Tumben, Gak Koppig, Klopp?

Liverpool menuntaskan pertandingan terakhir di Bulan Ramadan dengan mengakhiri puasa kemenangan.

So long, rasanya. Kemenangan terakhir ‘The Reds’ diperoleh pada 10 April lewat gol dramatis Trent Arnold di menit akhir untuk mengubah skor 2-1 lawan Aston Villa. Rekor Liverpool selanjutnya, memasuki Bulan Suci: tiga kali seri.
Tanpa gol menjamu Real Madrid. 1-1 di rumah Leeds dan 1-1 juga menjamu Newcastle. Episodenya sama di dua seri terakhir: leading di separuh main dan jebol di menit-menit akhir.


Maka, ketakutan akan kutukan 1-0 serupa kembali muncul saat babak pertama Liverpool meladeni Southampton, tim yang kerap dijuluki ‘Liverpool B’ karena kerap memasok pemain ke ‘Liverpool A’. Gol sundulan Sadio Mane di menit ke-31 disambut kecemasan di jeda pertandingan. Bersyukur, Thiago Alcantoro akhirnya ‘killing the game’ di menit ke-90 sekaligus membuka catatan golnya sejak direkrut dari Bayern Munich pada 18 September 2020.

“Ah, Jurgen Klopp sudah tobat dari sikap ‘koppig’-nya,” begitu ungkapan senang fans Liverpool karena sejak sepak mula tak melihat Fabinho ada di posisi Centre Back. Maklum, formasi semi permanen Kabak-Philips kali ini mengalami gangguan.

Ozan Kabak cedera minor. Ada ada saja memang problem kebugaran duo bek tengah ini, setelah Nat Phil sembuh, eh giliran Kabak gak bisa kerja- ternyata kali ini bukan si nomer 3 yang kembali ditaruh di belakang.

Duo Centre Back Inggris Nat Phil – Rhys Williams cukup menjanjikan. Clean sheet dan menyumbang kontribusi besar untuk keunggulan penguasaan bola 58 berbanding 42 persen pada babak pertama. Di babak kedua, penguasaan bola Liverpool jauh lebih membengkak.

Sebelum main babak pertama, pandit Mola yang 16 tahun bermain di lini serang Soton, Matthew Le Tissier, meramalkan tiga hal:

– Liverpool akan mengeksploitasi bek kiri Soton

– Che Adams jadi ancaman

– Liverpool akan eksploitasi Jaanik Vastergaard yang lambat

Bener juga. Gol Mane yang lepas dari dakwaan offside berasal dari sisi kiri Soton. Sebelumnya, upaya Liverpool selalu buntu -dari sontekan Mane, sepakan Jota, gocekan Salah sampai sundulan Philips- terutama karena pameo ‘siapapun kiper yang jadi lawan Liverpool selalu lebih keren daripada biasanya’.

Salut untuk Fraser Forster. Tapi, jangan lupa, Cak Ali juga bikin banyak save ciamik dalam 90 menit pertandingan. Terlepas dari balik ketenangannya, Alisson beberapa kali ‘melawak’ saat salah umpan dalam jarak dekat. Berbahagialah Liverpool karena tak ada sang mantan yang sangat tajam: Danny Ings.

Ings tampaknya mengikuti ‘solidaritas’ Takumi Minamino. Taki dilarang main karena statusnya sebagai pemain cabutan dari Liverpool, maka Ings pun memilih meneruskan perawatan cedera harmstring, yang didapatnya ketika bermain melawan Spurs.

Trio ‘Fimansah’ kembali berkontribusi pada gol. Pada babak pertama, Mo Salah memberi assist untuk Mane, sementara supersub Roberto Firmino memberi umpan berbuah gol pada Thiago.

Salut untuk Klopp yang mencoba tak lagi ‘koppig’, termasuk rela memainkan ‘anak emas’-nya Curtis Jones, baru di beberapa menit jelang Kevin Friend membubarkan pertandingan mendekati Imsak hari ke-27 Ramadan 1442 H.

Barokallah kemenangan yang mengangkat Liverpool ke peringkat ke-6. Di Game Week yang sama saat Leicester dan Spurs mengalami kekalahan menyakitkan.

Sebagaimana ditayangkan di https://kanalbola.id/tumben-gak-koppig-klopp/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *