Awal pekan ini diawali dengan Renungan Promises berdasarkan Matius 14:22-33.
Murid-murid menghadapi badai, justru karena menaati perintah Yesus. Ia hadir di tengah badai, untuk membuat iman kita bertumbuh lebih kuat.
Yesus memerintahkan murid-murid naik ke perahu, atas perintah Tuhan. Justru di tengah ketaatan itu, mereka menghadapi angin sakal, yang berlawanan dengan arah perahu.
Yusuf taat menjadi budak. Daniel taat masuk gua singa. Paulus taat masuk penjara. Murid-murid taat, berhadapan dengan badai. Ketaatan tidak menjamin hidup tanpa badai, tetapi ketaatan menjamin penyertaan di tengah badai.
Mengapa Tuhan mengizinkan ada badai? Untuk menguji iman kita, untuk mendewasakan karakter kita, untuk belajar bergantung penuh pada Tuhan, dan untuk mengenal Tuhan lebih dalam.
Tuhan melihat kita, meski kita tak melihatNya. Tuhan diam bukan berarti Ia tak peduli, tapi ia menunggu waktu yang tepat untuk menolong menurut kedaulatanNya sendiri.
Tuhan datang pada waktuNya. Ia tak datang lebih cepat, agar murid belajar mengandalkan Tuhan.
Iman memerlukan langkah ketaatan untuk keluar dari ’perahu’, sehingga Petrus bisa berjalan dari air.
Fokus pada Yesus, Petrus pun berjalan di atas air. Tapi, saat melihat air, ia pun mulai tenggelam, tapi Yesus siap menolong kita. Melalui badai, Ia ingin para murid mengenalNya lebih dalam.
Sebelum badai, mereka mengenalNya sebagai guru. Setelahnya, mereka mengenalNya sebagai anak Allah.
Pelajaran berharga yang dapat kita petik:
Pertama, Tuhan kadang mengizinkan badai dalam hidup kita.
Kedua, Tuhan peduli dan siap menolong pada waktuNya.
Ketiga, Iman kita harus tetap fokus pada Yesus.
Keempat, Tujuan badai, agar kita dapat mengenal Tuhan lebih dalam.

