Firman Tuhan pada ibadah pukul 13.00 WIB di GMS Puri dibawakan Pdp Fandi Gunawan dari GMS Sby Barat.
Bagaimana menemukan suara Tuhan di tengah kebisingan, Fandi mendasari Firman Tuhan dari Yesaya 30.
”Mendengarkan tuntunan Tuhan di marketplace bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah disiplin,” kata Ketua Bizcon GMS (Business Connections, wadah pelayanan entrepreneur dan profesional di GMS) itu.

Dari Yesaya 30, kita belajar bagaimana Tuhan mengingatkan Israel agar tak ’berkiblat’ pada Mesir dan Asyur. Dalam Yesaya 30:1-17, Mesir digambarkan sebagai bangsa yang kuat, sehingga kerap menjadi jujugan atau referensi mencari pertolongan. Sejak zaman Abraham hingga kelahiran Yesus. Sementara Asyur terkenal dengan dewa-dewanya.
”Sindrom Mesir adalah mengandalkan manusia. Negara yang stabil, dengan Firaun yang berkuasa amat keras. Di sini manusia mengandalkan rasio murni dan logika,” jelasnya. Sistem Mesir kuat karena bergantung pada infrastruktur modern dan sistem ekonomi yang tangguh, serta memuja kekuatan manusia.

Sementara itu, Yesaya 30:27-33 menggambarkan Sindrom Asyur. Bangsa yang mengandalkan mistisisme dan sinkretisme. Mencari jalan pintas melalui penyembahan berjala serta dewa-dewi duniawi.
Di antara itu, Jalan Tuhan tidak bersandar pada sistem manusia yang rasional murni maupun ilah lain. Berserah penuh pada kedaulatan dan tuntutanNya di marketplace.
Yesaya 30:15-16,Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu tidak mau, malah kamu berkata: “Bukan, kami mau lari naik kuda!” Sebab itu kamu akan lari. Katanya: “Kami mau lari menunggang kuda cepat!” Sebab itu pengejarmu akan lebih cepat lagi.
”Tuhan ingin hidup kita kokoh. Jangan melenceng ke kekuatan manusia Mesir atau ke kekuatan dewa seperti Asyur,” urai lulusan sarjana Teknik Arsitektur tahun 2000, yang merintis bisnis otomotif bersama dengan keluarga hingga bisa berpartner dengan ATPM terbesar se-Indonesia untuk area Jatim-Bali ini.
Fandi melanjutkan, Tuhan tidak sabar menanti Anda. “Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menantikan Dia.” Yesaya 30:18.
Tuhan sebenarnya tidak sabar untuk memberkati kita. KasihNya melimpah ruah. Seperti lirik lagu penyembahan: ’Tak kusangka, sejak dulu, Kau menunggu hidupku, di altarMu kusadari, selama ini Kau menanti.’”

Rajutan Tuhan atas diri Anda belum selesai. Ia menanti-nantikan Anda. Yesaya 30:19 menekankan, engkau tidak akan terus menangis. ”Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab.”
Fandi menambahkan, sesekali menangis boleh, tapi jangan terus menangis, karena hal itu akan menjadi sikap mengasihani diri.
”Jangan terseret keadaan. Engkau tidak akan terus menangis, jangan biarkan lensa fokus Anda teralihkan pada masalah dan kesedihan masa lalu,” tegasnya.

Bahaya secara spiritual, jika emosi yang terus larut dalam keputusasaan akan menutupi kepekaan rohani kita dalam mengambil keputusan bisnis di marketplace.
Membalikkan nilai roti dan air
Selanjutnya, dari Yesaya 30:20, “Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu.”
Konteks historisnya, roti dan air merupakan dua penopang utama kehidupan. ”Tetaplah bersyukur. Manusia memiliki daya adaptasi yang luar biasa. Di tengah kesesakan bisnis, di situlah mata kita akan paling jelas melihat Sang Pengajar,” pesannya.

Fandi memaparkan, ada empat level kepekaan mendengar suara Tuhan.
Level pertama: tebak-tebakan. Trial and error murni. Tidak ada keintiman, hanya mengandalkan kebetulan dalam berbisnis.
Level kedua: tersurat. Membaca Firman dan petunjuk Tuhan secara literal dan logis.
Level ketiga: tersirat. Mampu menangkap prinsip dasar, hikmat, dan pesan di balik layar dari sebuah kejadian.
Level keempat: tacit. Pengetahuan rohani tertinggi. Melebur dalam institusi, Anda sangat peka mengetahui kehendakNya tanpa harus dijelaskan secara tertulis.

Tuhan ingin kita membersihkan hati dari segala berhala bisnis. Baik yang ’tangible’: berhala kasatmata berupa objek fisik, patung, jimat, atau benda mistis.
”Tuhan tidak suka diduakan. Buang semua hal yang menghalangi, dan mulailah dari ketaatan sederhana: Berdoa dan libatkan Tuhan bahkan dalam hal kecil, seperti doa makan,” pesannya.
Juga yang ’intangible’: Mendewakan popularitas, pengalaman masa lalu, uang, atau bersandar penuh pada koneksi dan backing manusia.

Selanjutnya, Yesaya 30:23 mengajarkan hukum kemitraan ilahi: hujan dan benih.
”Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas.”
Jadi, yang mana duluan, hujan atau benih?
Janji Tuhan yakni hujan, janji pemulihan dan berkat Tuhan selalu ada lebih dulu, tetapi menuntut aksi.

Eksekusi di marketplace:
- Tetap menabur dan bekerja keras
- Terus asah kompetensi dan belajar
- Cari prospek dan rutin temui customer
- Masukkan penawaran dan benahi toko
Maka, kita akan makan roti yang lezat dan berlimpah. ”Tuhan berkenan dan menghargai keringat kita dengan hasil yang berlipat ganda.”
Klimaksnya, Yesaya 30:26, Maka terang bulan purnama akan seperti terang matahari terik dan terang matahari terik akan tujuh kali ganda, yaitu seperti terangnya tujuh hari, pada waktu TUHAN membalut luka umat-Nya dan menyembuhkan bekas pukulan.
”Bisnis Anda tidak akan terasa gelap lagi, Tuhan akan menyembuhkan bekas pukulan masa lalu dan menggantinya dengan masa depan yang gemilang.”

Akhirnya, apa yang harus kita siapkan hari ini:
Pertama, berhenti menangis, mulai berlaga
Tuhan menanti Anda dengan kasihNya. Jangan biarkan fokus Anda terus terseret oleh masalah dan keadaan masa lalu.
Kedua, buka telinga rohani (tacit knowledge)
Tingkatkan level kepekaan Anda. Buang berhala yang mengganggu sinyal dan dengarkan suara Tuhan yang membimbing arah keputusan Anda.
Ketiga. Teruslah menabur benih
Tuhan menjamin hujanNya. Tugas kita: tetap asah skill, temui prospek, masukkan penawaran, dan bekerja dengan keunggulan. Tuhan akan melipatgandakan semua.


