Berdiri di tengah kemegahan Forbidden City atau Kota Terlarang di Beijing, Tiongkok, rasanya seperti diajak kembali melintasi lorong waktu.
Kompleks istana yang dibangun pada masa Dinasti Ming, sekitar tahun 1406–1420 ini menjadi pusat pemerintahan kekaisaran Tiongkok selama hampir lima abad, sekaligus saksi perjalanan Dinasti Ming dan Qing.
Di balik tembok-tembok merah, gerbang megah, atap berwarna keemasan, dan halaman istana yang begitu luas, tersimpan cerita tentang kekuasaan, kepemimpinan, kejayaan, sekaligus pasang surut sebuah peradaban besar.
Datang ke Tiongkok sebagai Ketua Bidang Media dan Komunikasi DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), kunjungan ini bukan sekadar perjalanan wisata untuk menikmati keindahan bangunan bersejarah.
Ada pelajaran menarik yang bisa dipetik: sebuah bangsa dibangun bukan hanya dengan kekuasaan, tetapi juga dengan warisan sejarah, kebudayaan, identitas, dan kemampuan menjaga nilai-nilai peradabannya.
Sejarah juga mengajarkan bahwa sebesar apa pun sebuah kekuasaan, tidak ada yang abadi. Yang akan terus dikenang oleh generasi berikutnya adalah bagaimana sebuah kepemimpinan meninggalkan jejak dan memberikan makna bagi bangsanya.
Dari Forbidden City, Beijing, kita belajar bahwa mengenal sejarah adalah salah satu cara memahami masa depan.
Salam kebangsaan!
Video by: @immanuelwmx
Editing by: @yosafatocha

