek perumahan CitraLand di Manado. Ciputra saat itu berada di sebuah kavling yang semula disiapkan untuk kepentingan keluarga. Di lokasi tersebut, ia berdoa bersama sejumlah rekannya.
Dari peristiwa itulah berkembang gagasan untuk mendirikan sebuah monumen religius yang dapat menjadi persembahan rasa syukur sekaligus ikon baru Kota Manado: Citraland Winangun Manado. Keinginan Ciputra bukan sekadar membangun patung yang besar dan megah. Ia ingin menghadirkan simbol kasih Tuhan kepada manusia.
Setelah melalui proses perencanaan dan pembangunan, monumen tersebut akhirnya diresmikan pada 2 November 2007 oleh Gubernur Sulawesi Utara saat itu, Sinyo Harry Sarundajang.
Dengan demikian, pada Oktober 2026, monumen ini telah berdiri hampir 19 tahun. Sebuah perjalanan panjang bagi karya seni yang kemudian menjadi salah satu penanda visual paling terkenal dari Kota Manado.
Dari sisi arsitektur, Monumen Tuhan Yesus Memberkati memiliki keistimewaan tersendiri.
Tinggi keseluruhan bangunannya mencapai sekitar 50 meter, terdiri dari patung Yesus setinggi 30 meter dan struktur penopang sekitar 20 meter.
Monumen ini dibangun menggunakan material logam dan baja, dengan konstruksi yang dirancang untuk menopang sosok patung dalam posisi condong ke depan.
Sejumlah publikasi menyebut kemiringan patung sekitar 20 hingga 35 derajat. Terlepas dari perbedaan angka tersebut, yang jelas bentuknya menciptakan ilusi visual bahwa Yesus sedang melayang.
Pada Desember 2007, monumen ini juga memperoleh pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas ukuran dan keunikannya pada masa itu, sebagai patung Yesus tertinggi di Asia dan Eropa. Sebelumnya, rekor patung Yesus tertinggi ada di timur Lorosae dengan ketinggian 27 meter
Uniknya, ada kesan bahwa Tuhan tidak hanya menunggu manusia datang kepada-Nya, melainkan justru bergerak mendekat, menyambut, dan memberikan berkat.
Sebuah pesan teologis yang diterjemahkan ke dalam karya seni. Dan menariknya, pesan itu dapat dipahami tanpa harus membaca penjelasan panjang lebar. Cukup dengan memandang patungnya.

Bagaimana Kondisi Monumen Sekarang?
Hampir dua dekade setelah diresmikan, Monumen Tuhan Yesus Memberkati tetap menjadi salah satu landmark wisata religi Manado.
Kawasan perumahan CitraLand yang menjadi lokasi monumen ini berkembang sebagai bagian dari lanskap perkotaan Manado. Sementara patung Yesus yang berdiri di atas bukit tetap menjadi penanda yang mencolok dari kejauhan.
Pengunjung dapat menikmati keindahan monumen dari beberapa sudut, dengan latar pemandangan Kota Manado, perbukitan, dan kawasan pesisir.
Di kawasan monumen juga dikenal fasilitas Jalan Salib dan Plaza Getsemani, yang menambah dimensi spiritual tempat ini.
Bagi wisatawan, kegiatan paling sederhana tentu saja berfoto dengan latar belakang patung. Namun, monumen ini juga menjadi tempat orang mencari suasana tenang.
Meski demikian, sebagai destinasi wisata, ada beberapa hal yang patut diperhatikan.
Karena berada di dalam kawasan perumahan, akses menuju titik tertentu di sekitar monumen dapat bergantung pada pengaturan keamanan setempat. Sejumlah ulasan pengunjung juga menyinggung keterbatasan fasilitas wisata dan titik pengambilan foto.
Saya meninggalkan kawasan Monumen Tuhan Yesus Memberkati dengan satu pemikiran:
Alangkah indahnya jika sebuah kota tidak hanya dikenal karena bangunan-bangunannya yang megah, tetapi juga karena masyarakatnya yang saling memberkati melalui tindakan nyata.
Sebab, pada akhirnya, berkat yang paling bermakna bukanlah yang sekadar kita harapkan turun dari langit.
Melainkan yang kita teruskan kepada sesama manusia.

