Kalimantan Barat provinsi amat luas. Pengalaman Heriyanto dari wartawan majalah kampus, penulis pemula sampai pemimpin redaksi Pontianak Post membuatnya paham sisi-sisi kemanusiaan mana saja yang perlu diangkat dari Bumi Khatulistiwa ini.
Tiga puluh feature -cerita berita- dipaparkannya dalam 130 halaman. Semuanya merupakan tulisan yang pernah ditayangkan Pontianak Post. Heri, yang kini tengah menempuh pendidikan doktoral di negeri jiran, menuliskannya pada beberapa tema.
Kisah kesenjangan perbatasan
Di sini, Heri bertutur mengenai timpangnya pembangunan di batas antara Kalbar dan Malaysia. Ada kisah bagaimana anak-anak sekolah di SD dan SMP Sambas harus melewati berkilometer jalan setapak, sambung ke perahu agar bisa sekolah tiap hari.
Sudianto, seorang guru yang tinggal di kampung itu bercerita, sering ada anak yang terjatuh saat menuju sekolah. Baju dan celana menjadi kotor. ”Sampai di sekolah, pakaian dipenuhi tanah,” ujarnya.
Hampir sepertiga warga jadi TKI di Sarawak, Malaysia. Dengan banyak ringgit yang dikirim, beserta aset motor, televisi, parabola, dan lain-lain, tak heran para tetangga mengikuti jejak pekerja migran. Di rantau, mereka kerap disebut ‘orang kosong’ karena tak punya dokumen legal.
Sisi sedihnya, sedikitnya 60 ribu anak pekerja perkebnuan asal Indonesia tidak bersekolah. Tak bisa baca tulis di usia sekolah, dan masa depannya bisa ditebak, mengikuti jejak orangtuanya jadi pekerja kasar di Malaysia.
Imbas konflik etnis
Kali lain, Heri membuka bab terakait jejak pascakonflik etnis Dayak-Madura awal 2000 lalu. Dari menjalani hidup di pengungsian, keluarga korban konflik tinggal sebagai pembuat kain tenun sambas. Hampir 40 wanita Tangguh ada di situ.
Ada Fatimah, ada Julia, yang mengingat masa kecil dibawa pergi dari Sambas saat rumahnya dibakar perusuh dan hanya bisa menangis ketakutan.
Bocah-bocah Jermal
Potret tragis lain yakni anak-anak yang berkarya sebagai pencari ikan. Menghabiskan masa kecil di tengah laut. Pekerja Jermal. Jermal adalah sebuah alat yag sengaja dibuat untuk menangkap ikan, terbikin dari kayu-kayu nibung dengan ketinggian hingga 5 meter di atas permukaan laut. Satu Jermal bisa seharga Rp 100 juta.
Cerita humanis lain. Ada juga perjalanan khusus Heri ke Singkawang meliput penderita kusta yang berusaha bangkit dari keterasingan. Temasuk stori Tokimin, pembuat kaki palsu yang membantu pasien lepra kembali berjalan tegak.
Demikian pula bab para penjaga hutan yang memantapkan hidup selaras dengan alam. Suku Dayak Uud Danum dan kehidupan agama Kaharingannya. Tradisi tato dayak. Pun dengan budaya seni bertutur Kalbar yang terancam hilang. Serta features tentang bayi-bayi dan ikan hiu yang ditangkap tanpa lagi punya sayap dan ekor.
Tarima Kasih Heri untuk banyak ceritanya. Dari kami yang belum seberuntungmu mengeksplorasi Kalbar begitu dalam.

