Persis Solo tak terselamatkan. Menang 3-1 di kandang Persita tetap tak menolong ’Laskar Sambernyawa’ turun kasta ke Pegadaian Championship alias Liga 2 musim depan.
Persis Solo sudah ’on track’ pada laga terakhir BRI Superleague, Sabtu, 22 Mei 2026 lalu. Bertanding away di Banten International Stadium Serang tanpa penonton, tiga gol Jefferson Ferreira de Souza, Miroslav Maricic dan Dejan Tumbas dibalas hanya mampu dibalas sebiji gol Pablo Ganet dari pihak tuan rumah. Persis Solo menang 3-1 dan punya poin akhir 34 pada musim kompetisi level tertinggi sepak bola Indonesia 2025/2026.
Akumulasi nilai itu tak cukup menyelamatkan tim asuhan Milomir Seslija. Solo ada di peringkat ke-16, dengan nilai serupa dari PSM Makassar tapi kalah head to head pertandingan. Sementara kandidat degradasi lain, Madura United, melenggang di posisi ke-14, meraih poin total 35, berkat kemenangan 2-0 di Bangkalan menjamu PSM.
Pada hari yang sama setelah ’menang tapi kalah’ di Banten, akun resmi Instagram Persis Solo mengunggah foto kesebelasan kebanggaan dan beberapa aksi pemain dalam caption ’ Terima kasih telah bertarung bersama sehormat-hormatnya demi lambang di dada hingga detik terakhir laga.’
Esoknya, akun yang diikuti lebih dari setengah juta followers itu memasang unggahan berjudul ’Club Statement: Permintaan Maaf dan Komitmen Perbaikan Klub Pasca Kompetisi’.
Pernyataan selengkapnya dimuat di situs persissolo.id, bunyinya, ”Hari ini adalah hari yang berat bagi kita semua. Sebagai Direktur, saya berdiri di sini dengan penyesalan mendalam dan permohonan maaf yang setulus-tulusnya kepada seluruh suporter yang telah memberikan segalanya untuk tim ini. Saya menyadari bahwa kekecewaan kalian adalah cerminan dari kegagalan kami dalam memenuhi ekspektasi dan menjaga kebanggaan kota ini.
Saya tidak meminta kalian untuk melupakan rasa sakit ini—simpanlah, dan jadikan itu bahan bakar bagi kita semua untuk kembali ke tempat yang seharusnya. Sampai saat ini saya tidak pernah meragukan loyalitas serta kontribusi kalian kepada Sambernyawa, dan pada saat badai datang seperti ini saya yakin akan menjadi momen bagi kita semua untuk kembali merekatkan barisan menjadi lebih kuat.
Saya akan mempertanggungjawabkan dan melaporkan segala dinamika yang terjadi kepada para owner dan kami berjanji, kami tidak akan membiarkan pengorbanan dan air mata kalian sia-sia. Kami akan segera berbenah, memperbaiki pondasi yang retak, dan bekerja dua kali lebih keras. Setelah kompetisi usai, kami tidak akan mengambil jeda panjang dan langsung mempersiapkan diri untuk melakukan restrukturisasi pada semua lini, sekaligus evaluasi menyeluruh pada jajaran staf kepelatihan, official, dan staf agar bisa segera merancang kerangka tim mulai Juni mendatang.
Kita jatuh bersama hari ini, namun dengan dukungan kalian, saya yakin kita akan bangkit dan kembali dengan mentalitas yang jauh lebih kuat.
Sakjose.
Direktur Persis Solo Saestu,
Ginda Ferachtriawan”
Di komentar Instagram, berbagai respon menyambut pernyataan resmi klub. Misalnya, ‘Viking selebrasi, persis degradasi’, ‘Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya’, ‘Berbenah, sekalian tanyake owner “kemakimu wingi dadi opo?” . (training camp, pencetak pemain muda, tampil di Asia, jadikan persis seperti jdt,dll) tekan ngendi?’ dan lain-lain.
Mendapat komentar sedih bercampur sinisme, manajemen Persis Solo tak gentar. Setidaknya, hari-hari berikutnya, ada dua unggahan lagi bernada membesarkan semangat tim dan suporter Persis. Klub ini memiliki dua basis suporter besar yakni Pasoepati dan Surakartans.
Unggahan bergambar briefing sang pelatih di lapangan disertai caption ‘Terima kasih tetap terus melangkah dan selalu berjuang bersama mencurahkan segenap tenaga serta tetes keringat dalam setiap laga.‘
Sementara itu, Instagram Persis terbaru menampilkan postingan video kenangan aksi para pemain dengan keterangan: “Terima Kasih Telah Berjuang. Perjalanan musim ini resmi berakhir dan terima kasih sebesar-besarnya untuk seluruh penggawa yang telah memberikan upaya dan tenaga mereka hingga laga terakhir.“

Strategi Komunikasi Korporasi
Situs sepak bola Bola.com ‘nakal’ memainkan judul ‘Persis Degradasi dari BRI Super League, Batal Ada Matahari Kembar di Kasta Tertinggi Indonesia‘.
Tulisan jurnalis Gatot Sumitro itu mengambil angle unik, “jika jarum jam bisa diputar lagi. Dan Persis tak terdegradasi. BRI Super League 2026/2027 bakal sangat menarik. Karena bakal ada matahari kembar di kasta elite Tanah Air.
Persis bagi mantan Presiden RI ketujuh, Joko Widodo, bukan sekedar hiburan untuk mengisi waktu pensiun dengan menonton di Stadion Manahan. Tapi Persis juga kebanggaan, karena Joko Widodo adalah mantan Walikota Solo hampir dua periode.
Jika Persis tak terdegradasi musim depan akan bertemu dan berjibaku dengan klub Garudayaksa yang konon didanai Presiden Prabowo Subianto.
Rasanya sangat menarik andai Joko Widodo dan Prabowo Subianto duduk berdampingan di tribun VVIP ketika keduanya mendukung tim kebanggaan masing-masing saat pertandingan berlangsung.
Semoga Persis tak betah di Championship. Sehingga musim depan mereka promosi lagi ke Super League agar kita bisa menyaksikan matahari kembar menyinari stadion kala Persis dan Garudayaksa bertarung di atas rumput hijau.”
Tulisan ini untuk ID Daily ini saya buat tak lama setelah mengajar mata kuliah Strategi Komunikasi Korporasi di Unika Atma Jaya Jakarta.
Mengutip Jasmine Roberts dalam bukunya ‘Writing for Strategic Communication Industries’, komunikasi strategis setidaknya harus punya lima prinsip.
Pertama, intensional message design atau membuat desain pesan yang disengaja.
Kedua, correct platform atau memilih platform yang tepat.
Ketiga, calculated timing alias pengaturan waktu yang pas.
Keempat audience analysis atau pemilihan dan analisis audiens.
Dan kelima, desired impact, punya dampak yang diinginkan.
Unggahan demi unggahan tim public relations Persis Solo patut diapresiasi. Semua posting itu sudah memenuhi kaidah yang dimaksud Jasmine, pengajar School of Communication di Ohio State University.
Persis Solo, saat itu bernama Vortenlandsche Voetbal Bond (VVB), meupakan salah satu dari tujuh klub pendiri PSSI pada 19 April 1930. Didirikan oleh Sastrosaksinil Raden Ngabehi Reksodiprojo dan Sutarman pada 8 November 1923, penggantian nama menjadi Persis terjadi seiring momen 28 Oktober 1928, sebagai bentuk apresiasi terhadap nilai-nilai perjuangan dan persatuan yang terkandung dalam isi Sumpah Pemuda.
Persis yang kini berusia 103 tahun sempat menorehkan catatan meyakinkan dengan meraup tujuh kali gelar juara pada awal kompetisi era Perserikatan.
Setelah lama berkubang di luar liga elit, Persis kembali ke kasta atas dalam kancah sepak bola Indonesia pada tahun 2022 menyusul keberhasilannya memenangkan gelar Liga 2 2021. Kebangkitan Persis dimulai pada tahun 2021 dengan didorong oleh pemilik barunya yang merupakan putra daerah Surakarta dan putra bungsu Presiden -saat itu- Jokowi yakni Kaesang Pangerap, serta kedua pemilik lainnya yakni Kevin Nugroho serta Erick Thohir, yang belakangan dijalankan anaknya Mahenda Aga Thohir. Kaesang punya 40 persen saham, Kevin 30 persen, dan keluarga Erick Thohir 20 persen. Sepuluh persen saham lainnya tersebar di pendiri klub.
Dalam final Liga 2 2021, Persis jadi juara setelah menaklukkan RANS, klub milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, 2-1 di Stadion Pakansari Bogor. Bersama Dewa United, tiga ‘klub kaya’ itu naik ke Liga 1.
Pada Liga 1 2022, Persis menempati posisi ke-10 dari 18 klub dengan raihan 44 poin.
Pada Liga 1 2023, Persis berjaya di peringkat ke-7 berkat 50 poin.
Pada Liga 1 2024, Persis ada di jurang degradasi. Berakhir di peringkat ke-14 dengan raihan 36 poin, dua angka tipis di atas PSIS dan Barito Putera yang turun ke Liga 2.
Kalau pada Liga 2025/2026 Persis harus rela jatuh ke bawah, semoga semangat tim dengan basis suporter kuat ini segera bangkit. Agar tak mengalami nasib seperti dua dari tujuh klub pendiri PSSI yang tak lagi beredar di liga elit Indonesia: Madioensche Voetbal Bond (MVB, kini PSM Madiun), Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM, kini PPSM Magelang).
Salam Sakjose, jargon khas suporter Persis Solo yang artinya ‘Maha Oke’!
*Jojo Raharjo, penggemar sepak bola Indonesia
Selengkapnya di iddaily.net https://share.google/1qzjzbs4y9LyQOe66

