Man Shabara Zhafira, Perjuangan Berbekal Kesabaran
Saya tergolong telat membaca buku kedua dari seri triloginya Ahmad Fuadi. Tapi, tetap saja menghadirkan inspirasi luar biasa.
Dua mantra yang menjadi intisari Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Menara memberi makna kuat bagi perjalanan setiap orang yang mendamba kesuksesan dan berangkat dari titik nol penderitaan. Setelah ‘man jadda wajada’ –siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh akan berhasil- menjadi kekuatan di novel pertama, kemudian muncul ‘mantra’ kedua: man shabara zhafira, siapa yang sabar akan beruntung.
Continue reading “Man Shabara Zhafira, Perjuangan Berbekal Kesabaran”
Beda Sikap NU dan PGI
Dua lembaga keagamaan besar berbeda pendapat soal hukuman mati.

Dalam sebuah kebun, tak semua bunga harus berwarna merah. Dalam demokrasi, berbeda pendapat itu biasa. Menjelang rencana eksekusi hukuman mati kloter kedua oleh Kejaksaan Agung di Nusa Kambangan, Jawa Tengah, suara-suara pro dan kontra hukuman mati bermunculan. Yang mendukung antara lain Komisi Nasional Perlindungan Anak, dan Gerakan Anti Narkotika. Yang menolak, di antaranya kelompok pegiat hak asasi manusia, termasuk Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).
Pelajaran PR-ing dari Lion Air dan Dunkin Donuts
Keahlian seorang public relations bisa diukur dari bagaimana kemampuan dia menangani krisis.

Kamis (26/2) petang pekan lalu, dunia media sosial heboh karena cuitan dari akun bernama @OfficialLionAir, yang memiliki lebih dari 2.500 pengikut. Dalam kicauannya, akun bergambar maskapai berlogo singa tersebut menuliskan, “Tweeps dalam penerbangan kalian pilih mana? Kena delay atau ngga pernah sampai?” Dalam hitungan sekon, reaksi netizen bermunculan mengkritik dan bahkan memaki cuitan itu. Mantan anggota DPR dan pengamat penerbangan @alvinlie21 berkomentar, “Tdk pernah terbayang akan ada airlines ngetwit & berargumen sprti ini. Speechless.”
Continue reading “Pelajaran PR-ing dari Lion Air dan Dunkin Donuts”
Coutinho, Sang Pembeda dari Rio
Dua laga berturut-turut di Liga Primer, Coutinho membuat gol spektakuler. Kehadirannya menjadi ‘energizer’ khusus bagi The Reds.
Konon, untuk jadi pemain yang sukses dan dicintai pendukung Liverpool di era kekinian, syaratnya sederhana: pemain itu harus pernah bermain di Gelora Bung Karno, Jakarta, dan bikin gol di rumput Senayan. Setidaknya, Luis Suarez dan Philippe Coutinho membuktikan joke itu.
http://www.youtube.com/watch?v=G_4nSARie5s
Karena Basuki Tak Pernah Berjalan Sendiri
Ahok adalah simbol perlawanan terhadap korupsi dan praktek main-main anggaran. Jabatan tak lagi dianggapnya penting.
Bak Will Smith yang berjalan sendirian dalam film I am Legend, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tak pernah ambil pusing. Ia pun tak pernah takut saat 95 dari 106 anggota DPRD DKI Jakarta menandatangani hak angket untuk menjatuhkan dirinya. Bagi Ahok, perjuangannya melawan ‘dana siluman’ alias dana rekayasa DPRD Rp 12,1 triliun –dari total APBD DKI Rp 73 triliun- rupiah lebih penting daripada mempertahankan jabatan gubernur.
Sebagaimana dikutip Tempo, Ahok membeberkan dana-dana yang besarannya tak masuk akal itu, antara lain:
– Pengadaan buku trilogi Ahok: Nekad Demi Rakyat Rp10 miliar
– Pengadaan buku trilogi Ahok: dari belitung menuju istana Rp10 miliar
– Pengadaan buku trilogi Ahok: Tionghoa Keturunan Ku Indonesia Negara ku membangun Rp10 miliar
Continue reading “Karena Basuki Tak Pernah Berjalan Sendiri”
Ini Kata Jurnalis TV Mengapa Harus Nyemplung Saat Liputan Banjir
Sebagaimana dimuat di Merdeka.com
Merdeka.com – Jakarta hari ini hujan deras, banjir pun terjadi di mana-mana. Beberapa daerah, seperti di Kelapa Gading, Jakarta Utara lumpuh total.
Di stasiun televisi, kita menyaksikan para reporter berjibaku dengan liputan banjir. Mereka menyiarkan secara langsung di tengah derasnya hujan dan kubangan air banjir, dengan menggunakan mantel.
http://www.youtube.com/watch?v=FKGKcaDju6A
Continue reading “Ini Kata Jurnalis TV Mengapa Harus Nyemplung Saat Liputan Banjir”
Papa, yang Hari Ini Berulang Tahun ke-60
* dimodifikasi dari repost tulisan 30 Januari 2014
Hari ini, Papa semestinya berulangtahun ke-60. Tahun lalu, Papa mengakhiri pertandingan dengan baik, mencapai garis akhir, dan telah memelihara iman. Papa mengajarkan banyak hal: loyalitas, ketekunan, dan kepasrahan pada Sang Kuasa.

Hari ini, Facebook mengingatkan daftar ‘teman’ yang berulangtahun: 27 Februari 2015. Salah satunya, Papa. Pak Sugeng, ayah tercinta saya, kelahiran Magetan, Jawa Timur, pada 1955. Setahun lalu, tepat sebulan sebelum hari jadinya ke-59, Papa meninggalkan dunia yang fana ini.
Papa menyelesaikan perjuangannya, setelah dirawat intensif tak sampai 2 x 24 jam di Rumah Sakit Bakti Dharma Husada dan RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Penyakit gula alias kencing manis yang kian mengganas, membuat beberapa kondisi bagian tubuh luar dan dalam Papa memburuk.
Menanti Kepala Telik Sandi Baru Jokowi
Sejumlah nama siap mengisi posisi baru pucuk pimpinan BIN. Siapa dipilih presiden?

Empat purnama sudah Joko Widodo menjadi presiden republik ini. Ada 34 menteri sudah ditunjuknya. Begitu pula untuk posisi penting lain: Sekretaris Kabinet, Kepala Staf Kepresidenan, Jaksa Agung, dan Kapolri –yang ini kepastiannya masih menunggu usai DPR reses bulan depan. Tapi, untuk posisi Kepala Badan Intelijen Negara, posisi Letnan Jenderal (Purnawirawan) Marciano Norman belum juga diutak-utik.
Marciano, pria kelahiran Banjarmasin 61 tahun silam, merupakan kepala telik sandi pilihan Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelum menggantikan Jenderal Polisi (Purn.) Sutanto sebagai Kepala BIN pada Oktober 2011, perwira kavaleri itu punya rekam jejak sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden sejak 2008 hingga 2010.
Munhar dan Gaji yang Belum Terbayar
Seorang pemain sepak bola menuntut haknya. Media sosial menjadi corong kegundahan.

Sampai Rabu (25/2) petang, akun @Munhar_53 memiliki 20 ribu pengikut. Lebih dari 21 ribu cuitan disampaikan pemilik profil bernama ‘Allah Tujuanku’ dengan keterangan bio ‘Menuju Hidup kekal bahagia untuk selamanya dalam pelukan kasih & sayangnya bersama (ALLAH)’. Tapi, jangan salah sangka, dia bukan seorang ustad atau penceramah agama. Dukungan terus mengalir, karena pria ini berada pada posisi sebagai pemain sepakbola yang ‘tertindas’.
Bernama singkat, hanya satu kata, Munhar biasa menempati posisi sebagai pemain belakang: libero, stopper, atau bek kanan. Kelahiran Sidoarjo, 5 November, 28 tahun silam, Munhar tiga musim terakhir berkostum Arema Malang. Kini, saat Liga Super Indonesia ditunda karena –antara lain- belum beresnya profesionalisme klub peserta liga, Munhar angkat bicara melalui media sosial.
