CHECK IN: DJJ, Papua, Surga Kecil Jatuh ke Bumi

Hampir dua tahun tak menginjak Jayapura, kekangenan itu terbayar kemarin. Meski hanya 25 jam saja, menginap satu malam, ibukota Papua menghadirkan keindahan tersendiri.

Seperti lagu Edo Kondologit yang kondang itu, inilah kampung nan kaya, kampung bagian dari negara besar kita semua…

“Tanah Papua tanah yang kaya
surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak madu
adalah harta harapan
Hitam kulit keriting rambut, kami Papua
Hitam putih keriting lurus, kami Papua
Biar nanti langit terbelah aku Papua…”

Makan sore di kawasan ruko dok dekat pelabuhan, bertemu Pak Nur Rofik, penjual Soto Ayam asal Laren, Lamongan yang sudah berada di Jayapura sejak 1997.

“Jadi penjual soto ayam ini pekerjaan kelima saya di sini,” kata pria yang kini dibantu Udin, puteranya berjersey Persebaya.

O ya, berapa harga semangkok soto ayam di tempat Anda tinggal? Pak Nur menjualnya Rp 23 ribu per mangkok. Dan tak ada tuh warga Papua yang protes.

“Habis bagaimana lagi? Di sini memang harga kebutuhannya lebih mahal, Mas. Lagipula, kalau di Jawa beli nasi soto dipisah, nasinya cukup satu enthong, di sini harus dua cidukan,” paparnya.

Papua punya makanan khas bubur ‘Papeda’ dengan kuah kuningnya. Konon, papeda berarti ‘Papua Penuh Damai’.

Papua bukan orang lain. Papua adalah saudara sekandung. Papua adalah kita. Itu sudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *