Cinta Antara Jakarta dan Kuala Lumpur: Yang Liar dan Romantis dari Tere Liye.

Buku keduapuluh lima Tere Liye yang saya tuntaskan. Cerita cinta, ‘lucu-lucuan’, akhirnya pun dibuat menggantung.

Membelinya di Gramedia Duta Mall, Palangka Raya, membawa buku setebal 296 halaman ini terbang kembali ke Jakarta dan lanjut ke Manado, pulang pergi. ’Cinta Antara Jakarta dan Kuala Lumpur’ ringan, asyik, dan lebih ’liar’. sedikit berbeda dari cerita Tere Liye lainnya.

Mengisahkan seorang profesional yang amat sibuk. James. Pria yang bisa disebut ‚paket lengkap‘: cerdas, lulusan luar negeri, memiliki karier bagus, mapan, tampan, dan berasal dari keluarga yang hangat. Namun ada satu masalah: ia terlalu fokus pada pekerjaan, pemalu, dan tidak pernah benar-benar serius memikirkan urusan cinta. Lupa jatuh cinta. Meski sebenarnya ada sahabat masa kecil yang tak dikira begitu menyukainya. Lalu, dari nonton konser biduan negeri jiran, cinta itu muncul. Berbalas dari sang diva. Dan hidup jadi rumit.

Kebetulan demi kebetulan terjadi. James mendapat tugas dadakan ke Kuala Lumpur. Bertemu sang diva saat berburu sepatu seri langka titipan Tania, sahabat masa kecilnya. Sang Diva, namanya Nur Azizah -pelesetan dari penyanyi Malaysia yang Anda sudah tahu siapa dia- menyetujui usulan James untuk main ke kampungnya di Bogor. Bertemu ibu dan warga komplek rumah yang menyambut hangat. Cerita berakhir pada dilema di bandara: siapa yang dipilih James?

Pesan moral

Dari novel ini bisa ditarik beberapa pesan moral. Ada beberapa pesan yang cukup kuat dalam novel ini:

Pertama, tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.

Salah satu kalimat yang menjadi inti novel ini adalah:

”Pemilih yang baik, dia akan memilih apa yang diinginkan oleh hatinya. Pemilih yang beruntung, dia akan memilih apa yang terbaik baginya.”

Kalimat ini menggambarkan konflik utama James: apakah mengikuti perasaan, logika, atau jalan hidup yang paling bijaksana.

Kedua, cinta sering datang pada waktu yang tidak direncanakan.

James adalah sosok yang merasa hidupnya sudah tertata. Namun novel ini menunjukkan bahwa manusia tidak selalu bisa mengatur kapan perasaan datang dan kepada siapa hati tertambat. Kadang justru hal yang paling tidak diperkirakan menjadi titik balik hidup seseorang.

Ketiga, kesuksesan tidak otomatis membuat seseorang bahagia.

James memiliki hampir semua ukuran keberhasilan duniawi. Tetapi novel ini memperlihatkan bahwa ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh karier, prestasi, atau status sosial. Hubungan antarmanusia dan kehangatan keluarga tetap menjadi kebutuhan penting.

Keempat, keberanian mengungkapkan perasaan.

Banyak konflik muncul bukan karena kurang cinta, melainkan karena kurang keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri maupun orang lain. Buku Tere Liye ini seolah ingin mengatakan bahwa menunda perasaan atau terlalu lama menyembunyikan isi hati bisa membawa penyesalan.

Kelima, keluarga sebagai tempat pulang

Di balik kisah romantisnya, novel ini juga menampilkan hubungan keluarga yang cukup hangat. Keluarga bukan hanya latar cerita, tetapi menjadi tempat tokoh-tokohnya menemukan arah ketika menghadapi kebingungan hidup.

Novel ’Cinta Antara Jakarta dan Kuala Lumpur’ layak dikoleksi. Menjadi penyegar di antara bacaan-bacaan berat yang biasa Anda resapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.