Menang 4-2 di Old Trafford: Liverpool FC Masih Ada

Mengawali pertandingan dengan tingkat lawakan tinggi, akibat main umpan-umpanan pendek Alisson yang untungnya gagal dikonversi Cavani ditambah gol Bruno berbau own goal Nat Phil, tim tamu mengakhiri babak pertama dengan kepala tegak. 1-2. Gol keren chip Diogo Jota hasil asistensi Phillips membalas dosanya dan header dari Firmino di detik-detik akhir jelang turun minum. Menit 45 + 3.

“Roberto Firmino. 15 kali pertandingan tanpa gol di EPL, dan tak pernah mencetak gol melawan Manchester United,” begitu seruan rekam statistik komentator Mola usai gol sundulan Bobby memanfaatkan assist free kick Trent Alexander-Arnold.

Kali terakhir pria Brasil itu menyumbang gol saat timnya membungkam Spursnya Mourinho di Stadion Tottenham, 28 Januari 2021. Dan pada akhirnya, Bobby tak hanya membuat satu, tapi sepasang gol ke gawang Dean Henderson.

Sudah lama sekali, tujuh tahun dua bulan, Liverpool tak bisa menang di kandang musuh besarnya sejak anak-anak Brendan Rodgers berpesta tiga gol tanpa balas pada Maret 2014 hasil Steve Gerrard dapat tiga kali penalti (satu di antaranya tak masuk) ditambah satu gol Luis Suarez.

Rasanya hanya kemenangan di Old Trafford kali ini yang bisa menyembuhkan berbagai luka sekaligus: menghidupkan harapan ke UCL, mengobati sesaknya kalah 6 kali beruntun di Anfield pada awal tahun sehingga lenyaplah singgasana puncak, serta episode seri-seri menyakitkan macam vs Leeds dan Newcastle.

Tentu saja, bagi Ole Solksjaer, ini bukan catatan akhir musim yang menyenangkan, meski posisi runner-up nyaris tak tergoyahkan. Dua kali kalah beruntun di rumah: 1-2 vs Lester dan kali ini dalam ‘North West Derby’. Sebuah usaha sia-sia dari para Manchunian menggembosi bus Liverpool yang ternyata hanya kendaraan tipuan alias ‘decoy’.

Kunci keberhasilan adalah kepercayaan. Termasuk kembali memercayakan duet muda lokal: Rhys Williams dan Nat Phil, sejak ada kabar Ozan Kabak masih belum bisa merumput efek dari masalah kaku ototnya. Ironis ya, padahal seandainya laga 2 Mei lalu tak ditunda justru Kabaklah yang saat itu paling siap main di antara pilihan bek tengah yang ada.

Disiplin yang belum konsisten menjadi evaluasi, menilik licinnya Marcus Rashford berbuah gol kedua United. Tapi, apresiasi jugalah bagaimana Phillips mementahkan upaya Mason Greenwood dengan sapuannya di garis gawang, off the line clearance, pada menit ke-70.

Double sub menit ke-72: Mane menggantikan Jota dan Curtis Jones untuk Gini menambah gairah Liverpool untuk tidak bertahan dalam posisi 3-2.

Di tengah deg-deg ser terus diserang dan bayangan ketakutan 3-3 ditambah kurang asyiknya sisi pengadil Anthony Taylor yang berasal dari Wythenshawe sisi selatan kota Manchster, solo run Mo Salah menjepret kemenangan jadi 4-2 pada menit ke-90. Lumayanlah, satu torehan assist dari Curtis Jones.

Empat menit tambahan waktu yang terasa amat panjang menjadikan Klopp memasang ‘the other Williams’ untuk memperkokoh pertahanan. Neco in for Mo.

Sebuah pencapaian empat gol yang patut dikenang, selain kejayaan Pasukan Rafa 4-1 di Old Trafford pada Maret 2009. Kala Gerrard, Torres, Aurelio, dan Dossena memporak-porandakan gawang Edwin van Der Sar meski CR7 membuat Manchester lebih dulu unggul.

Akhirnya, Jurgen Klopp bisa juga pecah telor di Old Trafford. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir batin atas semua hujatan pada Anda di laga-laga selepas gagalnya pertahankan posisi puncak di tahun baru.

Seperti ditayangkan di https://kanalbola.id/liverpool-fc-masih-ada/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *