Hari Pertama Outbond, Team Building di Tapanuli: Kita Adalah Duta, Ambassador dari Atribusi yang Melekat

Ini hari pertama menjadi co-fasilitator dalam acara ‘Team Building’ sebuah perusahaan tambang di Sumatera Utara yang mengambil tema: Sesi Refleksi, Menjalin Komunikasi, Trust dan Sinergi Tim.

Divisi Pengembangan Masyarakat perusahaan ini berkumpul bersama, merumuskan tujuan, dan menyatukan tekad sebagai sebuah tim hebat tanpa sekat.

Acara diawali dengan merefleksikan diri berdasar dokumenter karya Neil Bromhall yang menyuguhkan pertumbuhan biji kecambah, dari dalam tanah, hingga muncul di permukaan, dan berkembang menjadi tanaman produktif, berbuah dan berguna bagi sesama.

“Coba renungkan. Apa yang Anda dapatkan dari film pendek ini? Bagaimana Anda merefleksikan perjalanan biji kecambah dalam kehidupan sehari-hari sebagai personal maupun tim?” ungkap Alexander Cahyo Suryanto, fasilitator utama sekaligus pendiri Grahatma Semesta, lembaga konsultan komunikasi dan pelatihan asal Yogyakarta yang memiliki slogan ‘Bergerak-Berubah-Berbuah’.

Tak banyak yang saya sampaikan sebagai perkenalan diri, kecuali menekankan bahwa kita adalah ‘Duta Besar’ bagi perusahaan di mana pun kita bekerja pada saat itu.

Kala bekerja menjadi jurnalis di sebuah radio afiliasi dari Australia, saya harus bersusah payah menjelaskan profil radio itu setiap kali liputan, bagaimana radio itu bersiaran, bagaimana menangkap siarannya, apa valuesnya dan lain-lain.

Begitu juga saat bergabung dengan KSP. Banyak orang tak paham makna penting sebuah lembaga bernama Kantor Staf Presiden. Kebanyakan mengernyitkan dahi dan bertanya, “Apa? Koperasi Simpan Pinjam?”

Selain mengenalkan profil organisasi tempat kita bekerja agar ‘public awareness’ semakin luas, menjadi ‘grand ambassador’ dari institusi tempat kita berkarya juga punya risiko tak kecil: setiap kata dan tingkah polah kita kerap diidentikkan dengan lembaga atau korporasi itu, meski mungkin yang kita lakukan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

“Ah, orang Tempo kok begitu… orang KompasTV kok omongnya ngono… orang CNN Indonesia kok bicaranya begono… orang KSP kok postingnya kek gini…”

Itulah rsiko atribusi nan melekat. Kita adalah ‘Duta Besar’ dari tempat kita berada. Dari keluarga kita. Dari tempat kerja kita.

Selamat berkarya hari ini, jangan lupa bahwa kita adalah ‘duta-duta’ yang hidup. Bukan seonggok baju dan celana yang diberi nafas kehidupan….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *