Selamat Datang, Wajah Baru Koran Kompas

Rabu, 3 Januari 2018, mendapatkan lemparan harian Kompas lagi setelah cuti berlangganan selama libur tahun baru.

Ada yang baru di tahun baru. Desain atau perwajahan harian Kompas benar-benar berubah. Tak hanya berubah sehari, seperti edisi Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2017 lalu. Saat itu, desain Kompas edisi peringatan ke-89 Sumpah Pemuda memang dibuat amat ‘millenials’. Melibatkan para penata desain dari kalangan anak muda yang bebas mengacak-acak halaman Kompas nan sakral. Tapi, sehari saja.


Memasuki 2018, Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo memberi penjelasan istimewa mengapa ada perubahan desain Kompas setelah lebih dari dua belas tahun. Sebelumnya, 28 Juni 2005, bertepatan ulang tahun ke-40 koran terbesar di Indonesia itu, diluncurkan desain klasik nan elegan Kompas karya desainer surat kabar internasional, Mario F. Garcia.

Desain baru Kompas 2018 terlihat lebih muda, segar, dan bersahabat bagi anak muda. Kita tahu anak muda agak malas membaca koran, dan cenderung mendapatkan informasi dari gawai. Maka, font di Kompas 2018 ini tampak lebih besar. Juga ada semacam resume berita atau ‘teaser’ di bagian bawah judul. Mirip-mirip tampilan berita di sebuah majalah. Selain ringkasan berita, ada juga navigasi yang memberi petunjuk kepada pembaca tentang berita di halaman lain yang dipandang menarik dan penting.

“Bertepatan dengan penerbitan edisi ke-17.731, Kompas kembali meredesain wajahnya dengan mengandalkan center of visual impact, dengan desain ‘clean and strong’ adalah respons Kompas atas perilaku membaca akibat revolusi digital,” kata Budiman.

Ia mengakui, revolusi digital telah mengubah perilaku dan kultur masyarakat dalam berkomunikasi atau mengonsumsi berita. Kehadiran media sosial, sebagai bentuk nyata demokratisasi, mengubah informasi menjadi lebih personal.

Secara konten, Kompas berjanji tetap akan mengutamakan ciri khasnya: liputan mendalam setiap awal pekan, dan juga liputan ekspedisi atau penjelajahan sebagai ciri utamanya.

“Desain boleh saja berubah, tetapi visi dan komitmen kemanusiaan Kompas tetap bertahan. Visi itu diaktualisasikan dan dibuat lebih relevan dengan zaman dan kebutuhan pembaca,” kata Budiman.

Selain itu, sebagai ‘guru’ media lain di Indonesia, Kompas pun tetap akan memegang ketaatan pada kode etik, kesetiaan pada prinsip dan kaidah jurnalisme, serta berkomitmen tetap memegang teguh untuk menjaga independensi ruang redaksi.

Perubahan desain koran menjadi lebih sederhana dan menyasar anak muda memang bukan kali pertama dilakukan. Jauh sebelumnya di akhir 1990-an, koran Jawa Pos dari Surabaya sudah mengatur dirinya dengan ukuran fisik mengikuti model koran Amerika panjang 550 mm dan lebar 340 mm, yang terbagi menjadi 7 kolom, bukan 9 kolom seperti koran-koran lain saat itu. Format koran seperti ini disebut sebagai Young broadsheet yang dianut oleh koran nasional Jawa Pos dan Radar-nya di daerah-daerah di Indonesia. Praktis. Mudah dibawa, dilipat dan tak merepotkan saat dibaca.

Kemudian lahirlah Koran Tempo di awal 2000-an. Koran Tempo mendesain dirinya lebih ringkas, praktis, dan enak dilipat sehingga memudahkan saat dibaca di kereta komuter, misalnya. Berita yang dibuat tanpa ada sambungan ke halaman lain -seperti dianut oleh Republika dari mula berdiri- pun menjadikannya nyaman dibaca tanpa harus membolak-balik lembaran.

Bisa jadi, perubahan desain Kompas mengamini apa kata jurnalis gaeknya, Bre Redana dalam tulisan ‘Inikah Senjakala Kami?’ di hari Minggu terakhir penghujung 2015, yang menuturkan hari-hari tua surat kabar di sela masuknya anak muda bernama jurnalisme online.

Media online dengan tampilan lebih kekinian dan desain lebih bersahabat menjadi ancaman bagi koran konvensional. Berapa banyak sih sekarang orang masih langganan koran yang dilempar setiap pagi oleh loper seperti yang saya alami? Atau Anda lebih suka menyimak berita terbaru lewat media-media online di gawai Anda? Maka, Kompas yang dulu dinyatakan sebagai koran bertiras tinggi -lebih dari 300 ribu di hari biasa dan bisa menyentuh 450 ribu eksemplar di edisi akhir pekan yang marak iklan lowongan kerja- kini pun terus terkikis. Tak ada jalan lain kecuali perubahan.

Selamat Tahun Baru, selamat berwajah baru bagi Kompas dan pembacanya!

Seperti dimuat di http://tz.ucweb.com/1_2yKAl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *