Totalitas saat Liputan

Tak mau kelewatan momen dalam peliputan gerhana, lima jurnalis dalam satu tim ini memilih menginap di dekat TKP.

Tim ini beranggotakan Margaretha Sembiring, Vividha Jati, Shanaz Marti Utami, Bonita Widi dan Arfyana Citra Rahayu. Mereka hanya menghasilkan video berdurasi 2 menit 8 detik, namun berhasil membangun kesan bagi pemirsa, bahwa momen Gerhana Matahari ternyata dianggap penting bagi sebagian warga Jakarta.

Setidaknya, dua pilihan narasumber mereka, seorang pimpinan pramuka yang memimpin regunya menginap di Planetarium serta seorang perempuan yang merasa momen gerhana amat ‘amazing’ mewakili kesan itu. Atmosfer liputan yang membawa pemirsa seolah ada di lokasi juga terbangun dari natural sound pemberi pengumuman dari petugas bahwa kacamata gratis dari Planetarium sudah habis.

Lagi-lagi kelemahan muncul karena masih ‘malas’ memberi CG pada ruang bagian bawah layar, sehingga bisa memperjelas konten berita yang disajikan. Namun, adanya ‘gimmick’ berupa grafis di ujung paket memberi nilai istimewa, untuk menjelaskan daerah mana saja di Indonesia yang disapu fenomena langka itu. Insert dan belanjaan visual mereka juga menawan. Salut untuk lima srikandi peliput gerhana ini.

Effort lebih dengan menginap

Kelompok ini tak mau kesiangan tiba di lokasi. Mereka bahkan berangkat sore sehari sebelumnya, dan menginap di sebuah budget hotel di kawasan Hotel Cikini. “Sesampainya di hotel, kami menyusun list persiapan untuk liputan, yaitu siapa yang bertugas menjadi camper, reporter, dan sebagainya,” papar Maggie.

Esok subuhnya, mereka hanya perlu berjalan kaki 15 menit dari hotel ke Taman Ismail Marzuki.  “Suasana di sana sudah sangat padat, banyak juga dari mereka yang rela menginap di Taman Ismail Marzuki demi mendapatkan kacamata khusus, bahkan ada yang sampai bertengkar karena tak terima antreannya dipotong,” kisah Bonita.

Vividha menambahkan, setelah berhasil mewawancari tiga narasumber, salah satunya tidak mereka masukan dalam video, tim memperbanyak stok gambar agar tidak kekurangan saat mengedit. “Walaupun banyak gambar yang shake dan kurang bagus, tapi kami mencoba semaksimal mungkin dalam ‘berbelanja’ saat itu,” kata Shanaz.

Sekitar 9.30 pagi, mereka kembali ke hotel dan tengah hari kembali ke Serpong dengan kereta. Proses berikutnya yakni mengedit gambar, mengetik naskah serta mengisi syara yang dikerjakan bersama dengan komando Bonita dan Arfy. Betapa sebuah pengalaman dan usaha keras untuk menghasilkan sebuah karya jurnalistik bagi mahasiswa seperti mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *