Papua dan Janji Jokowi

Ada sebuah film drama komedi keren besutan sutradara Joko Anwar yang tayang di bioskop 2005. ‘Janji Joni’, dibintangi Nicholas Saputra dan Mariana Renata, berkisah mengenai seorang pengantar film bernama Joni yang tidak pernah telat mengantar roll film antar bioskop. Joni yang telah bekerja sebagai pengantar secara turun-temurun ini bertekad untuk tepat waktu dan dapat diandalkan, apalagi saat ada janji dari seorang wanita cantik yang bersedia diajak kencan, asal film yang diantar Joni tak terlambat.

Pada kisah yang lain, seorang presiden bernama Jokowi, berjanji akan sering-sering mengunjungi Papua dan Papua Barat. “Saya akan sering hadir di Papua,” kata Jokowi, di Gelanggang Olahraga Waringin, Jayapura, Papua, Sabtu, 27 Desember 2014.

Menurut Jokowi, dia akan mengunjungi Papua minimal sebanyak tiga kali dalam satu tahun. “Coba diingat-ingat, kalau masih kurang tiga kali, saya ditegur,” kata Jokowi, di hadapan warga Jayapura, saat itu.

Dua bulan pasca pelantikannya menjadi presiden ketujuh Indonesia, Jokowi hadir dalam perayaan Natal secara nasional yang digelar di Stadion Mandala, Jayapura. Di ibukota Papua ini, Jokowi juga meresmikan pembangunan Pasar Mama Mama, senilai Rp 15 miliar, sesuai janji kampanyenya. Dalam kunjungan akhir 2014 itu, Presiden Jokowi juga meresmikan Pondok Pesantren Alhidayah

Pada 2015, Presiden Jokowi dua kali melakukan rangkaian kunjungan ke Papua. Pada kunjungan Mei 2015, Presiden mengumumkan pemberian grasi kepada lima orang tahanan politik yang terlibat Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Pada kunjungan itu, Di lapangan terbuka Hasanap Sai Merauke, lahir peristiwa monumental, saat Presiden meletakkan harapan masa depan bangsa ini pada Monumen Kapsul Waktu Impian Indonesia 2015-2085. Tujuh impian tentang Indonesia yang ideal ditulis tangan oleh Presiden Jokowi sendiri, antara lain: sumber daya manusia Indonesia yang kecerdasannya mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia, masyarakat Indonesia menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius, menjunjung nilai-nilai etika.

Selain itu, Presiden juga memimpikan Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi dan peradaban dunia. Impian yang sama juga dituliskan presiden untuk masyarakat dan aparatur pemerintah yang bebas dari perilaku korupsi.

Presiden juga memimpikan infrastruktur yang merata di seluruh Indonesia, Indonesia menjadi negara yang mandiri dan negara yang paling berpengaruh di Asia Pasifik, dan Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia.

Sementara pada akhir 2015, perjalanan ke Papua antara lain untuk meresmikan sejumlah proyek di Merauke, Wamena dan Jayawijaya, berlanjut ke Papua Barat, yakni Sorong dan bertutup buka tahun di Raja Ampat.

Pada 2016, Jokowi tercatat tiga kali berkunjung ke Papua dan Papua Barat. April 2016, ke Manokwari untuk meresmikan Pelabuhan Wasior. Kunjungan ini satu rangkaian dengan acara Presiden Jokowi membuka kompetisi sepakbola ‘Torabika Soccer Championship’ antara Persipura melawan Persija di Stadion Mandala, Jayapura.

Lalu pada Oktober, Presiden Jokowi meresmikan enam infrastruktur kelistrikan di Papua dan Papua Barat. Enam infrastruktur itu adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air Orya Genyem, Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro Prafi, Saluran Udara Tegangan Tinggi yang membentang dari Genyem, Waena hingga Jayapura serta Gardu Induk untuk kawasan Waena-Sentani dan Jayapura.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi juga meresemikan Bandara Nop Goliat Dekai di Kabupaten Yahukimo.

Masuk 2017, pada Mei, Presiden Jokowi melalukan ‘show of force’ menggunakan motor trail menjajal ruas Trans Papua yang sedang dibangun, dari ruas Wamena menuju Kenyam di Provinsi Papua. Jokowi kagum jalan Trans Papua sepanjang 3.800 kilometer berhasil dibuka.

Hari-hari ini, Presiden Jokowi kembali ke Papua, dalam rangkaian kunjungan kerja panjang ke enam provinsi dalam empat hari. Dimulai Selasa 19 Desember 2017 menuju Yogyakarta, Surabaya, dan bermalam di Sorong, Papua Barat.

Rabu 20 Desember 2017, Presiden Jokowi bermalam di Nabire, Papua, sementara pada Kamis, 21 Desember 2017, geser menginap di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, untuk menghadiri Peringatan Hari Ibu ke-89. Dari Papua Barat, rangkaian kunjungan kerja berlanjut ke Bali dan Jawa Tengah.

Kunjungan yang juga meresmikan berbagai proyek kali ini, bahkan muncul di sela-sela keraguan orang pada penerapan program BBM Satu Harga, yang dimaksudnya agar derajat masyarakat Papua tak kalah dengan warga negara Indonesia lain, terutaam dalam menikmati Bahan Bakar Minyak.

“Jadi kalau ada (masalah), tolong (dilaporkan) atau dicek di lapangan sajalah, di mana, akan kita perbaiki. Kalau dapat laporan di mana, itu yang saya kejar,” ucap Presiden kepada para jurnalis usai meninjau lokasi lahan baru Bandar Udara Bandar Udara Douw Aturure, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, pada Rabu, 20 Desember 2017.

Saat berbicara pada peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Nabire 20 MW dan PLTMG Jayapura 50 MW di Kelurahan Kali Bobo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Presiden mengatakan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua berbagai upaya telah dilakukan pemerintah.

“Untuk rakyat Papua, semua kita lakukan. BBM satu harga kita lakukan. Lalu jalan-jalan di Papua yang seperti Trans Papua bisa bikin harga-harga turun seperti Sulawesi, Kalimantan, dan lain-lain,” kata Presiden.

Tak kalah dengan Joni, Presiden Jokowi mencoba membuktikan, bahwa ‘Papua adalah Kita’. Kehadiran, peresmian proyek, dan berbagai pernyataannya menyebutkan jelas, perhatiannya pada Papua -dan juga provinsi serta kawasan terluar, tertinggal, dan terdepan Indonesia.

Seperti ditayangkan di http://tz.ucweb.com/12_3z6h4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *