Pasarturi dan Revolusi Kereta

Stasiun Pasarturi punya kenangan manis juga bagi saya. Beberapa kali dapat tugas ke Jakarta melalui stasiun ini. Kereta jalur utara.

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Maria Kristi Endah Murni beserta rombongan kecilnya diterima Kepala Stasiun Pasarturi Deddy Triono Eko. Pagi jelang siang itu, kami sekalian menyaksikan pemberangkatan KA Ekonomi Airlangga Pasar Turi ke Pasar Senen 10.35 WIB.

Dengan tiket seharga Rp 104 ribu penumpang dengan tempat duduk nyaman ber-AC. Sejak era Ignasius Jonan jadi Direktur PT KA Indonesia, memang kereta kita banyak mengalami perubahan. Semua sudah nyaman. Tak ada lagi kereta dengan kipas angin. Tak ada lagi penumpang tanpa tiket naik ke gerbong. Lorong antar bangku pun lebih luas daripada gang (aisle) di pesawat terbang.

“Stasiun Pasar Turi melayani kereta jalur utara, dari sini ada 13 pemberangkatan, mayoritas kereta eksekutif. Sementara Stasiun Gubeng melayani jalur selatan, total ada 15 pemberangkatan, dengan mayoritas kereta ekonomi,” kata Deddy.

Deddy mengungkapkan, sangat disayangkan, meski ada nomor kontak petugas KA di setiap gerbong, penumpang yang kecewa pada pelayanan kereta lebih suka memviralkan di medsos. “Perlu edukasi dan literasi khusus soal ini, sebagai fenomena yang terjadi di moda transportasi utamanya kereta dan udara,” kata Deddy saat berdiskusi dengan Maria Kristi.

Deddy seorang petugas kereta penuh dedikasi. Pria yang sudah pernah menikmati perjalanan kereta cepat di China ini mengaku pernah dua kali diludahi oleh penumpang, saat menjadi kepala stasiun di dua kota lain sebelum ini.

“Itulah rupanya, mengapa para petugas kereta api itu nama depannya Sabar,” selorohnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.