Notice: Undefined index: host in /home/jojr5479/public_html/wp-content/plugins/wonderm00ns-simple-facebook-open-graph-tags/public/class-webdados-fb-open-graph-public.php on line 1020
Satu lagi gaya berkomunikasi Presiden Jokowi jadi bahasan. Nyleneh, unik, dan memancing untuk ‘digebuki’.
http://www.youtube.com/watch?v=eEpcLov5954
Ini bukan isu baru. Tapi beneran, saya baru tahu kemarin ada adegan dan video ini. Kudet (kurang update) banget ya? Tapi, gak papa deh, yang penting bagaimana mengambil fenomena itu dan menariknya dalam kajian komunikasi politik. Langsung saya jelajahi berbagai laman youtube untuk melihat peristiwa ini secara cermat.
Sosok kawan yang unik, ceria dan konsisten dalam kerja kerasnya. Jurnalis CNN Indonesia.com meninggal dunia di usia 37 tahun.
Kelmi di Anfield, Liverpool. Jalan-jalan hadiah juara lomba penulisan musik. (Foto dari Adib Hidayat).
Bicara tentang Kelmi, nama panggilan Helmi Firdaus, adalah bicara tentang malam-malam panjang. Kerap kali kami menghabiskan siang dan sore bersama, tapi lebih sering saat malam berjalan.
Kami tak ketemu di Universitas Airlangga, meski saya yang masuk Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP pada 1995 sebenarnya tak jauh dengannya sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 1997. Perkenalan dan kebersamaan banyak kami habiskan di tepi Lapangan Karanggayam, Surabaya, menyaksikan anak-anak muda nan kaya raya saat itu, para pemain Persebaya, berlatih dan bertanding. Selain Kelmi yang saat itu jurnalis Surabaya Post dan saya sebagai koresponden Tempo, gank kami antara lain: Amar Hamsyah dari tabloid olahraga Maestro yang kini ada di kantor Menpora, Billy Kompas yang kini jurnalis jagoan di KPK, Maruf El Rumi Jawa Pos yang kini di Koran Sindo dan rajin jadi komentator bola di MNC Group, serta Nanang Prianto Jawa Pos yang kini jadi Wapemred di medianya.
Aktivis komunitas suporter sepakbola Indonesia berpulang di usia muda. Mewariskan semangat melawan ketidakberesan persepakbolaan Indonesia.
Panji Kartiko di Kompas TV. Mengawal sepak bola Indonesia.
Amat kaget saat sepekan lalu mendapat kabar Panji Kartiko meninggal dunia. Ayah dua anak ini kini berada di peristirahatan abadi Tanah Kusir, Jakarta Selatan, setelah berjuang melawan penyakit lever. Sebuah pesan menyentuh diunggah di akun Facebook-nya 8 September lalu, foto bersama isteri dan dua puteranya, bertuliskan, “Semangat survival ini karena kalian…”
Saya mengenal Panji Kartiko sebagai seorang yang sangat mencintai sepakbola Indonesia. Perkenalan diawali saat memesan sebuah kaos bertuliskan ‘KORUPSSI’ sebagai simbol perlawanan pada PSSI era Nurdin Halid, lalu berlanjut interaksi di dunia media sosial. Sempat pula mengundang mantan Koordinator Pasoepati –kelompok suporter Solo- itu sebagai narasumber di dialog Kompas Petang Kompas TV, untuk topik ‘Mencari Solusi Kisruh Antar Suporter Sepakbola’. Continue reading “Selamat Jalan, Mas Panji…”
Seorang jurukamera televisi dari Hungaria ‘berperan’ saat meliput serbuan pengungsi dari Timur Tengah. Pemecatan menjadi buah dari tingkahnya.
Petra Lazlo memberi kita pelajaran berarti. Jurnalis televisi untuk situs berita Hungaria, N1TV, dipecat karena tingkahnya yang berlebihan. Tak hanya meliput pengungsi dari Suriah dan Irak yang menyerbu Eropa Timur, Lazlo juga melibatkan sentiment pribadinya.
Tak ada yang salah dengan eks pemain bola yang jadi tukang ojek atau sopir taksi. Semua profesi adalah mulia. Tapi, ada nilai berharga bisa dipetik dari kisah itu.
http://www.youtube.com/watch?v=fWwKR98P06o
Terhitung sejak 9 September 1948, saat Pekan Olahraga Nasional pertama dibuka Presiden Soekarno di Stadion Sriwedari, Solo, hari ini merupakan peringatan Hari Olahraga Nasional ke-67. Namun, alih-alih prestasi gemilang, dunia olahraga kita dihadapkan pada berbagai cerita sedih. Persoalan hari senja atlet, salah satu contohnya.
Ratusan ribu pengungsi dari Irak, Suriah, Afghanistan dan negara-negara lain di Asia bermigrasi ke Eropa. Mereka melintas Balkan demi Jerman sebagai tujuan. Tiga video liputan Arwa Damon CNN menceritakannya dari tiga perspektif berbeda.
http://www.youtube.com/watch?v=-cgIl7xGc5Y
Hari-hari ini, Eropa sedang dilanda krisis akibat serbuan manusia dari Timur Tengah yang mencoba mencari hajat hidup lebih baik. Mereka korban konflik dan pendudukan ISIS, menyeberang lewat Eropa Timur dan kawasan Mediteranian, menuju negara-negara Eropa Barat yang dirasa bakal memberi nasib lebih baik serta memiliki kebijakan terbuka terhadap migran. Sebenarnya, bagaimana status mereka ini masih dalam perdebatan serius, apakah migrant (orang yang menyeberang negara dan ingin hidup di negara itu), refugees (pengungsi sebagai korban), atau asylum seeker (pencari suaka).