Satu rangkaian dengan Rakernas PNPS, perayaan Paskah Bersama Senior GMKI 2026, digelar di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor. Kemasannya unik, liturgi bernuansa musikal. Berlanjut dengan malam keakraban dan aneka games, berlangsung meriah terutama oleh senior yang benar-benar ’senior’.
Sabtu petang, 18 April 2026, di Ballroom Bhaksana Wisma Kinasih, suasana marak tercipta saat tiupan tahuri, tabuhan tifa, lantunan trimolo diikuti musik serta tarian etnik Papua mengantarkan prosesi Paskah Bersama Senior GMKI.

”Seringkali kita terlalu sibuk dengan dunia kita yang kecil, sampai kita lupa menengadah ke langit dan melihat betapa megahnya karya tangan Tuhan. Dari bintang di angkasa hingga gemuruh petir yang menggetarkan jiwa, semuanya bersaksi tentang satu hal: Kebesaran-Nya.
Hari ini, biarlah segala kesibukan kita terhenti sejenak. Mari kita biarkan jiwa kita yang berbicara di momentum perayaan Paskah Kristus ini, dan biarlah kita mengakui betapa besarnya Tuhan yang kita sembah…”

Demikian ungkap duo liturgos, Pendeta Ferry Nahusona -Senior GMKI Cabang Salatiga, dan Angelina Sigalingging – Senior GMKI Cabang Bandung. Paduan Suara Gema Kresindo dan Sanggar Shalom melengkapi pelayanan Ibadah Paskah ini.
Lebih dari 200 Senior GMKI dari berbagai daerah se-Indonesia dan latar belakang profesi hadir. Para aktivis pergerakan mahasiswa -pada masanya- itu sadar, perjalanan hidup yang telah ditempuh sejauh ini terjadi karena rencana Tuhan nan begitu indah.
”Bagi kita, para senior yang telah melewati berbagai dinamika zaman, mulai dari masa pergerakan di kampus hingga masa pengabdian di berbagai profesi, kita menyadari satu hal: bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Namun, di saat kita menoleh ke belakang, kita melihat jejak-jejak tangan Tuhan yang menuntun di setiap tikungan tajam kehidupan,” kata Ferry, pendeta kampus Universitas Kristen Satya Wacana.

Angelina melanjutkan, Paskah mengingatkan kita bahwa kegelapan di hari Jumat Agung bukanlah akhir, melainkan jalan menuju fajar kemenangan hari Minggu.
”Mari kita rendahkan hati, mensyukuri setiap musim yang telah kita lalui, sembari meyakini bahwa hari esok pun tetap berada dalam dekapanNya,” urainya.
Liturgi berlangsung ala musikal. Perpaduan narasi dan lantunan berbagai tetabuhan. Ferry tampil eksentrik, maju mundur dalam panggung berbentuk setengah lingkaran. Sesaat ia membaca puisi berjudul ’Isa’, karya Chairil Anwar. sastrawan kelahiran Medan yang menjadi pelopor Angkatan ’45 sekaligus ’Bapak Puisi Modern Indonesia’.
”Itu Tubuh,
mengucur darah….mengucur darah
rubuh ….patah
mendampar tanya: aku salah?
Kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka _Aku berseru, tapi sama siapa? _Aku mau ke Kau keras bertaut
Sejauh seluruh dada lara
Kesetiaan memberi mesra
Berhenti karena di sini sedia…”

Jadikan PNPS sebagai ‘Sombar’
Selanjutnya, Ketua Umum Gereja Protestan di Indonesia (GPI) Pendeta Rudy Immanuel Ririhena menyampaikan kotbah Paskah. Dasarnya dari Markua 16:1-8, kisah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, dan Salome yang menemukan kubur Yesus kosong pada pagi hari Minggu setelah penyaliban. Batu besar yang menutup makam Yesus telah tergulingkan, sementara sambil bergegas menuju makam, tiga perempuan itu berpikir, siapa nanti yang akan membantu mereka menggulingkan batu itu.

”Praktisnya, batu besar itu melambangkan masalah-masalah dalam hidup kita. Kita harus percaya, dalam kuasa Yesus, batu sebesar apapun pasti bisa terguling. Apakah itu penyakit kita, masalah keluarga, masalah pekerjaan, maupun beban pergumulan lain,” jelasnya.
Pendeta senior Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) itu menekankan mengapa Tuhan hanya memakai perempuan dalam peristiwa awal kebangkitan, meski mereka merupakan kelompok yang sangat kecil. Karena itu, Tuhan juga memakai senior GMKI untuk menjadi pewarta kebangkitan Yesus di bumi Indonesia ini.
”Jangan pernah Senior GMKI merasa diri kecil. Kita jadi besar karena kuasa Yesus yang menyelamatkan itu,” ungkapnya.

Pendeta Rudy mencatat dua pesan utama dari bacaan ini. Pertama, kita harus bersyukur bahwa Yesus bangkit. KebangkitanNya menjadi puncak iman kita, sekaligus menjadi bukti bahwa kepercayaan kita tidak sia-sia.
Untuk itu, pesan kedua, kita juga tak boleh menyia-nyiakan kepercayaan Tuhan yang diberikan kepada kita. Tuhan siap menolong Senior GMKI dalam berbagai medan pelayanan.
”Kita ditempatkan di bumi Indonesia sebagai lilin dan terang. Kuasa kebangkitan membuat kita mengatakan yang benar dengan benar. Tegakkan kebenaran, berkarya, mintalah dengan baik. Pergilah, Tuhan sertai kita untuk Indonesia tercinta,” utus Rudy dalam berkatNya.

Pada sambutan Paskah Bersama, Ketua Umum Pengurus Nasional Perkumpulan Senior (PNPS GMKI) William Sabandar mengibaratkan komunitas ini bak ’sombar’. Dalam bahasa Ambon, sombar artinya adalah tempat berteduh. Secara kiasan, kata ini juga sering dimaknai sebagai sumber kekuatan, pelindung, semangat, atau tameng.
“Mari kita menjadi gerakan Kristen yang berperan, berkarater, dan berdampak. Perkumpulan Senior adalah ‘sombar‘, rumah kita bersama. Kita ini besar, untuk itu, jangan pernah merasa kecil,“ tegasnya.
Ditutup dengan tarian sepasang anak muda Papua, ibadah Paskah berlanjut dengan aneka permainan yang membuat akhir pekan menjadi keseruan tak terlupa bagi Senior GMKI yang datang dari berbagai penjuru tanah air.


