Dalam Minggu sebelum GMS Super Conference, Pastor Philip Mantofa berbagi impartasi Firman Tuhan tentang doa.
Dalam tema besar, ‘The 4th Dimension of Prayer, Pastor Philip menekankan, ada sebuah dimensi tak kelihatan di mana Allah hidup. Dimensi keempat terjadinya peperangan rohani, alam roh di mana doa berkuasa dan mengubah segala perkara.
“Doa itu benar-benar memindahkan gunung. Hanya saja tak semua orang terlatih di area ini. Doa adalah sarana dashyat yang jarang dipakai sebagian besar orang Kristen di muka bumi,” ucapnya.
Mendasarkan Firman Tuhan dari kisah Elia di I Raja-Raja 18:42-46, sesi kali ini berjudul ’Awan Kecil Sebesar Telapak Tangan’. Ini adalah peristiwa di mana Elia berdoa dengan membungkukkan ke tanah dengan mukanya di antara kedua lututnya. Demi doa agar hujan turun ke Israel. Pada tujuh kali setelah doa itu, awan kecil nampak sebesar telapak tangan di atas laut. Lalu turunlah hujan badai amat lebat.

”Dalam hidup ini bukan soal agamamu, tapi kerohanianmu. Kerohanian itu tak bisa dipalsu. Hidup rohani itu akan menjaga hidupmu sampai Tuhan datang,” ungkapnya.
Philip menytaakan, selalu akan ada ’the end’ untuk orang-orang yang utamakan makan atau kenikmatan daripada doa. ”Ahab adalah orang Kristen yang utamakan kedagingan. Tak utamakan kerohanian, apalagi doa,” jelasnya.
Banyak orang berkata, ”Kalau gua doa, dapat apa? Mana mujizatnya?
Apa bedanya, yang lain tidak berdoa juga bisa sukses.” Tanpa doa dengan sungguh-sungguh, orang tak mewahyukan apa-apa.

Sebelum meminta, doa itu yang penting adalah bergaul dan menciptakan dengan orang terpenting sejagat raya: Tuhan Yesus Kristus. Carilah wajah Tuhan, minta perlindungan yang baik, bebaskan kami dari yang jahat, sebagaimana Tuhan mencukupi Elia dengan burung gagak.
”Tuhan mempedulikan kita sampai kebutuhan jasmani. Seperti Elia dicukupkan dengan gagak yang membawa roti, tapi roti itu tak dimakan oleh gagak. Kalau sudah kasih berkat dan arahkan ke rumah seseorang, tak akan orang yang berani mencicipinya, kecuali keluargamu,” paparnya.
Muka di tengah lutut
Mengapa Elia berdoa naik ke Gunung Karmel, dengan membungkuk ke tanah, dengan menaruh mukanya di tengah lututnya? Itu artinya karena ia tak mau diganggu saat berdoa. Fokus 100 persen pada Yesus. ”Ia tahu kapan meninggalkan semua hal untuk berdoa. Mundur beberapa langkah untuk tidak ramai-ramai dengan dunia, menutup mata dan kupingnya,” terang Philip.
Dengan menutup mata dan telinga, menunjukan Elia memiliki hubungan personal yang sangat kuat dengan Tuhan. Hubungan yang kuat dengan Tuhan, tak bisa dilakukan tanpa hubungan doa yang kuat.

Yakobus 5:16 tertulis, ”Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakin, earnestly. Earnet tak hanya bicara keyakinan, tapi kesungguhan hati, ’violent in faith’. Jangan doa dengan asal-asal. Bangun hidupmu di atas dasar satu jam penuh, bangun hidupmu di atas hidup doamu.
”Bukalah pintu untuk aktivitas roh sepanjang harimu. Aktivasinya itu ada di lutut, dengkul,” ucapnya.
Philip menggarisbawahi, semua dalam hidup kita dibangun di atas lutut. ”Core kehidupan Kristiani dibangun di atas lutut,” ucapnya.
Siapa bilang doa itu tutup mata? Doa adalah menutup mata untuk membuka mata dengan cara berbeda. Orang yang berdua tak lagi melihat masalahnya tapi janji. Karena itu, jaangan cepat kecewa jika tak semua doa dijawab instan.
Dua pesan kunci disampaikannya. Pertama, orang yang berdoa punya mata profetik. Kedua, orang yang berdoa membaca tanda-tanda kecil dari Tuhan.
”Iman bekerja sama dengan ketekunan. Orang yang berdoa matanya peka. Prayer give you extra pairs of eyes, melihat semua dari perspektif Allah,” ungkapnya.
Selengkapnya di sini.

