Kelas Strategi Komunikasi Korporasi Unika Atmajaya: Bahas Kritik Dino Patti Djalal dan Respon Seskab Teddy Indra Wijaya

Dari ‘berbalas pantun’, eh berbalas reels Instagram antara Wakil Menteri Luar Negeri 2014 Dinno Patti Djalal dan Seskab Teddy Imdra Wijaya terkait sorotan pada intensitas kunjungan kerja ke luar negeri Presiden Prabowo Subianto, menarik dipelajari dari perspektif komunikasi strategis.

Mengapa? Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar benar atau salah, melainkan bagaimana publik menilai kualitas respons pemerintah terhadap kritik.

Beberapa ‘lesson learned’ terkait komunikasi strategis yang bisa diambil:

Pertama, kritik yang berbasis data lebih sulit dibantah dengan emosi.

Dino menyampaikan kritik mengenai frekuensi perjalanan luar negeri Presiden dengan data, argumentasi, dan beberapa usulan solusi. Ini membuat substansi kritik menjadi titik perhatian utama publik.

Data melawan data, argumen melawan argumen.

Ketika kritik sudah berbasis angka dan disertai alternatif, respons terbaik adalah menjawab substansi secara proporsional.

Kedua, apresiasi di awal dapat hilang karena satu kalimat yang dianggap personal.

Teddy memulai dengan ucapan terima kasih dan menyebut Dino sebagai diplomat hebat. Namun, kalimat mengenai ‘hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan‘ sebagai Wamenlu justru menjadi bagian yang paling viral.

Dalam teori komunikasi, fenomena ini disebut ‘negative salience‘: satu unsur yang bernada personal dapat mengalahkan keseluruhan pesan.

Akibatnya, perhatian publik bergeser dari:

  • biaya perjalanan,
  • efektivitas diplomasi,
  • jumlah rombongan,

menjadi:

  • apakah ada serangan pribadi (ad hominem),
  • apakah pemerintah antikritik,
  • apakah respons tersebut terlalu emosional.

Ketiga, dalam komunikasi publik, persepsi lebih menentukan daripada niat.

Bisa jadi maksud Teddy adalah memberikan konteks sejarah. Namun komunikasi tidak diukur dari niat pembicara, melainkan dari persepsi audiens.

Jika sebagian besar publik menangkapnya sebagai sindiran pribadi, maka isu yang muncul adalah:

“Pemerintah menyerang orang yang mengkritik.”

Padahal pemerintah mungkin ingin mengatakan:

“Ada fakta-fakta lain yang perlu diketahui publik.”

Keempat, jangan menggeser arena perdebatan

Dino mengangkat isu:

  • frekuensi perjalanan;
  • efisiensi;
  • prioritas Presiden.

Tetapi perdebatan kemudian bergeser kepada:

  • masa jabatan Dino;
  • kualitas pribadi;
  • siapa lebih senior.

Dalam komunikasi strategis, ini disebut frame shift.

Ketika frame bergeser dari kebijakan ke personalitas, kedua pihak sebenarnya bisa kehilangan kesempatan untuk mendidik publik mengenai substansi.

Kelima, media sosial membuat gaya komunikasi sama pentingnya dengan isi pesan

Instagram adalah ruang yang sangat dipengaruhi oleh emosi, simbol, potongan video pendek, kutipan yang mudah diviralkan.

Kalimat yang paling mudah diingat belum tentu argumen yang paling penting.

Karena itu pejabat publik perlu menghindari kesan defensif, nada merendahkan, dan juga sindiran personal.

Sebab yang viral sering kali bukan data, melainkan emosi.

Keenam, pemerintah harus menang dengan ‘kelas‘, bukan dengan ‘balas‘.

Ada prinsip klasik dalam komunikasi pemerintahan: kritik tidak selalu harus dikalahkan; sering kali cukup dijelaskan.

Respons yang dianggap elegan biasanya:

  1. mengucapkan terima kasih;
  2. mengakui adanya perhatian publik;
  3. menjawab poin demi poin;
  4. menambahkan data;
  5. tidak menyinggung pribadi pengkritik.

Dengan cara demikian, pemerintah memperoleh citra:

  • terbuka terhadap kritik;
  • percaya diri;
  • tidak mudah tersinggung.

Ketujuh, dalam komunikasi, siapa yang tampak tenang biasanya memperoleh keuntungan reputasi

Bukan berarti pihak yang tenang pasti benar. Tetapi secara psikologis, publik cenderung memberikan kredibilitas lebih kepada pihak yang dianggap tenang, berbasis fakta dan tidak menyerang personal.

Karena itu, dalam komunikasi krisis maupun komunikasi politik terdapat adagium:

’Never wrestle with the critic. Explain, clarify, and move on.’

Pelajaran terbesar dari episode Dino Patti Djalal–Teddy Indra Wijaya adalah bahwa komunikasi publik bukan sekadar membalas kritik, melainkan mengelola persepsi.

Bahkan ketika pemerintah memiliki data dan fakta yang kuat, satu kalimat yang dipersepsikan sebagai sindiran personal dapat menggeser seluruh percakapan dari:

“Apakah kebijakan ini efektif?”

menjadi:

“Mengapa pemerintah tampak tidak nyaman terhadap kritik?”

Dari perspektif komunikasi strategis, kemenangan narasi bukan ditentukan oleh siapa yang paling keras berbicara, tetapi oleh siapa yang paling mampu menjaga fokus pada substansi, menunjukkan ketenangan, dan mempertahankan legitimasi di mata publik.

Kemenangan narasi bukan ditentukan oleh siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling mampu menjaga fokus pada substansi, menunjukkan ketenangan, dan mempertahankan legitimasi di mata publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.