Pembatasan Usia di PON, Usul Cerdas nan Kontroversial

Di tengah konferensi pers bertema ‘Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK: Pemberdayaan dan Keberpihakan untuk Mengatasi Ketimpangan’ di BIna Graha, Kantor Staf Presiden, Senin, 23 Oktober 2017 Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memberi ‘pengumuman’ unik.

“Pekan Olahraga Nasional mendatang akan dikhususkan untuk atlet maksimal 22 tahun. Selain itu, PON akan digelar dengan tuan rumah bersama dua provinsi dengan rentang waktu dua tahun sekali,” kata Imam.

Pada laporan bidang pembangunan olahraga itu, Imam Nahrawi menegaskan permohonan maafnya atas prestasi buruk Indonesia di Sea Games Malaysia lalu. “Ya, memang kalau mau juara harus jadi tuan rumah. Karena parameternya Sea Games beda dengan Asian Games dan Olimpiade yang mengharuskan diperlombakannya cabang-cabang olimpik,” ungkapnya. Menpora pun mengenang saat Indonesia juara umum Sea Games 2011 Jakarta-Palembang dengan total meraih 182 emas, 151 perak dan 143 perunggu. Sekadar catatan, saat itu Indonesia panen medali emas dengan tim sepatu roda berhasil menyapu bersih semua nomor dalam SEA Games XXVI, Palembang. Indonesia sukses menyabet 12 medali emas nomor putra dan putri dari cabang sepatu roda.

Nah, usul batasan usia pada PON sangat menarik. Bukan hal aneh, PON selama ini menjadi ajang persaingan antar provinsi. Apapun dilakukan demi gengsi peringkat antar daerah. Termasuk bajak-membajak atlet dengan nilai transfer dan bonus amat tinggi. Di sisi lain, regenerasi atlet jadi terhambat karena yang bermain hanya orang-orang itu saja, merajai cabang dan nomor yang sama, meski kadang mereka berganti-ganti jaket nama daerah.

Bagi sisi atlet, PON juga ajang menambang pundi-pundi rekening tabungan. Bonus perolehan medali emas dari provinsi kadangkala melebihi jumlah nilai bonus dari negara saat menjadi juara di kejuaraan multieven internasional macam Sea Games.

PON seolah menjadi ajang yang tak boleh dilewatkan dari kalender tahunan atlet. Karena di sinilah mereka bisa memacu asa menambah rekening tabungan, memberikan hadiah bagi orangtua, sampai hasrat menjadi pegawai negeri.

Sebaliknya, regenerasi dan pembibitan atlet akan macet kalau para atlet kelas regional ini ternyata masih harus bertarung di level antar daerah. Bahkan juga antar mahasiswa! Asal tahu saja, jagoan renang Indonesia I Gede Siman Sudartawa ternyata baru-baru ini masih tampil di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) di Makassar, dengan memperkuat kontingen DKI Jakarta.

Siman, sang pembawa bendera merah putih pada pembukaan Olimpiade London 2012 dan peraih medali emas Sea Games 2011 ini menyabet medali emas POMNas untuk cabang renang nomor 50 meter gaya punggung putra.

Rencana pembatasan umur pada PON patut diacungi jempol. Meski nantinya keputusan ini akan disambut pro-kontra, terutama suara tak setuju dari pihak daerah dan para atlet sendiri. Sebuah keputusan bagus wajar akan berhiaskan suara setuju dan tak setuju.

Tapi, demi kejayaan kembali olahraga Indonesia, agar prestasi berkesinambungan tak didominasi orang-orang itu saja, pembatasan usia atlet pada Pekan Olahraga Nasional layak diapresiasi dan didukung total!

Sebagaimana ditayangkan di http://tz.ucweb.com/10_2tLw6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *