Disruption: Mari Hadapi Guncangan Model Bisnis Baru

Resensi buku terbaru Rhenald Kasali. Dimuat di Jawa Pos, Minggu, 2 Juli 2017.

Kita hidup dalam dunia yang sudah berubah jauh. Sudah amat berbeda bergerak maju, setidaknya dibandingkan era di mana kebanyakan dari generasi kelas menengah kita (yang saat ini berusia 40-50an tahun) masih ada di usia sekolah. Zaman di mana mesin ketik berbunyi ‘ting…!’ jelang kertas berakhir. Era di mana pengiriman berita dilakukan dengan faksimili, pos, atau telpon di wartel. Atau masa di mana telepon rumah masih menjadi barang mewah, yang membutuhkan waktu antrean berbulan hingga tahunan hingga pihak Telkom mengabulkannya.

Profesor Rhenald Kasali bolehlah disebut sebagai pakar ‘Manajemen Perubahan’, terutama sejak buku ‘Change!’ karyanya menjadi buah bibir pada 2005. Padahal itu, bukanlah bukunya yang pertama. Sebelumnya, Ph.D dari University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat ini pernah meluncurkan ‘Sembilan Fenomena Bisnis’ (1997), ‘Membidik Pasar Indonesia: Segmentasi, Targeting dan Positioning’ (1998), dan ‘Sembari Minum Kopi Politiking di Panggung Bisnis’ (2001).

Kali ini, sang professor mengingatkan, era ‘Change’ dan ‘Cracking Zone’ sudah bergerak amat cepat. Masih teringat, di era unjuk rasa besar-besaran taksi konvensional melawan taksi online, menjepit pemerintah di tengah-tengah, pesan viral Rhenald Kasali melejit dari percakapan satu telepon pintar ke telepon pintar lainnya. Kuliah singkat itu berjudul ‘Hati-hati ‘Sudden Shift’, Fenomena Perubahan Abad Ke-21’, menegaskan kita semua berada di era ‘shifting’. Teringat refleksinya di akhir pesan itu:

“Konsumen perbankan pun mulai meninggalkan kunjungan ke loket-loket bank. Mereka beralih ke mobile banking. Pemakaian voice dalam berkomunikasi beralih ke cara-cara baru: data. Dari voice ke BBM, lalu pindah lagi ke Whatsapp dan media sosial.

Sama halnya pertarungan sengit yang tengah dihadapi tukang-tukang ojek pangkalan versus Go-Jek dan Grab-Bike, atau taksi biasa versus Uber. Semua mengalami gejala shifting.

Jadi, jangan melulu menyalahkan krisis ekonomi dunia karena krisis berdampak pada semua usaha, dan kali ini terjadi luas di seluruh dunia. Yang jauh lebih penting bukan krisis itu sendiri, bukan dollar AS, melainkan mengenai apa respons kita terhadap usaha yang kita jalani, dan apa respons kita untuk mempersiapkan masa depan anak-anak kita dalam dunia yang benar-benar baru ini…”

Lawan-lawan yang Tak Terlihat

Kini, di buku barunya, Rhenald Kasali menegaskan kita tengah memasuki era baru, yang disebutnya sebagai ‘Peradaban Uber’. Disruption terjadi. Taksi online merajalela mengalahkan taksi-taksi berlogo. Di bandara, petugas konter check-in sudah hampir tak ada lagi dan digantikan mesin. Pelayanan pun menjadi serba self-service dan lebih efisien. Produsen makanan olahan kehilangan pendapatan milyaran, karena rombongan tukang sayur bersepeda motor semakin banyak mendatangi kawasan perumahan.

 

Secara singkat disimpulkan, model bisnis yang dulu kebanyakan owning economy kini beralih menjadi sharing economy. Dunia lama identik dengan ‘on the lane economy’ (menunggu pada antrean) berganti menjadi ‘on demand economy’ (begitu diinginkan, saat itu juga tersedia). Kalau dulu supply-demand tunggal, kini supply-demand nya berjejaring. Kalau dulu dalam bisnis lawannya jelas, kini lawan-lawannya tak terlihat. Ditegaskan Rhenald Kasali, era ini membutuhkan disruptive regulation, disruptive culture, disruptive mindset dan disruptive marketing.

 Singkat kata, disruption adalah sebuah inovasi. Inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disruption menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru, menggantikan teknologi lama yang serbafisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat. Lebih singkat lagi, disruption adalah inovasi yang menjadi ancaman bagi incumbent.

Profesor Harvard Business School Clayton Christensen berujar, “Disruption menggantikan pasar lama dan menghasilkan kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif dan kreatif!”

Sementara sang pendiri Facebook, Mark Zuckerberg menekankan, sukses tergantung pada kemampuan kita menyelaraskan ketiga hal: iteration, innovation, dan disruption. “Jika Anda tidak mendisrupsi diri sendiri, Anda akan mendapatkannya dalam bentuk ‘hadiah’ dari orang lain,” ungkapnya.

Buku ini mengungkap jelas bagaimana kita mengendalikan antara kesempatan dan ancaman. Dari mencipta menjadi disruptor. Menghadapi ‘anak muda yang galau’ yang terbukti telah mengubah dunia dengan lahirnya gojek hingga bisnis sosial semacam Kitabisa.com.

Profesor Kasali juga menegaskan, disruption telah dan harus terjadi dalam peranan birokrasi. Dicontohkannya, bagaimana perhatian Presiden Jokowi pada perkembangan wisata kawasan Danau Toba, terutama dengan meng-‘on’-kan kembali penerbangan dari dan ke Bandara Silangit, Sumatera Utara menjadikan pemasaran Danau Toba sebagai sebuah disruptive marketing’.

“Kunjungan Presiden berkali-kali ke lokasi yang sama sebenarnya dilakukan untuk menarik perhatian dunia. Setidaknya dimuali dari perhatian masyarakat kokal, kemudian menarik perhatian putra daerah untuk berinvestasi. Pada era digital, kita memerlukan disruptive markting. Kalau hanya berada di dunia fisik, hasilnya tak akan efektif. Apalagi berhadapan dengan aktor-aktor yang tak terlihat,” papar Rhenald Kasali.

Sebagai jurnalis yang mengalami beberapa era shifting, saya merasa disruption terasa begitu cepat. Dari reporter radio yang melaporkan kemacetan lalu-lintas melalui telepon, menjadi wartawan koran dan media online, lalu masuknya platform sosial media menyebabkan platform lama ditutup, hingga bergesernya kita ke era televisi digital dan menonton televisi lewat layar gawai saat ini.

Maka, saya tak bisa mengatakan tak setuju dengan kalimat penutup Profesor Rhenald Kasali di buku setebal 469 halaman ini: Perubahan kali ini tak bisa ditangkal dengan menyangkal atau sekadar mengalisis istilah. Kita perlu benar-benar memandang dengan jernih dan paham betul teori serta teknologi yang membuat sektor yang kita tangani ini terdisrupsi denan perubahan. Lebih baik kita berdamai dan menciptakan cara-cara baru untuk menyambut era baru yang lebih inklusif pada hari esok.

*) Agustinus ‘Jojo’ Rahardjo, pernah bekerja sebagai jurnalis radio, surat kabar, media online, dan televisi. Kini menjadi Tenaga Ahli Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi di Kantor Staf Presiden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *