The Publicist: Public Relations, Cinta, dan Kampanye Hitam Politik

Akhirnya, tamat sudah mengikuti 13 episode ‘The Publicist’, rangkaian sekuel film yang dibuat Viu Indonesia dalam web portal mereka, untuk mengenalkan aplikasi premium untuk nonton film -awalnya berupa drama-drama Korea- ini.

Viu Indonesia niat banget membuat ‘The Publicist’ untuk mengenalkan dirinya dalam versi Indonesia. Diperkuat nama-nama besar artis zaman now seperti Prisia Nasution, Adipati Dolken, Baim Wong, Reza Nangin dan Poppy Sovia, film ini sukses mencabik-cabik emosi para pemirsanya. Apalagi kehadiran sekuel barunya di layar Viu kadang tak jelas. Bisa sehari satu episode, tapi pernah juga tiga hari lewat tak juga nongol kelanjutannya. Sentuhan sutradara Monty Tiwa sukses memainkan plot dan alur cerita naik turun di setiap episode dengan suspense yang terus terjaga.

Awalnya, saya menyukai film produksi Moviesta Pictures dengan dukungan penuh Viu Indonesia ini karena judulnya. The Publicist, memberi ‘term’ baru untuk sebuah profesi yang mungkin saja bisa saya geluti secara total suatu saat. Kalau istilah ‘pi-ar’ atau ‘konsultan komunikasi’ terlalu mainstream, maka istilah ‘The Publicist’ kayaknya keren juga. Wikipedia mengartikannya sebagai: A publicist is a person whose job is to generate and manage publicity for a company, brand, or public figure, especially a celebrity or for a work such as a book, film or album. Most top-level publicists work in private practice, handling multiple clients.

The Publicist diperankan dengan ciamik oleh Pia Nasution, artis yang melejit lewat ‘Sang Penari’ (2011). Profesi sebagai konsultan personal branding menemui tantangan saat ia harus memoles Reynaldy (Adipati Dolken), aktor dengan talenta luar biasa, namun memiliki kepribadian amat labil, terutama masalahnya dengan narkoba. Melewati berbagai kisah, singkatnya sang ‘Publicist’ jatuh cinta dengan kliennya.

Menarik mencermati kisah Julia Tanjung memoles Rey dari aktor yang terpuruk, dapat job teater, sampai kembali memenangi Piala Citra. Juga menarik kala Robert (Baim Wong) ingin maju pilkada tapi terhambat di popularitas dan elektabilitas karena belum punya pasangan. Ketika kemudian Robert mengumumkan ke media telah bertunangan dengan Julia, kemudian serangan ‘kampanye hitam’ pun datang. Muncul foto-foto lawas tak senonoh yang melibatkan masa lalu Julia. Ups, kok mirip banget dengan kondisi kekinian ya…

Sayang, ‘daging’ utama film ini bukan mengipas lebih dalam tentang profesi itu dengan segala liku-likunya. ‘The Publicist’ terjebak pada teori lama bagaimana menggaet pasar, hits, klik, viewers, atau apapun namanya, dengan menonjolkan romansa di atas kisah profesional yang mungkin cenderung hanya bisa dinikmati kalangan intelektual kelas atas.

Cerita berputar bagaimana jatuh bangun kisah cinta Rey, Robert dan Julia, lengkap dengan bumbu sedikit dua kali ciuman panjang dan sekilas adegan ranjang. Sisanya, konflik cinta segitiga yang sampai mengambil lokasi syuting di Jepang, dalam ‘perebutan’ antara Rey dan terhadap seorang Julia.

“Cuma orang goblok yang percaya sama janjinya politikus,” kata Rey pada pertengkarannya dengan Robert di sebuah sudut di Tokyo.

Tiga belas episode, ‘The Publicist’ selesai -setidaknya untuk serial pertama ini- dengan menggantung. Tidak happy maupun sad ending. Tapi, dari sekian sekuel film ini, beberapa pelajaran atau pesan moral disampaikan. Salah satunya -di luar urusan cinta perlu konsistensi dan lain-lain- kesuksesan seseorang tak lepas dari sosok ‘The Publicist’ di belakangnya.

Profil personal ini menarik kalau diterapkan lebih jauh, terutama di dunia politik Indonesia kekinian. Bagaimana menghadapi media dengan smooth, dan bagaimana ‘merekayasa’ isu demi keamanan dan terjaganya citra sang klien. Tampak saat Julia Tanjung -belakangan diketahui nama aslinya bukan itu- rela pasang badan kala Rey terjebak narkoba untuk kali kedua dengan mengaku bahwa obat-obatan haram itu adalah miliknya.

Publicist, alias pi – ar masa kini, mengajarkan, bagaimana berpolitik (ala Robert) atau berkarir profesional (ala Reynaldi), tak bisa sendiri. Perlu polesan orang-orang sabar, profesional, dan berjaringan kuat di belakangnya.

Seperti ditayangkan di http://tz.ucweb.com/1_2TX5x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *