Ngangkring di Omah Londo Solo

Salah satu rekomendasi lokasi ngopi, meriung, atau bekerja sambil nunggu kereta di Surakarta. Omah Londo, bangunan bersejarah, kini menyediakan aneka menu angkringan naik kelas.

Menunggu Kereta Api Singasari dari Solo menuju Jakarta, masih sejam lebih. Ternyata, di Stasiun Purwosari tak ada kafe memadai di lokasi sebelum pemeriksaan tiket. Jadi, agak susah bertemu kawan yang tak ikut naik kereta.

”Jalannya agak jauh, Mas. Sekitar 10 menit ke kanan,” kata petugas tiket KA Purwosari saat ditanya di mana kafe terdekat yang asyik.

Ah, ternyata enggak juga. Feeling menuntun, menyeberang Stasiun Purwosari, ada ’Omah Londo’, berdempetan dengan Hotel Mercure. Ternyata, ini kafe bersejarah. Dua sahabat Solo saya, Imron Rosyid dan Okta Riska ‘Ghandhen’ Sukhmana menegaskan fakta. Bahwa Omah Londo merupakan bekas rumah dinas kepala Pabrik Es Sari Petojo Solo. Pabrik esnya sudah berubah jadi Hotel Mercure itu.

Kisahnya berawal dari kawasan Purwosari, Solo, yang pada masa Hindia Belanda dikenal sebagai lokasi Pabrik Es Sari Petojo. Pabrik es ini telah berdiri sejak sekitar 1888, ketika perusahaan bernama Solosche Ijsen Maatschappij mendirikan usaha produksi es di kawasan Poerwarsweg—sekarang Jalan Slamet Riyadi, Purwosari. Sari Petojo termasuk bagian dari sejarah industri modern awal Kota Solo.

Pada masa itu, es merupakan komoditas penting. Produksi es bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan perdagangan, perhotelan, rumah sakit, restoran, hingga pengawetan bahan makanan. Karena itu, keberadaan pabrik es menjadi bagian dari perkembangan kota modern di masa kolonial.

Nama Sari Petojo kemudian menjadi sangat dikenal dan bertahan lintas zaman. Pabrik ini bahkan mengalami kebakaran pada 1953 dan kemudian dibangun kembali; menurut salah satu catatan sejarah yang saya temukan, pembangunan kembali selesai pada 1969, disusul renovasi pada 1970-an.

Babak penting: ketika Sari Petojo hendak diubah

Kisah Sari Petojo kembali menjadi perhatian publik sekitar 2011, ketika muncul rencana pengembangan kawasan tersebut menjadi pusat perbelanjaan. Rencana itu memicu perdebatan mengenai apakah bangunan lama Sari Petojo harus dipertahankan atau dapat dibongkar untuk pembangunan baru.

Saat itu, Joko Widodo, yang menjabat Wali Kota Solo, termasuk pihak yang mempertanyakan rencana tersebut. Perdebatan dengan Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bibit Waluyo, kemudian menjadi salah satu episode yang cukup terkenal dalam sejarah politik Kota Solo. Kajian dari tim pelestarian bangunan saat itu menyimpulkan bahwa bangunan utama Sari Petojo tidak berstatus cagar budaya, sementara rumah dinas pegawai pabrik di sebelahnya dinilai memiliki nilai pelestarian.

Pada akhirnya, kawasan ini pun mengalami perubahan besar. Bekas kompleks pabrik kemudian berkembang menjadi kawasan komersial dan hotel. Namun, sebagian bangunan lama tetap bertahan. Salah satu bangunan itulah yang kemudian dikenal sebagai Omah Londo dan dimanfaatkan sebagai tempat makan dengan konsep angkringan. Salah satu sumber mencatat bahwa dari kawasan bekas pabrik tersebut, sekitar 400 meter persegi bangunan tersisa dan kemudian digunakan sebagai Angkringan Omah Londo.

”Nama Omah Londo secara sederhana berarti ’Rumah Belanda’ atau rumah bergaya Belanda. Nama itu cocok dengan karakter bangunannya yang mempertahankan kesan rumah tua dan suasana kolonial,” ungkap Imron.

Menariknya, konsep Omah Londo justru mengambil sesuatu yang sangat ’Solo’: angkringan.

Jadi, ada semacam pertemuan tiga lapisan sejarah:

Warisan kolonial, terkait Pabrik Es Sari Petojo dan perkembangan kota modern Solo.

Angkringan sebagai tradisi kuliner rakyat Jawa.

Omah Londo sebagai ruang kuliner dan tempat nongkrong masa kini

Itulah yang membuat tempat ini memiliki daya tarik lebih daripada sekadar restoran.

Pengunjung bisa menikmati makanan yang identik dengan angkringan—seperti nasi bungkus, lauk, gorengan, sate-satean, dan minuman tradisional—tetapi suasananya berada di bangunan tua dengan nuansa tempo doeloe. Sejumlah ulasan pengunjung juga menggambarkan Omah Londo sebagai tempat makan dengan atmosfer vintage dan bangunan klasik, dekat dengan kawasan Stasiun Purwosari dan hotel di bekas kawasan Sari Petojo.

Yang membuat Omah Londo istimewa karena konsep’”menghidupkan kembali sejarah melalui kuliner’.

Kalau pabrik es Sari Petojo adalah simbol Solo sebagai kota industri dan perdagangan pada masa lalu, maka Omah Londo adalah contoh bagaimana fragmen sejarah kota bisa diberi fungsi baru.

”Orang datang ke sini bukan hanya untuk makan. Mereka juga mendapatkan pengalaman berada di sebuah ruang yang membawa imajinasi ke masa lalu: rumah tua, arsitektur klasik, suasana kolonial, dan makanan rakyat khas angkringan,” kata Ghandhen.

Dengan kata lain, Omah Londo adalah pertemuan antara ’rumah orang Belanda’ dan ’lidah wong Solo’.

Leave a Reply

Your email address will not be published.