Pemimpin Itu Perlu Melihat, Mendengar dan Merasakan

Dalam buku ‘Jokowi Menuju Cahaya, Perjalanan Karya Bagi Bangsa’, Jokowi membuka prinsipnya tentang perjalanan ke daerah sebagai kepala negara.

“Adalah hal yang sudah menjadi ciri khas saya, tiap ke daerah pasti saya minta staf untuk menyusun agenda yang padat. Dari pagi sampai malam harus banyak agenda mannfaat yang bisa dikerjakan. Kepergian ke daerah adalah perjalanan padat jadwal. Tak heran bila rombongan saya akan terlihat kelelahan seusai perjalanan. Ya, mau bagaimana lagi. Kita memang harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.”

 

 

Dan, berpijak pada ‘Jokowi’s Standard’ yang diuraikan di buku itu, pada minggu pertama 2019 Jokowi menunjukkan etos kerjanya yang luar biasa.

Rabu, 2 Januari 2019, hari kerja pertama di tahun baru, Jokowi ‘pulang hari’ alias pergi tanpa menginap dari Jakarta ke Lampung. Tujuannya jelas: menengok korban bencana alam tsunami Selat Sunda yang terjadi pada akhir Desember 2018.

Jokowi dan rombongan lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta dengan menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 pukul 08.30 WIB.

Tiba di Bandar Udara Radin Inten II pukul 09.05 WIB, agenda Jokowi adalah meninjau beberapa lokasi terdampak tsunami dan juga lokasi pengungsi di Kecamatan Rajabasa dan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. Jokowi juga menengok para pasien terdampak tsunami Selat Sunda yang sedang dirawat di RSUD dr. H. Bob Bazar.

Malam itu juga Jokowi kembali terbang ke Jakarta menuju kediaman di Istana Kepresidenan Bogor.

Kamis, 3 Januari 2019, pukul 08.50 WIB ia bertolak menuju Provinsi Jawa Timur melalui Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta.

Tiba di Pangkalan TNI AU Abdul Rachman Saleh, Malang, Jokowi menempuh perjalanan darat menuju Blitar. Di sini setumpuk agenda menanti, dari meninjau pekerjaan rehabilitasi irigasi Lodoyo, proyek pengendalian banjir Kali Bogel, berlanjut menuju pendopo Kabupaten Blitar untuk menyerahkan sertifikat hak atas tanah untuk rakyat.

Jokowi pun sempat menjalani agenda di luar agenda resmi yakni berziarah ke makam proklamator Soekarno di Desa Bendogerit, Kota Blitar.

Selesai acara, Jokowi menuju Kabupaten Tulungagung untuk bermalam.

Jumat pagi, serangkaian acara dilakoni Jokowi di Tulungagung. Dari berkunjung ke Pasar Ngemplak lalu meresmikan rusun dan jembatan di STKIP PGRI Tulungagung.

Dari Tulungagung bergeser ke Trenggalek, Jokowi memimpin Sosialisasi Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2019 di Provinsi Jawa Timur yang dipusatkan di Alun-Alun Kabupaten Trenggalek.

Bergeser kabupaten lagi, Jokowi kemudian meninjau pembangunan Bendungan Bendo di Ponorogo.

Setelah menunaikan salat Jumat di Kabupaten Ponorogo, Jokowi menyerahkan sertifikat hak atas tanah untuk masyarakat yang dipusatkan di Alun-Alun Kabupaten Ponorogo.

Dari Ponorogo, perjalanan darat sore hari menuju Pangkalan TNI AU Iswahjudi, di Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan. Dari Lanud Iswahyudi, Jokowi beserta rombongan bertolak menuju Semarang untuk melanjutkan agenda kunjungan kerjanya di Jawa Tengah.

Jadi, bisakah Anda bayangkan betapa capeknya jika Anda menjadi orang yang selalu ada di sisi Jokowi sejak Rabu hingga akhir pekan ini? Perjalanan dinas bukanlah rekreasi atau saatnya bersenang-senang.

Di buku ‘Menuju Cahaya’, Jokowi berkata tentang aktivitas super padatnya setiap kunjungan kerja. “Capek? Sudah pasti. Tapi itulah risiko dari sebuah tanggungjawab. Tidak mungkin saya merasa tenang dari sebagai kepala negara bila saya tidak turut mengendus permasalahan rakyat. Bagi saya, pemimpin perlu bergerak, karena pemimpin perlu melihat, mendengar, dan merasakan.”

Teruslah blusukan, teruslah menyapa dan dekat dengan rakyat, Pak Jokowi…

Seperti ditayangkan di

https://jokowidodo.app/post/detail/Blusukan-anti-lelah-a-la-jokowi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *