Hari Kedua Team Building di Tapanuli: Tak Ada yang Bisa Dibanggakan, Kecuali Kasih Karunia Tuhan dan Kerja Keras

Ini catatan hari kedua menjadi co-fasilitator dalam acara ‘Team Building’ sebuah perusahaan tambang di Sumatera Utara yang mengambil tema: Reflection Session, Communication, Trust and Team Synergy.

Hari kedua di Aek Sabaon Sibio-bio, sebuah lokasi wisata primadona di Tapanuli Selatan, giliran Divisi Hubungan Komunitas yang berbaur dalam game-game ringan penuh filosofis.


Salah satunya, peserta outbond dihadapkan pada game berjuluk ‘Blind Square’. Mereka dibagi dua grup yang diberi nama sesuai warna penutup mata. Dalam kondisi mata tertutup, tiap kelompok diminta membuat bidang berbentuk segitiga sama sisi dan bujursangkar, bermodalkan tali pramuka sepanjang lima meter.

“Di sinilah pentingnya komunikasi dalam keterbatasan. Bagaimana memilih pemimpin, yang kemudian arahannya ditaati setiap anggota kelompok dari berbagai latar belakang jabatan di perusahaan,” kata Cahyo Suryanto, fasilitator utama sekaligus pendiri Grahatma Semesta, lembaga konsultan komunikasi dan pelatihan asal Yogyakarta.

Saya pun memberi analisis singkat, menekankan kemampuan ‘visualisasi visi’ sebagai moral cerita dari permainan ini.

“Sangat menarik menyaksikan bagaimana dalam kondisi mata tertutup, seorang pemimpin dalam kelompok bisa mengukur jarak, memilih tokoh kunci di tiap sudut bangunan, serta memastikan agar anggota kelompok dalam satu bidang yang telah terbentuk bisa beririsan dengan bidang lainnya,” begitu resume yang saya sampaikan.

Oh ya, karena peserta training berbeda dengan hari pertama, maka sebagai co-fasilitator saya pun kembali memperkenalkan diri pada 20-an audiens. Penekanannya satu: tidak ada hal yang bisa saya sombongkan dalam perjalanan karir ini. Semua hanya karena kasih karunia Tuhan, ditambah etos kerja di mana pun berada.

“Dengan segala hormat pada kedua mendiang orangtua, kami bukan berasal dari latar belakang wah. Papa saya 30 tahun jadi kondektur bus Damri di Surabaya. Mama bahkan pernah tujuh bulan jadi TKW di Johor Bahru, Malaysia, sebelum dipulangkan karena ketahuan menderita penyakit gula. Dari beliau-beliau itu, saya belajar makna kerja keras,” kenangku.

Keberuntungan lahir karena doa dan kerja keras yang konsisten. Dari spirit itulah, semua peziarahan hidup ini bisa terjadi. Pernah bekerja di Grup Jawa Pos, Tempo, Radio Australia, Kompas, TransMedia CNN, hingga Kantor Staf Presiden. Bulan lalu ke luar negeri lagi, negara kedua belas yang Tuhan izinkan untuk diinjak oleh kaki ini.

Lamat-lamat, terdengar suara Tulus dari lagu ‘Mahakarya’ diputar di pelataran lokasi outbond, sebagai musik pengiring makan siang.

“Ibu pernah berkata

Jangan bergantung pada peruntungan

Senang dan tidak senang hidupmu

Tergantung kerja kerasmu

Beri hati pada setiap kerja kerasmu

Karya-karyamu

Biarkan hati terus bicara

Lahirlah mahakaryamu…”

Selamat menjemput setiap hari baru. Selamat bekerja keras, dan datanglah peruntungan yang padanya kita tidak boleh bergantung. Beri hati pada tiap karya kita.

Salam komunikasi dari Tapanuli Selatan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *