“Seburuk-buruknya pertandingan sepakbola adalah tanpa penonton…” demikian kata sahabat baik saya, memberikan komentar lugas, setelah semifinal dan final Piala Presiden 2026 diputuskan berlangsung di Bali tanpa suporter.
Ada yang terasa janggal dari perhelatan semifinal dan Piala Presiden di Stadion Wayan Dipta, Gianyar, Bali, tahun ini.
Stadion berdiri megah. Rumput dipotong rapi. Lampu menyala terang. Kamera televisi siap menyorot. Sponsor terpampang di mana-mana. Pemain berlari, wasit impor meniup peluit, dan pertandingan tetap berlangsung seperti biasa.
Tetapi ada satu yang hilang: suporter.
Maka lahirlah sebuah paradoks. Kita menyelenggarakan turnamen sepak bola, tetapi justru menjauhkan sepak bola dari para penontonnya.
Ini seperti menggelar konser musik, tetapi meminta penonton tinggal di rumah. Atau mengadakan pesta ulang tahun, lalu tamunya hanya boleh melihat dari balik pagar.
Padahal, sepak bola bukan sekadar 22 orang mengejar satu bola. Sepak bola adalah emosi. Ia hidup dari sorak-sorai, nyanyian, koreografi, ejekan, tepuk-tangan, bahkan gelegar suara tribun yang kadang membuat pemain lawan kehilangan konsentrasi.
Tanpa suporter, sepak bola memang tetap bisa dimainkn. Tetapi, apakah ia masih bisa disebut sebagai sebuah ‘perhelatan’?
Terjawab tuntas sudah pertanyaan, di mana akan digelar semifinal Piala Presiden 2026? Dua pertandingan mempertemukan empat tim dengan basis suporter kuat, dan sejarah panjang rivalitas. Juara Grup A Persib Bandung menghadapi runner-up Grup B Persija Jakarta, dan juara Grup B Persebaya Surabaya melawan runner-up Grup A Arema Malang. Sempat pula muncul hoaks, tak ada semifinal. Langsung perebutan juara antar juara grup: Persebaya vs Persib.
Kota Surabaya siap menjadi tuan rumah, terutama laga final. Demikian pula juara grup sebelah. “Kalau juara grup, harusnya main di kandang,” kata pelatih Persib Igor Tolic.
Namun, melalui posting di akun media sosial panitia, dan juga jumpa pers di Balai Kota Surabaya, keluar pengumuman resmi. Semifinal dan final Piala Presiden digelar di Bali. Tanpa penonton.
”Diberitahukan kepada seluruh suporter bahwa pertandingan Semifinal Piala Presiden 2026 tidak dibuka untuk penjualan tiket penonton. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membeli tiket dari pihak mana pun dan selalu mengikuti informasi melalui kanal resmi Piala Presiden.”
Sementara itu, salah seorang anggota Komite Eksekutif PSSI Arya Sinulingga pun mengunggah konten naratif di media sosialnya, ”Mohon maaf, selama masih ada rasis dan pemukulan serta tidak ada perdamaian antar suporter, maka sepak bola kita akann tetap seperti ini. Masalah keamanan bukan hanya di stadion, tapi di jaan sampai ke rumah suporter. Jangan lagi ada jatuh korban karena permusuhan di sepak bola.”
Tanggapan -kebanyakan kontra- atas posting Arya pun merebak. Komen-komen itu antara lain, ”Damai itu penting, tapi jangan jadikan suporter kambing hitam saat sistemnya juga masih berantakan kisanak????Suporter terus yang diingatkan, giliran PSSI kapan mau benar-benar berbenah??”
”Lah ente sejak awal emang ga kepikiran kalo klub2 tersebut bakal ketemu? ????????”
“Mencari solusi ❎ Menghindari masalah ✅”
“Lah knp anda ga perhitungkan ini semua dari awal? Ketika anda mengundang tim2 ini untuk berpartisipasi dlm turnamen ini brarti anda jg sudah memperhitungkan rivalitas suporter masing2 tim tersebut seandainya lolos dr fase grup. Kalo memang anda sudah memperhitungkan dan sudah siap dengan solusi pertandingan diadakan tanpa penonton jauh2 hari buat apa anda membuat turnamen ini? Kalo mau match tanpa penonton ga perlu anda2 yang buat pak. Panitia agustusan juga bisa kalo cm menggelar pertandingan tanpa penonton…”
“Suporter dijadiin kambing hitam, giliran berbisnis ngandelin supporter..“
Pihak yang mendukung laga penentu Piala Presiden tanpa suporter bukannya tak ada. Presiden Persebaya Azrul Ananda berpendapat di kanal resmi klub kebanggaan warga Surabaya.
“Saya termasuk yang mendukung keputusan semifinal dan final di tempat netral. Bukan hanya karena siapa yang bertanding. Tapi juga karena jadwal yang akan mepet antara semifinal dan final. Dengan situasi ini, kita harus bisa mengesampingkan segala ego. Bagaimana pun ini adalah pramusim. Jangan sampai terjadi unnecessary risk yang kemudian justru berdampak pada musim sebenarnya,” kata Azrul.
Tapi ya begitulah yang terjadi… sepak bola yang harusnya jadi hiburan rakyat, dimainkan di tempat hampa. Ditonton saja lewat layar kaca.
Bayangkanlah dua skenario.
Skenario pertama, anggaplah namanya skenario buruk. Kerusuhan. Bonek, Aremania, Bobotoh dan Jakmania saling kejar di seluruh penjuru Bali. Tak hanya di Stadion Wayan Dipta, Kabupaten Gianyar, tapi juga saat pada plesir di Pantai Kuta, Beachwalk Shopping Centre, Sanur, Legian, Canggu, Sunset Road dan spot-spot strategis lain. Jarak pendek antara semifinal dan final membuat mereka tak langsung pulang, tapi berwisata di Bali. Yang sayangnya berujung kisruh.
Skenario kedua, semua berjalan ‘under control’. Dalam kendali. Suporter keempat kubu datang ke Bali, mematahkan larangan away selama tiga musim terakhir. Pemeriksaan ketat, tapi semua aman. Sebagaimana tak pernah ada larangan suporter Liverpool datang ke Old Trafford, kandang Manchester United, dan juga sebaliknya. Rivalitas hanya sebatas di lapangan. Adu chant berlangsung dalam kadar kreativitas dan sportivitas. Selepas laga, semua pulang, atau jalan-jalan, dengan damai.
Yang dipilih kemudian adalah skenario ketiga. Pertandingan tanpa penonton. Piala Presiden tanpa rakyat. Taglinenya mungkin perlu diganti jadi ’Silent Retreat’, merayakan keheningan di Pulau Dewata.
Mari mulai bertanya, bagaimana caranya menggelar pertandingan yang aman justru karena suporter dilibatkan?
Sebab sepak bola yang hebat bukanlah sepak bola yang berhasil mengosongkan stadion. Sepak bola yang hebat adalah sepak bola yang mampu memenuhi stadion dengan suara, warna, gairah, dan tentu saja tanpa kekerasan.

