PSSI Berkongres, Vietnam Berpesta Gol
Dari ruang kongres ke lapangan, sepak bola Indonesia kembali diingatkan: sehebat apa pun program, naturalisasi, dan target juara, semuanya ditentukan dalam 90 menit.
Video itu viral. Seorang dedengkot suporter timnas Indonesia memarahi Skuad Garuda usai kalah telak 0-3 di laga Grup A Piala AFF di Stadion Pakansari, Bogor, 3 Agustus 2026.
Memegang pelantang atau pengeras suara, pria itu berteriak, “Kenapa malam ini kalian kalah? Di mana mental kalian?”
Lelaki memakai jersey timnas itu kembali berseru saat pelatih John Herdman memimpin Rizky Ridho dan kawan-kawan melakukan tradisi ’lap of honour’ keliling tribun. Meski suasana sedih berbalut kekalahan di kandang sendiri, timnas tetap mengapresiasi 27 ribu suporter yang datang ke Cibinong.
”Kekalahan malam ini jangan terulang di Singapura. Kalian siap menang di Singapura? Kami tunggu janji kalian di Singapura!” Memang laga away ke Singapura pada Jumat 7 Agustus 2026 menjadi satu-satunya kunci timnas Garuda melanjutkan perjalanan ke babak semifinal Piala AFF tahun ini.
John Herdman tampak tak berdaya. Mantan pelatih timnas Kanada di Piala Dunia 2022 itu meletakkan tangan di bawah perut, dan mendengar kemarahan sang dirijen dengan begitu khidmat.
Di ruang konferensi pers, John menyatakan maafnya. ”Saya pikir kita harus mengakui bahwa performa kita tidak cukup baik. Secara taktis Vietnam lebih baik.”
Pria berkebangsaan Inggris itu menambahkan, ”Sekali lagi, saya meminta maaf malam ini kepada para penggemar, mereka luar biasa, mereka bersama kami sampai akhir. Kami akan kembali, kami harus kembali, masih ada satu pertandingan lagi,” tukasnya.
Sebenarnya, 3 Agustus 2026 kemarin adalah hari monumental bagi PSSI. Hari itu, PSSI menggelar Kongres Tahunan di Hotel Fairmont, Jakarta. Setelah kongres selesai, para voters kemudian beramai-ramai menuju Stadion Pakansari, Bogor.
Mungkin ada yang berpikir: ini baru namanya demokrasi sepak bola. Setelah memilih, bermusyawarah, mengambil keputusan, lalu bersama-sama memberikan dukungan kepada Timnas Indonesia. Sebuah perjalanan yang sangat indah. Dari Fairmont menuju Pakansari. Dari kongres menuju tribun. Dari ruang rapat menuju lapangan.
Sayangnya, perjalanan itu berakhir dengan antiklimaks. Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam. Jadi, kalau hari itu ada yang bertanya, “Apa hasil kongres PSSI?“ Jawabannya sederhana: Keputusan kongres mungkin ada banyak, dari pengunduran jadwal pemilihan ketua umum, pengumuman bergulirnya liga puteri, sampai pergantian nama dan domisili beberapa klub. Tapi keputusan di lapangan hanya satu: Indonesia kalah tiga gol tanpa balas.
Dan kekalahan itu terasa semakin menyakitkan karena lawannya adalah Vietnam, salah satu rival abadi persepakbolaan Asia Tenggara. Vietnam yang pada era Shin Tae-yong pernah menjadi korban keganasan Timnas Indonesia. Bahkan pada 26 Maret 2024, Indonesia pernah menang 3-0 di kandang Vietnam, Stadion My Dinh, Hanoi. Sebuah kemenangan yang waktu itu terasa seperti pembalasan sejarah. Tiga gol Jay Idzes, Ragnar Oratmangoen, dan Ramadhan Sananta membawa langkah tegak Indonesia dalam kualifikasi Piala Dunia 2026.
Tapi, kini sejarah seperti sedang berputar. Bedanya, dulu Indonesia datang ke Hanoi dan pulang membawa tiga gol. Sekarang Vietnam datang ke Cibinong dan membawa pulang tiga gol. Kalau sepak bola mengenal konsep ’home advantage’, malam itu Indonesia mungkin sedang memperkenalkan konsep baru: home disadvantage.
Bermain di kandang sendiri, tetapi justru seperti sedang bertamu. Penonton ada. Stadion ada. Rumput ada. Bola juga ada. Yang entah ke mana mungkin hanya permainan Timnas Indonesia. Lalu muncullah pertanyaan klasik yang selalu terngiang setiap kali Indonesia gagal menjadi juara Piala AFF: Apakah Indonesia kena kutukan?
Ada yang kemudian mengingat Piala Tiger 1998 di Vietnam. Saat itu, Indonesia dan Thailand sama-sama sudah memastikan lolos dari fase grup. Keduanya sama-sama punya alasan untuk tidak ingin menang karena pemenang akan bertemu tuan rumah Vietnam di semifinal.
Dalam pertandingan itu, Mursyid Effendi mencetak gol bunuh diri secara sengaja pada menit-menit akhir. Indonesia kalah 2-3 dari Thailand di Stadion Thong Nhat, Ho Chi Minh City. Ironisnya, strategi menghindari Vietnam itu ternyata sia-sia: Indonesia kalah dari Singapura di semifinal, sedangkan Thailand juga kalah dari Vietnam.
Jadi, kalau mau disebut kutukan, mungkin kutukannya bukan karena Indonesia mencetak gol bunuh diri.
Kutukannya mungkin karena Indonesia terlalu sering mencari jalan agar tidak bertemu lawan tertentu, tetapi akhirnya tetap bertemu dengan nasib buruk.
Dulu menghindari Vietnam. Sekarang Vietnam datang sendiri. Dan kali ini tidak perlu dihindari. Cukup diberi tiga gol.
Namun, ada satu ironi lain yang lebih menarik. Selama bertahun-tahun, salah satu resep kemajuan Timnas Indonesia adalah naturalisasi. Pemain keturunan didatangkan. Paspor diberikan. Skuad diperkuat. Harapan dinaikkan. Ekspektasi ditinggikan. Kadang-kadang bahkan harga diri bangsa ikut dilambungkan.
Maka setelah kalah 0-3 dari Vietnam di kandang sendiri, boleh saja muncul pertanyaan satir: Apakah strategi naturalisasi gagal?
Tapi tunggu dulu. Jangan buru-buru menyalahkan naturalisasi. Sebab Vietnam pun bukan bermain dengan pemain yang seluruhnya lahir dan besar di Vietnam. Mereka juga memanfaatkan pemain naturalisasi, termasuk pemain kelahiran Brasil. Dua pemain itu dimasukkan pelatih Kim Sang Sik di babak kedua, penyerang Rafaelson Bezerra Fernandes (kini bernama Nguyen Xuan Son) dan pemain tengah Hendrio Araújo da Silva (sekarang punya nama Do Hoang Hen). Xuan Son menceploskan gol ketiga Vietnam ke gawang Nadeo Argawinata.
Jadi, kalau Indonesia kalah dari Vietnam lalu kita menyimpulkan bahwa naturalisasi adalah masalah, kita mungkin sedang salah alamat.
Karena kalau naturalisasi adalah biang keroknya, Vietnam seharusnya ikut kalah. Ternyata tidak. Mereka malah menang 3-0. Berarti masalahnya bukan semata-mata siapa yang lahir di mana. Masalahnya mungkin lebih sederhana: Siapa yang lebih siap bermain sepak bola.
Status WNI tidak otomatis membuat seseorang bisa melakukan pressing. Naturalisasi tidak otomatis membuat lini tengah mampu menguasai permainan. Pemain keturunan tidak otomatis membuat sebuah tim menjadi juara. Pada akhirnya, yang bermain tetap sebelas orang melawan sebelas orang. Yang menentukan tetap taktik, mental, organisasi permainan, kualitas pembinaan, dan kemampuan mencetak gol.
Kekalahan 0-3 dari Vietnam pada malam setelah Kongres Tahunan PSSI ini layak menjadi bahan introspeksi.
Jangan-jangan kita terlalu sibuk mengurus siapa yang duduk di ruang kongres, sementara lupa memastikan siapa yang benar-benar siap berdiri di lapangan.
Jangan-jangan kita terlalu sibuk membahas program, struktur, pemilihan, dan kepentingan organisasi, sementara persoalan paling sederhana dalam sepak bola belum selesai: bagaimana caranya memasukkan bola ke gawang lawan dan mencegah bola masuk ke gawang sendiri.
Karena sepak bola memang aneh. Di Hotel Fairmont, orang-orang berkumpul untuk membicarakan masa depan sepak bola Indonesia. Beberapa jam kemudian, di Pakansari, masa depan itu seperti sedang diuji. Dan hasil ujiannya, kita sama-sama tahu. Indonesia 0, Vietnam 3.
Mungkin ini bukan kutukan Piala AFF 1998. Bukan pula kegagalan ‘proyek’ naturalisasi.
Mungkin ini hanya pengingat bahwa dalam sepak bola, sehebat apa pun kongresnya, semeriah apa pun seremoni, secanggih apa pun program naturalisasi, dan setinggi apa pun targetnya… pada akhirnya, semua kembali ke 90 menit di lapangan.
Dan pada malam 3 Agustus 2026 itu, Vietnam memberi pelajaran yang sangat sederhana: Kalau ingin menjadi juara ASEAN, jangan cuma pandai menggelar kongres. Harus pandai juga memenangkan pertandingan.
Semoga kekalahan semalam bisa ditebus dengan kemenangan di negeri Singa, 7 Agustus 2026, yang kabarnya para petinggi sepak bola kita juga berbondong-bondong ke sana. Meski kuota tiket tim tamu hanya 254 lembar dari 6 ribu tempat duduk di Stadion Jalan Besar.
Menang atau tidak sama sekali. Kami tunggu janji kalian di Singapura!
Oleh: Agustinus ‘Jojo’ Raharjo, penggemar sepak bola, pendukung tim nasional Indonesia, dosen Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya.
ditayangkan di https://beritaprioritas.com/sama-sama-naturalisasi-mengapa-indonesia-tunduk-dari-vietnam/

