Ada sebuah tulisan berukuran besar yang cukup mencolok di Jlaan Boulevard Dua, Kelurahan Sindulang, Kecamatan Tuminting, Kota Manado. Huruf-huruf kapital berwarna putih itu tersusun membentuk kalimat: Manado Kota Doa.
Sederhana, tetapi pesannya kuat.
Saya menyempatkan diri berfoto di depan signage tersebut ketika berkunjung ke Manado, Oktober 2026. Berdiri dengan kedua tangan terbentang, rasanya seperti ikut menyambut sebuah pesan yang ingin disampaikan kota ini kepada siapa saja yang datang berkunjung.
Manado bukan hanya kota wisata dengan keindahan laut, pantai, dan pesona Bunaken. Manado juga ingin dikenal sebagai kota yang kehidupan masyarakatnya dekat dengan nilai-nilai spiritualitas dan kerukunan antarumat beragama.
Tulisan besar itu bukan sekadar penanda tempat untuk berfoto atau latar belakang selfie wisatawan. Di baliknya, ada sebuah gagasan tentang bagaimana sebuah kota seharusnya dibangun: bukan hanya dengan infrastruktur, gedung, jalan, dan pusat ekonomi, tetapi juga dengan kekuatan moral dan spiritual masyarakatnya.
Berawal dari sebuah perjalanan spiritual
Sebutan Manado Kota Doa memiliki cerita tersendiri.
Pencanangan Manado sebagai Kota Doa dilakukan pada Rabu, 28 November 2018, di kawasan God Bless Park atau Taman Berkat, Jalan Pierre Tendean Boulevard, Manado.
Saat itu, Wali Kota Manado GS Vicky Lumentut bersama Wakil Wali Kota Mor Bastiaan mencanangkan Manado sebagai kota berdoa. Kegiatan tersebut melibatkan para pemimpin agama, tokoh masyarakat, dan jajaran pemerintah kota.
Gagasan tersebut terinspirasi dari perjalanan spiritual Vicky Lumentut bersama sejumlah tokoh agama ke Turki, Palestina, dan Israel.
Dalam perjalanan itu, mereka menyaksikan kehidupan masyarakat dengan latar belakang agama yang berbeda. Pengalaman tersebut memberikan refleksi bahwa perbedaan agama tidak harus menjadi alasan bagi manusia untuk saling bermusuhan.
Justru, perbedaan bisa menjadi ruang untuk membangun penghormatan dan persaudaraan.
Dari pengalaman itulah muncul keinginan untuk memperkuat kehidupan beragama yang rukun di Manado. Kota yang sejak lama dikenal memiliki masyarakat dengan latar belakang agama, suku, dan budaya yang beragam.
Ada hal menarik dari konsep Manado Kota Doa.
Gagasan tersebut tidak berhenti pada pencanangan atau pemasangan slogan. Pemerintah Kota Manado bersama para pemimpin agama yang dikoordinasikan melalui Badan Kerja Sama Antarumat Beragama (BKSAUA) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) mendorong sebuah gerakan doa bagi kota.
Salah satu wujudnya adalah kegiatan berdoa setiap tanggal 1 pada awal bulan.
Pada hari tersebut, rumah-rumah ibadah seperti gereja, masjid, pura, dan wihara dibuka bagi umat masing-masing untuk berdoa. Masyarakat diajak memanjatkan doa bagi keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan Kota Manado, Sulawesi Utara, serta Indonesia.
Bayangkan pesan yang ingin dibangun melalui gerakan ini.
Ketika umat Kristiani berdoa di gereja, umat Islam berdoa di masjid, umat Hindu di pura, dan umat Buddha di wihara, semuanya memiliki tujuan yang sama: memohon kebaikan bagi kota tempat mereka tinggal.
Mungkin cara berdoanya berbeda. Bahasa, tata cara ibadah, dan keyakinannya pun tidak sama. Namun, ada satu titik temu yang ingin dirawat, yakni harapan agar Manado senantiasa menjadi kota yang aman, damai, dan sejahtera.
Di sinilah filosofi Kota Doa menemukan maknanya.
Religius tanpa harus eksklusif
Bagi saya, hal paling menarik dari identitas Manado Kota Doa adalah pesan pluralisme yang terkandung di dalamnya.
Kota yang religius bukan berarti hanya menjadi milik satu kelompok agama. Sebaliknya, religiusitas semestinya menjadi energi yang mendorong masyarakat untuk saling menghormati, mengasihi, dan membantu tanpa memandang perbedaan keyakinan.
Doa juga bukan hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Doa seharusnya tercermin dalam hubungan antarmanusia.
Orang yang rajin berdoa semestinya juga menjadi orang yang lebih peduli terhadap sesamanya. Orang yang berbicara tentang kasih semestinya mampu menunjukkan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula orang yang mengajarkan kedamaian harus menjadi bagian dari upaya menjaga kedamaian itu sendiri.
Dalam konteks masyarakat Manado, semangat ini sejalan dengan filosofi Minahasa yang sangat dikenal, yakni Si Tou Timou Tumou Tou.
Ungkapan yang sering dikaitkan dengan Sam Ratulangi ini bermakna manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain.
Sebuah filosofi yang relevan dengan semangat Kota Doa. Bahwa kehidupan beragama seharusnya membuat manusia semakin menghargai martabat manusia lainnya.
Sebab, apa artinya berdoa memohon kedamaian jika dalam kehidupan sehari-hari kita justru gemar menyebarkan kebencian?
Apa artinya meminta Tuhan memberkati kota jika kita sendiri tidak mau menjadi berkat bagi orang lain?
Bukan sekadar tulisan besar
Kembali melihat signage ’Manado Kota Doa’, saya merasa tulisan tersebut menyimpan sebuah pesan sekaligus tantangan.
Menjadi Kota Doa tidak cukup hanya dengan memiliki slogan yang besar, dicat dengan huruf yang menarik, lalu dijadikan latar belakang foto wisatawan.
Identitas itu harus hidup dalam keseharian masyarakatnya.
Ia harus terlihat ketika warga yang berbeda agama saling menghormati hari raya masing-masing. Terlihat ketika masyarakat bergotong royong tanpa bertanya apa agama tetangganya. Terlihat ketika pemerintah memberikan pelayanan secara adil kepada seluruh warga. Dan terlihat ketika perbedaan tidak dijadikan alasan untuk saling mencurigai.
Bagi sebuah kota yang terus berkembang, tantangan menjaga kerukunan tentu tidak ringan. Apalagi di tengah derasnya arus informasi dan media sosial yang terkadang justru memperbesar prasangka serta mempertajam perbedaan.
Karena itu, semangat Manado Kota Doa harus terus dirawat. Tidak boleh berhenti sebagai program pemerintah pada satu periode kepemimpinan, melainkan menjadi nilai bersama yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, doa terbaik bagi sebuah kota bukan hanya doa yang dipanjatkan di rumah-rumah ibadah. Doa itu juga harus diwujudkan melalui tindakan nyata masyarakatnya.
Saya meninggalkan tempat ini dengan sebuah pemikiran sederhana.
Kota yang baik bukan hanya kota yang memiliki banyak tempat ibadah, tetapi kota yang membuat setiap orang merasa aman untuk beribadah dan hidup berdampingan dengan sesamanya.
Manado ingin menjadi kota seperti itu.
Sebuah kota yang tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kerukunan warganya.
Manado Kota Doa. Semoga bukan hanya menjadi tulisan besar yang terlihat oleh mata, tetapi juga menjadi nilai yang sungguh-sungguh hidup di hati setiap warganya.

