Membicarakan Pensiun dan Usia Harapan Hidup

Di sudut mal Robinsons Galleria Quezon City, tepatnya di salah satu meja Max’s Fried Chicken, rumah makan ayam khas Filipina,  kami berbicara tentang pensiun dan harapan hidup.

Berteman ayam bakar dalam potongan badan ayam utuh didampingi sop udang dan jus mangga mentah, Harry Situmorang, pria Tapanuli Selatan yang hampir 19 tahun menjadi audit senior Asian Development Bank membuka pembicaraan.

Ayah sepasang anak ini memaparkan penelitian yang dilakukan di Boeing Aerospace oleh National Taiwan University.

Menurut paparan itu, semakin dini seorang karyawan  memutuskan pensiun, semakin mereka berumur panjang. Tetapi sebaliknya, semakin panjang umur pensiun baru diambil, semakin cepat kematian itu datang.

Contohnya, orang yang pensiun pada usia 49,9 tahun ternyata meninggal pada umur 86 tahun. Yang pensiun pada usia 51,2 tahun meninggal di usia 85,3 tahun. Yang pensiun umur 52,5 tahun meninggal pada umur 84,6 tahun.

Sementara itu, yang pensiun pada umur 63,1 tahun rata-rata meninggal pada umur 69,3 tahun. Pegawai yang pensiun pada 64,1 tahun meninggal pada 67,9 tahun. Dan yang baru pensiun di usia 65.2 tahun ditemukan meninggal pada usia 66,8 tahun.

“Hal ini disebabkan mereka yang pensiun lebih dini punya kesempatan lebih banyak untuk memanfaatkan hari tuanya. Syarat utama agar kita hidup lebih panjang sesudah pensiun adalah kita harus bisa tetap berpenghasilan tetapi dilakukan dengan senang hati tanpa beban tekanan yang besar,” terang Harry.

Saat kita pensiun pada umur 50 tahun, kita punya banyak kesempatan untuk berwiraswasta dan menikmati hidup hari tua. Lebih punya banyak kesempatan untuk berteman dengan handai taulan dan  keluarga.  Lebih banyak kesempatan untuk hidup sosial,  lebih banyak kesempatan untuk berolah raga.

Sebaliknya, saat kita baru pensiun pada umur 70 tahun setelah seluruh tenaga dan  pikiran dicurahkan pada pekerjaan,  saat pensiun kita sudah tidak punya kesempatan lagi untuk mencari uang sesudah pensiun guna melanjutkan kreativitas untuk kehidupan lebih lanjut.

Jika Anda ingin membaca lengkap penelitian itu, silakan buka di link

https://faculty.kfupm.edu.sa/COE/gutub/English_Misc/Retire1.htm

Intinya: rencanakan keuangan dengan jelas di masa produktif, dan jangan telat mengambil keputusan pensiun. Jika saat yang dirasa tepat itu tiba, gunakan masa pensiun itu dengan gembira, jalan-jalan bersama keluarga, membuka usaha sendiri (tanpa ada tekanan dari atasan yang bisa membuat hidup stres) serta terus gunakan waktu untuk berjejaring.

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Indonesa, Jusuf Kalla mengungkapkan kegiatan yang bakal dilakoni setelah tidak lagi menjadi wapres: menghabiskan waktu untk berjalan-jalan dengan sang istri.

“Saya ingin jalan-jalan sama ibu Mufidah, berkeliling Sumatera, rencananya,” kata pria 77 tahun yang 20 Oktober lalu mengakhiri masa jabatan kedua sebagai wapres. Kali lain, ia berkisah akan mengajak keluarga besarnya keliling dunia menggunakan kapal pesiar.

Pensiun. Lepas dari tekanan pekerjaan, tapi keuangan cukup untuk masa depan anak dan hidup di sisa usia dengan kualitas tinggi, tentu itu yang didamba setiap orang.

Jadi, mari bekerja keras semasa produktif, rencanakan keuangan dengan baik, serta jangan lupa menyenangkan diri sendiri dan keluarga. Kalau tidak begitu, alih-alih pensiun dini, bisa-bisa Anda mati berdiri sebelum masa istirahat tiba. Nikmati, nikmati, dan syukuri semua.

Salam Minggu pagi dari Manila Bay, sisi pantai ibu kota Filipina yang begitu riuh dengan kepadatan anak muda yang terus gembira dan berpesta, seolah hari ini adalah masa pensiun mereka!

O ya.. kapan Anda rencana pensiun dari orang gajian? Terbebas dari ‘kerja keras bagai kuda’… Ingat, hidup di bumi cuma sekali!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *