Dalam seri leadership ‘Managing Victories’, Pastor Adrian Sarwono dari GMS Regional Europe membawakan Firman Tuhan di lima ibadah GMS Puri, 19 Juli 2026. Ini resume ibadah terakhir.
Kisah Daud di II Samuel 5-6 dan I Tawarikh 13 1-2 saat membawa tabut Tuhan menjadi pembelajaran utama.
Daud dipuji karena sebagai raja karena, berbeda dengan Saul, ia juga mengurus terkait kerohanian. “Tugas imam adalah mendekatkan jemaat pada Tuhan. Dan di sini, Daud menempatkan diri sebagai ‘imamat rajani’, bahkan sebelum istilah itu ada,” ungkapnya.
Beberapa poin menjadi catatan dari hidup Raja Daud yakni:
Pertama, di tengah kejayaan tidak pernah melupakan kedekatan dengan Tuhan.
Kedua, mengumpulkan orang banyak untuk menyembah Tuhan
Ketiga, bisa menguasai diri jika problem menyerang.
”Daud adalah orang yang berpikir karena negaranya kacau, maka solusinya adalah membangun gereja,” tegasnya. Adrian mengatakan, di gereja harus ada standar yang tinggi, meski mungkin saja di rumah standar itu diturunkan.
Keempat, dalam menghadapi masalah, yang dipikirkan adalah bagaimana dekat dekat dengan Tuhan.
Kelima, tidak patah semangat, belajar dari kesalahan dan tetap
melayani Tuhan dengan sukacita
Keenam, memilih orang dekatnya yang juga mengutamakan Tuhan.

Pastor Adrian mengingatkan, saat tak punya uang, kita gampang berjanji memberikan sekian persen pada Tuhan. ”Tapi, bagaimana kalau lagi punya duit?”
Pada ibadah ini, Pastor Adrian juga mengapresiasi restoran yang berani tutup di hari Minggu. Padahal, justru di weekend lah omzet besar biasanya datang. Seperti resto ‘Chuckvalley’ di Jakarta yang mengambil kebijakan tak beroperasi di hari ibadah.
Selain itu, ada contoh menarik pelari internasional yang terkenal menolak berlomba di hari Minggu karena alasan ibadah. Eric Liddell dari Skotlandia menjadi atlet dengan kisah paling legendaris saat mengikuti Olimpiade Paris 1924.
Liddell lolos ke final nomor 100 meter, tapi finalnya jatuh di hari Minggu. Sebagai Kristiani yang taat dan percaya Minggu harus dipakai untuk ibadah, bukan bertanding, dia mundur dari nomor andalannya 100 m, dan pindah ke 400 meter yang lombanya bukan hari Minggu. Hasilnya, Liddell menang dan meraih medali emas, sekaligus memecahkan rekor dunia. Kisahnya diangkat dalam film ‘Chariots of Fire’.


