Kuliner Jakarta: Soto Madura Cak Gossen

Aneka jeroan membuat Anda bisa tergoda dalam surga kuliner. Kemudian terlintaslah sebuah ungkapan: pada dasarnya semua manusia itu sehat….. sebelum menjalani medical check-up.

Weekend itu, sahabat baik saya, Yohanes ‘Joe’ Wijaya mengajak makan siang. Kami mengarungi Jakarta Pusat dengan Innova gelapnya. Ia berkisah, akan menuju lokasi yang dikenalnya melalui TikTok.

Dipandu arahan satelit melalui aplikasi ponsel, kami menuju ke Jalan Biak. Tak jauh dari Tanah Abang. Tak jauh dari Roxy. Ternyata, ada Soto Madura unggulan di kawasan ini. Menunya dahsyat. Diracik tak kalah dengan soto khas Jawa Timur yang dijual di tempat asalnya. Meski kepala kasirnya mengaku justru orang Betawi asli. “Saya mantunya. Jadi bukan dari Madura,” katanya saat kami menyelesaikan pembayaran, yang uniknya habis pas Rp 100 ribu.

Sahabat saya berkata, kadang makan makanan seenak ini timbul godaan untuk nambah lebih dari satu piring. “Tapi, selain soal kolesterol, kelezatan sebuah makanan atau minuman akan berkurang kalau kita makan lebih dari satu porsi,” jelasnya.

Saya jadi teringat Hukum Gossen. Salah satu prinsip ekonomi yang saya pelajari saat duduk di bangku SMA Negeri 4 Surabaya. Hukum Gossen 1 yang dicetuskan ekonom Jerman Hermann Heinrich Gossen (1810-1858) itu berbunyi, “Jika pemuasan keperluan terhadap suatu jenis benda tertentu dilakukan terus menerus, kenikmatannya akan terus-menerus berkurang sampai akhirnya mencapai suatu kejenuhan…”

Selamat makan enak, tapi jangan nambah… Nanti dimarahi mister Gossen!

Leave a Reply

Your email address will not be published.