Jadi Wartawan Harus Muka Tembok

Sebagai jurnalis pemula dari mahasiswa semester awal, mahasiswa ini sempat dipandang remeh oleh para jurnalis profesional saat meliput latihan timnas di Karawaci. Pertanyaan mereka dinilai kurang bermutu. Tapi, sebagai reporter, ejekan atau cemooh bukan alasan yang tepat menghalangi langkah maju.

Garapan Nathania Kinanti, Silvia Veronika, Pricilia Indah, Cindy Cornelia, Sarah Elizabet, Utari Rahadi, dalam pemenuhan Ujian Tengah Semester mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara ini menyajikan karya tak kalah istimewa dibandingkan kelompok lainnya.

Sebuah package berita televisi idealnya memiliki elemen minimal dua soundbyte, PTC atau on-cam reporter, serta grafis pendukung. Durasinya tak harus panjang. Semua ada di kelompok ini.

Sebagai ‘jurnalis pemula’ dari mahasiswa semester awal, mereka menampilkan lengkap unsur-unsur yang seharusnya ada dalam sebuah paket berita televisi. Gambar belanjaan memadai, PTC penuh percaya diri dan atraktif, wawancara (sound of tape alias soundbyte) dua narasumber, serta grafis pendukung dan gambar/still image yang aduhai kerennya, dengan tak lupa menyebutkan sumber infomasi di situ.

Chargen atau CG yang muncul pun lumayan konsisten, sehingga membantu pemirsa menyimak rangkaian berita yang ditampilkan. Kalau pun ada kritik, di CG ini perhatian tertuju pada tata cara penulisan antar baris. Tengoklah misalnya pada baris satu CG bertuliskan ‘Seleksi Ini Menekankan’ sementara di baris kedua bertuliskan ‘Pada Konsentrasi dan Transisi Pemain’. Sangat janggal pemenggalan dua layer seperti itu, apalagi CG baris satu dituliskan dengan ukuran lebih besar. Jadinya malah seperti judul dan sub judul. Overall, untuk durasi dua menit pas, paket ini sudah menyajikan semuanya secara istimewa.

Cerita peliputan

Nathania Kinanti, periset dan penulis naskah berkisah, mengakui, turun ke lapangan akan memberikan nilai plus dibandingkan hanya mencari data tanpa terjun liputan.

Silvia Veronika reporter dan editor visual menuturkan, mereka awalnya memiliki kendala susah mengatur jadwal untuk edit bersama. “Saat di lapangan pun kami bingung  mau ambil angle apa, karena baru pertama kali liputan bola,” ungkapnya.

Silvia yang tampil ekselen dalam PTC nya –entah berapa kali take itu diambil- mengakui, liputan bola menjadi pengalaman baru, dan banyak yang harus dipelajari. “Detail pemain sangat penting untuk dapat membuat naskah/vo lebih baik,” katanya. Untungnya, di lapangan para tim liputan dari berita media online, cetak maupun televisi sangat ramah.

Pricilia Indah juga bercerita bagaimana tim ini dari pemahaman bola ‘sangat nol’ bisa menyajikan paket cool yang bisa pesannya ditangkap pemirsa dengan baik. “Kami sudah riset, tapi saat datang ke lapangan SPH, tetap saja bingung dalam menentukan angle,” ungkapnya. Syukurlah, saat mencoba berbincang dan bertanya dengan wartawan olah raga di sana. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil angle umum dengan menekankan pada strategi latihan yang dikembangkan oleh Luis Milla pada seleksi tahap kedua timnas.

Pricilia sejujurnya tidak menyukai berita bola, tetapi karena demi tuntutan tugas, ia pun jadi mengerti mengenai berita bola. “Saya juga belajar bahwa jika menjadi seorang jurnalis, saya harus bisa segala bidang, termasuk bidang yg tidak saya sukai, salah satunya adalah olahraga sepak bola,” katanya.

Cindy Cornelia, juru kamera mengungkapkan, sebagai camera person, permasalahan yang dialami adalah bagaimana mencari angle yang tidak terganggu oleh sinar matahari yang pada saat itu lumayan terik. “Juga bagaimana mengatasi ketimpangan kualitas kamera saya yang lebih sederhana dibanding dengan teman saya akan menghasilkan kualitas gambar yang berbeda,” urainya.

Sarah Elizabet, reporter, editor dan pengisi suara punya cerita unik. Saat sesi wawancara, mereka sempat diremehkan oleh para wartawan dikarenakan pertanyaan yang dinilai kurang berbobot dan tidak memiliki isi sama sekali.

“Mereka meremehkan kami dengan cara tertawa kecil ketika salah satu atau beberapa dari kami yang bertanya kepada Bima Sakti,” kenangnya. Bahkan salah satu dari jurnalis sempat berkomentar, ‘Ini apaan sih?’ dengan nada yang tidak enak dan meremehkan.

Sarah menuturkan, pada saat itu, para mahasiswa sempat merasa tidak percaya diri dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. “Tetapi kami sadar bahwa hal ini adalah salah satu proses dari dibentuknya kami sebagai jurnalis,” tegasnya.

Sarah menggarisbawahi, jika ada wartawan lain yang meremehkan, kita harus menjadi orang yang bermuka tembok. “Karena kita melakukan itu untuk pengalaman kita menjadi jurnalis atau wartawan yang lebih baik lagi dan menjadi pembelajaran dalam proses menjadi wartawan,” tekannya.

Utari Rahadi, juga camera person, mengungkapkan ini kali pertama terjun liputan bertema olahraga. “Awalnya saya masih ragu karena saya sama sekali tidak tahu harus mengambil angle apa dan menshoot apa, Kelompok kami anggotanya perempuan semua dan kita tidak tahu tentang bola dan nama-nama pemainnya,” kenangnya. Dengan banyak berkomunikasi dengan jurnalis senior, masalah itu pun teratasi.

Kelompok ini menggunakan dua senjata utama, kamera Canon DSLR 1300D dan 70D, namun kendala pada saat liputan membawa tripod tetapi tidak ada mountingnya. “Jadi, ada beberapa stockshoot yang shaking dan kurang maksimal karna tidak memakai tripod,” jelas Tari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *