GMS 1 November, Doa di Masa Krisis: Doa Habakuk

Pekan pertama, Pastor Philip Mantofa memimpin ibadah streaming GMS. Temanya paralel sama, ‘Doa di Masa Krisis’. Dari GMS Central Park, Jakarta Barat, mengikuti sesi bertopik ’Doa Habakuk’.

Sandaran Firman Tuhan dari Habakuk 3:16-19. Pastor Philip menekankan, anak-anak Tuhan harus kuat, karena kita memegang janji Tuhan.

”Doa Habakuk ini interesting, karena ia ada dalam keadaan seperti kita. Habakuk tinggal di zaman Israel mengalami masa suram. Six seven, atau sebelas dua belaslah dengan kondisi saat ini,” kata Philip.

Secara khusus, Habakuk 3:16 menjadi sorotan.

”Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami…”

Pastor Phiip Mantofa menekankan, siapa bilang iman itu diikuti dengan absennya rasa takut? Nabi Habakuk saja tetap gemetar hingga menggigil.

”Jangan anggap masalahmu itu musuhmu. Anggaplah masalah itu sebagai ’sparring partnermu’. Apa yang dunia bilang ‘What doesn’t kill you, make you stronger; itu ada benarnya juga,” ungkapnya.

Pastor Philip mengingatkan, ”Gunakan kekuatanmu, hai lima roti dan dua ikan. Jangan menyerah, jangan quit dulu. Justru kalau kita tak takut kita tak butuh iman.”

Ditambahkannya, Habakuk adalah nabi yang sangat realistis. Ia mengakui kelemahannya. Admit for your fear, akui ketakutanmu. Meski tak harus disebar ke mana-mana.

“Doa itu ibarat treadmill, ibarat kerokan yang keluar merah darah, janganlah berdoa bergantung pada perasaan,” ucapnya.

Pastor Philip menekankan, when you cannot pray, you are truly defeated, jika kita tak bisa berdoa, maka kita benar-benar kalah.

“Mendingan saya babak belur tapi masih berdoa, karena babak belur saya masih bisa Tuhan koreksi. Kalau anda sudah tak bisa berdoa maka anda sudah tak biaa bernafas,” tegasnya.

Berdoa dalam ketekunan

Kembali ditegaskan, kalau orang punya roh yang terus-menerus berdoa, ia tak akan bisa dikalahkan. Tekuni dalami imanmu. Tekun atau gigih, Bahasa Inggrisnya: perseverance, dari kata severe, parah.

”Kita tak bisa tekun kalau tak parah. Seperti Abraham menanti janji hadirnya Ishak. Orang ini menemukan sumber kekuatannya dan sumber kekuatannya adalah Tuhan. Jangan kau kaitkan sukacitamu dengan keadaanmu, karena keadaan itu silih berganti,” jelasnya.

Pastor Philip menggarisbawahi, kita harus belajar untuk mengasihi Tuhan tanpa syarat sebagaimana Ia mengasihi kita tanpa syarat. Maka, apa yang manusia gagal beri, Ia akan berikan langsung padamu.

”Karena sukacitanya tak ditaruh di brankas dunia, tapi di ’save deposit box’ Ilahi dengan jangkar amat kuat. Dan, Anda tak harus jadi pendeta untuk punya hubungan seperti itu,” ungkapnya.

Pastor Philip pun menganalogikan jenis rusa ‘mountain goat’, memiiki kaki bercabang dua, sehingga bisa meloncat tinggi tanpa takut jatuh.

”Kaki kita bermata dua, sudah jelas arahnya ke mana. Kok bisa rusa itu  memanjat tebing tinggi-tinggi. Kemungkinan, karena hati mereka besar di saat berada dalam ketinggian. Orang yang berdoa di masa susah, saat ia berdoa di masa krisis, hatinya diperbesar,” tukasnya.

Kita harus tekun berdoa, terus berdoa meski melalui lembah dan melalui bahaya, maka nanti akan ada berkat yang masih menyusul. ”Jangan katakan aku tak bisa berdoa. Teruslah berada di jalur tepat, lanjutkan, teruskan. Kekuatan Tuhan akan membawamu ke berkat-berkat susulan, karena rencana Tuhan tak akan gagal,” kata Phiiip.

Tiga pesan dari Doa Habakuk:

Pertama, Akui dan serahkanlah rasa takut kita kepada Tuhan.

Kedua, Janganlah menggantungkan sukacita kita pada keadaan, tapi dalam Tuhan.

Ketiga, Andalkanlah kekuatan Tuhan untuk terus melangkah maju.

”Percayalah, akan ada berkat susulan.Lakukan bagianmu dan Tuhan akan tunjukkan kemuliaanNya,” pungkasnya.

Selengkapnya di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.