Ratapan 2:22-23 menjadi dasar Pendeta Didik Rochadi untuk pelajaran awal pekan ini. Kasih setiaNya tetap sama dan baru setiap pagi.
Kita kerap mengawali hari dengan kekhawatiran dan kegagalan hari kemarin. Muncul dua kelompok orang percaya. Yang tetap berada dalam kekelaman dan yang berhasil melewatinya dalam Tuhan.
Harapan sejati tidak lahir karena keadaan yang berubah tapi karena Tuhan yang tak pernah berubah. Karakter kasihNya bukan berdasar layak tidaknya manusia, tapi karena kasih setiaNya sendiri.
Bedakan hukuman untuk membinasakan dan hukuman untuk mendisiplin. Yehuda tetap menyembah berhala, meski sudah diperingatkan sedemikian rupa. Maka, mereka didisiplinkan selama 70 tahun di Babel.
Rahmatnya tak pernah habis. Belas kasihan untuk mereka yang tak layak menerimanya.
Selalu baru setiap pagi. PertolonganNya selalu tersedia setiap hari. Sama seperti Ia menyediakan manna di padang gurun setiap hari, demikian pula kasih karuniaNya selalu ada tiap pagi. Jangan hidup dari pengalaman hari kemarin yang tanpa Tuhan.
Besar setiaNya. Kesetiaan Allah tak pernah berubah. Tak pernah tergantung pada kesetiaan kita.
Orang percaya tetap memiliki pengharapan di tengah penderitaan. Karena Allah tak pernah berubah.
Ingatlah tak berkesudahan kasih setia Tuhan.
Tetap berharap di tengah kesulitan.
Syukuri rahmatNya setiap pagi.
Percayailah kesetiaanNya setiap hari
Mari resapi Hymne ‘Besar SetiaMu’ karya Thomas Obadiah Chisholm

