Semangat ‘Menjual’ Gelora Bung Karno

Liputan hard news dan live dari Stadion Utama Bung Karno menjadi nilai lebih kelompok ini, terutama dari reporternya yang tampil atraktif.

Albert Christian, Kevin Sutanto, Deddy Darmanto, Fransisca Ditha dan Rekha Oktariyana bahu-membahu mengerjakan project satu segmen bulletin Ujian Tengah Semester mata kuliah ‘Production Program TV’ Universitas Multimedia Nusantara.

Di sesi awal, dibuka presenter tunggal Dedy yang cukup percaya diri, penampilan Albert ‘Abo’ Christian live dari Stadion Utama Gelora Bung Karno amat istimewa. Ia tampak bersemangat bisa menjajal masuk tribun stadion, yang tak bisa sembarangan dimasuki sebelum masa pengerjaan benar-benar kelar.

Tentu saja, sekuence terbaik dari live Abo saat ia menunjukkan salah satu perubahan signifikan dari stadion yang dibangun Presiden Soekarno untuk Asian Games 1962 ini. Kursi untuk penonton yang semula beton untuk duduk berjajar, kini menjadi ‘single seat’. Dengan semangat pula Abo memperagakan ‘kekuatan’ kursi yang menurutnya pas sebagai antisipasi dari suporter timnas nan fanatik.

Problem di sesi hardnews: tak ada paket pengantar yang menjelaskan soal GBK. Mereka tiba-tiba langsung masuk ke live. Ini tak bisa dibenarkan, kecuali reporter live untuk sesuatu amat urgen, seperti ‘Breaking News’. Paket pengantar (atau serendah-rendahnya berbentuk Voice Over) penting untuk menjadi jembatan ke pemirsa sebelum masuk ke live report.

Pilihan feature: Fenomena ‘Pengabdi Setan’

Soft news, tentang fenomenalnya ‘Pengabdi Setan’ yang bisa menembus 1 juta penonton pada pekan pertama pemutarannya dikemas menarik dengan trailer film sebagai pembuka. Sedikit catatan, pada sesi wawancara, sebaiknya Rekha tak usah memanggil narasumber dengan sebutan ‘Mas’. Jaga kesetaraan antara narasumber dan jurnalis. Langsung saja panggil nama. Apalagi pada kasus ini, usia mereka tak terpaut jauh.

Selanjutnya, saat Reihan bicara cukup panjang, baiknya diberi insert. Either itu trailer film lagi, atau suasana antrean penonton, penonton menyimak poster di bioskop, screencapture twitter, dan lain-lain.

Item pamungkas berupa berita ringan ditutup dengan paket terjemahan ‘Liburan ke Disneyland Hongkong’. Di sini juga, minimnya CG yang seharusnya bisa memperjelas jalan cerita menjadi catatan utama.

Beberapa kekurangan lain tim ini antara lain stabilitas audio yang kurang terjaga (beda antara audio take anchor studio dan tim liputan), serta sempat terlihatnya black spot sesaat pada peralihan berita. Kritik pedas ada pada minimnya CG/Character Generator yang seharusnya tampil sebagai penguat cerita. Ingat, tak semua pemirsa televisi bisa serius, tekun menyimak dari awal sampai akhir dengan telinga mendengarkan audio penyiar atau berita dengan seksama. Bagi mereka inilah kehadiran CG yang konsisten amat diperlukan.

“Kami bersyukur proses pengerjaan tidak ada hambatan sama sekali. Kami merasa tugas membuat project liputan seperti ini memberikan pengalaman baru. Kami menjalaninya dengan ‘have fun’,” papar Kevin, salah seorang camerapersons di kelompok ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *