Infotainmen, kamu butuh nggak, sih?

memoderatori diskusi dalam rangkaian hari jadi LPDS, dengan pembicara tokoh pers Leo Batubara, Ketua KPI Dadang Hidayat, pelopor infotainmen Ilham Bintang dan Wapemred Metro TV Makroen Sanjaya

Dunia penyiaran di Indonesia lagi seru-serunya menyoal soal infotainmen. Tahu kan, infotainmen merupakanprogram televisi yang mengupas kehidupan selebritis kita. Sebagai gabungan dari kata “informasi” dan “entertainmen”, infotainmen mencoba menghadirkan informasi dari dunia hiburan dengan kemasan yang santai.

Apa saja kegiatan para pesohor menjadi makanan empuk tayangan infotainmen, mulai urusan karir seperti peluncuran album dan film, konser musik, sampai aktivitas pribadi artis-artis itu. Pacaran, pernikahan, punya anak, perceraian, meninggal, sampai aneka gosip –pokoknya melibatkan selebritis- langsung menjadi sorotan kamera tayangan semacam Cek Ricek, Kabar-Kabari, Hot Shot, Kross Cek, Insert, Go Show, I Gosip, Status Selebritis, dan lain-lain. Meski sebagian masyarakat mencibir karena intotainmen dianggap menyuburkan gosip, nyatanya tayangan infotainmen sukses menembus share dan rating tinggi.

Continue reading “Infotainmen, kamu butuh nggak, sih?”

Setelah pesta usai (… dan Tuhan pun menangis)

Pesta sebulan penuh Piala Dunia ke-19 telah usai. Apa yang bisa kita petik selain kian melekatnya julukan sebagai “bangsa nobar”?

Sergio Ramos dkk mengangkat Piala Dunia yang mereka menangkan: ada peta Indonesia di piala itu? (foto by: yahoo.com)

Subuh tadi, setiap sudut negeri ini dimarakkan dengan hajatan nobar alias “nonton bareng” final Piala Dunia 2010 antara Belanda melawan Spanyol. Mulai dari gang-gang di perkampungan, lapangan, kelompok-kelompok sosial, sampai kediaman pribadi Presiden SBY di Puri Cikeas, Bogor, semua larut dalam kesukaan. Tak peduli puncak perhelatan sepakbola empat tahunan ini berlangsung pada Minggu malam alias esok harinya merupakan hari aktif kerja.

Memangnya, siapa yang bertanding di Stadion Soccer City, Johannesburg, belasan ribu kilometer dari tanah air kita? Bukan soal, apakah Belanda atau Spanyol, atau tim lain, tapi sepakbola sudah menjadi ajang paling pas bagi warga Indonesia untuk melupakan diri sejenak (moga-moga benar hanya sejenak) dari kesulitan yang ada. Untuk sementara, lupakan tarif listrik naik, ledakan kompor gas di mana-mana, pencurian uang pajak, membengkaknya tabungan perwira polisi, sampai pembacokan aktivis anti-korupsi.

Continue reading “Setelah pesta usai (… dan Tuhan pun menangis)”

Kebangkitan semu film Indonesia?

Terhitung Januari hingga Juni ini hanya ada 2 film lokal yang jumlah penontonnya menembus angka 500 ribu.

Pocong Keliling, genrenya campuran: horor, komedi dan seks.

Minggu ini saya kembali mendapat undangan menyaksikan premiere alias pemutaran perdana film Indonesia. Memang, saat ini gairah dunia layar perak sedang tinggi-tingginya, rata-rata dalam sepekan diluncurkan dua judul film baru. Pekan lalu misalnya, saya menghadiri dua konferensi pers dan premeire film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta serta Obama Anak Menteng. Pekan ini, saya hadir dalam peluncuran film Pocong Keliling –disingkat Poling, garapan Maxima Pictures yang peluncurannya digelar di FX, Senayan Jakarta. Adapun satu film lain yang rilis minggu ini yakni Istri Bo’ongan produksi Kanta Indah Film. Tapi, apakah banyaknya produksi film baru ini sudah menunjukkan bahwa film Indonesia telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri?

Poling berkisah tentang kepanikan sebuah kompleks perumahan di tengah kampung akibat isu munculnya pocong yang tiap malam mengetuk pintu dari rumah ke rumah. Hal ini menimbulkan masalah pada berbagai pihak, seperti pengembang yang jengkel rumahnya tak laku-laku, dan kacaunya jadwal selingkuh dua tetangga. Ada juga pasangan baru di kompleks yang terus menerus gagal menikmati malam pertama karena takut didatangi pocong. Saat itulah sepasang reporter televisi dan juru kamera berjuang meliput berita dan mendapatkan gambar pocong secara live, karena itu satu-satunya cara agar mereka berdua tidak dipecat.

Continue reading “Kebangkitan semu film Indonesia?”

Perlawanan Janda Balibo

Selain lewat film, tuntutan penyelesaian kasus terbunuhnya lima wartawan dalam Tragedi Balibo juga disuarakan lewat buku.

Kalau saja kita hanya mendengarkan audio di pengeras suara dan tak melihat wajahnya, Shirley Shackleton terasa jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Tekanan yang keluar dari suara perempuan itu menutupi usia sebenarnya yang hampir menyentuh 80 tahun. “Saya hanya ingin membantu sedikit dalam proses mencari keadilan,” kata janda Greg Shackleton, salah seorang dari lima wartawan yang meninggal dunia pada peristiwa Balibo, 35 tahun silam.

Shirley Shackleton dalam diskusi bedah bukunya di kantor Kontras Jakarta. Usut pelaku penembakan Balibo dan lawan sensor filmnya.

Rabu (7/7) siang itu, belasan wartawan duduk membentuk formasi huruf U di kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) di kawasan Menteng, Jakarta, untuk mendengarkan semangat Shirley yang meluncurkan bukunya berjudul “Circle of Silence”. Buku setebal 392 halaman ini dicetak 10 ribu eksemplar dan dalam waktu dekat terus digemakan ke beberapa negara Eropa. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengusahakan agar buku ini segera diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Continue reading “Perlawanan Janda Balibo”

Anekdot Piala Dunia: tak bisa menyamar

Felipe Melo, dituding sebagai biang kegagalan Brasil di Piala Dunia.

Begitu kalah dari Belanda di perempatfinal Piala Dunia Afrika Selatan dengan skor 1-2, para pemain Brasil malu bukan kepalang. Impian merebut gelar juara dunia keenam pupus sudah. Mereka pun mendarat di Rio de Janeiro-Galeão International Airport dengan muka tertunduk dan wajah pucat.

Alhasil, dalam kehidupan sehari-hari, sembari menunggu kompetisi Seri A kembali bergulir di Italia Agustus nanti, Felipo Melo memutuskan untuk melakukan penyamaran agar tidak digebuki oleh masyarakat Brazil yang kecewa. Felipo Melo merupakan gelandang Brasil asal klub Juventus yang dianggap sebagai biang kekalahan karena mendapat kartu merah dalam laga melawan Belanda. Continue reading “Anekdot Piala Dunia: tak bisa menyamar”

Bedah Film: Menguak masa kecil mister presiden

Mulai Kamis, 1 Juli, bertambah satu lagi film berkualitas karya anak negeri diputar di gedung bioskop kota besar Indonesia. Obama Anak Menteng (Little Obama),itulah judul film berdurasi 90 menit untuk mengenalkan kepada dunia tentang masa kecil Barrack Obama, presiden ke-44 Amerika Serikat yang sempat menghabiskan masa-masa awal sekolah dasarnya di kawasan Menteng Dalam, Jakarta Pusat.

“Dua kata kunci dari film ini adalah memaafkan dan toleransi. KebijakanBarrack Obama di masa dewasa dipengaruhi kehidupan masa kecilnya di Indonesia,” kata John de Rantau.

with little obama
Hasan Faruq Ali, pemeran Barry alias Obama kecil, "Saya berharap, ini bukan film pertama sekaligus terakhir saya."

Film produksi Multivision Pictures ini disutradarai John de Rantau dan menampilkan bintang-bintang yang kebanyakan debutan, seperti Hasan Faruq Ali (berperan sebagai Barry Obama kecil, putra warganegara AS yang lama tinggal di Cinere, ibunya termasuk anggota grup musik “Debu”), Cara Lachelle (sebagai Ann Dunham, Ibu Obama), dan Eko Noah (sebagai Lolo Soetoro, ayah tiri Obama). Hanya ada nama Teungku Zacky yang tak asing di dunia acting, berperan sebagai Turdi, seorang transgender yang bertugas menjadi salah satu pengasuh Obama kecil.

Continue reading “Bedah Film: Menguak masa kecil mister presiden”