Promises Renungan Mingguan Pak Didik Rochadi awal pekan ini menarik sekali. Dari Yohanes 21:1-14 salah satu mujizat setelah kebangkitanNya.
Pascakematian Yesus, kehidupan para murid kembali ke titik rendah. Mereka kehilangan arah dan tujuan. Petrus dan enam kawannya kembali menjadi penjala ikan.
Di tengah kabut pagi, seseorang berdiri di tepi pantai dan berseru, ”Hai anak-anak, apakah kamu punya lauk-pauk?”
Ini pertanyaan sehari-hari, sederhana. Menyingkapkan keadaan hati, keberhasilan hati sertai situasi rohani,
Maknanya:
Pertama, Tuhan peduli terhadap detail hidup kita. Ia peduli pada isi piring kita: kesehatan tubuh, kegagalan usaha, kerusakan dinding rumah kita, bayar uang sekolah anak, motor yang perlu diservis dan lain-lain. Yesus hadir untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita.
Kedua, menghadapi jala yang kosong. Untuk mengalami mujizat, kita harus jujur di hadapan Tuhan.
Ketiga, ketaatan untuk mengubah kegagalan. Tebar jala di sebelah kanan. Secara teknis, menyebar jala di tempat sama akan sia-sia. Tapi, karena mereka taat, mereka mendapat 153 ekor ikan besar. Saat kita berhenti mengandalkan diri sendiri dan mendengar suara Tuhan, lauk pauk akan Ia sediakan.
Keempat, undangan untuk makan di meja perjamuanNya. Tuhan Yesus sudah menyediakan sarapan. Ia hanya ingin mereka berpartisipasi dalam kelimpahanNya.
Di depan api arang juga Petrus menyangkal Yesus, di sinilah Petrus memulihkan hubungannya dengan Yesus.
Kelima, Kesimpulan. Mari kita akui kalau jala kita sedang kosong. Dengarkan suaraNya. Mungkin Ia ingin kita menebar jala kita di tempat lain. Ia sudah menyediakanNya.
Adakah Kamu Punya Lauk Pauk?
Promises Renungan Mingguan Pak Didik Rochadi awal pekan ini menarik sekali. Dari Yohanes 21:1-14 salah satu mujizat setelah kebangkitanNya.
Pascakematian Yesus, kehidupan para murid kembali ke titik rendah. Mereka kehilangan arah dan tujuan. Petrus dan enam kawannya kembali menjadi penjala ikan.
Di tengah kabut pagi, seseorang berdiri di tepi pantai dan berseru, ”Hai anak-anak, apakah kamu punya lauk-pauk?”
Ini pertanyaan sehari-hari, sederhana. Menyingkapkan keadaan hati, keberhasilan hati sertai situasi rohani,
Maknanya:
Pertama, Tuhan peduli terhadap detail hidup kita. Ia peduli pada isi piring kita: kesehatan tubuh, kegagalan usaha, kerusakan dinding rumah kita, bayar uang sekolah anak, motor yang perlu diservis dan lain-lain. Yesus hadir untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita.
Kedua, menghadapi jala yang kosong. Untuk mengalami mujizat, kita harus jujur di hadapan Tuhan.
Ketiga, ketaatan untuk mengubah kegagalan. Tebar jala di sebelah kanan. Secara teknis, menyebar jala di tempat sama akan sia-sia. Tapi, karena mereka taat, mereka mendapat 153 ekor ikan besar. Saat kita berhenti mengandalkan diri sendiri dan mendengar suara Tuhan, lauk pauk akan Ia sediakan.
Keempat, undangan untuk makan di meja perjamuanNya. Tuhan Yesus sudah menyediakan sarapan. Ia hanya ingin mereka berpartisipasi dalam kelimpahanNya.
Di depan api arang juga Petrus menyangkal Yesus, di sinilah Petrus memulihkan hubungannya dengan Yesus.
Kelima, Kesimpulan. Mari kita akui kalau jala kita sedang kosong. Dengarkan suaraNya. Mungkin Ia ingin kita menebar jala kita di tempat lain. Ia sudah menyediakanNya.
Dia itu Jehovah Jireh, Ia menyediakan yang kita perlukan.
Tuhan peduli pada aspek-aspek duniawi jasmani kita.
Sampaikan dengan jujur kondisi kita pada Tuhan.
Taatilah perintahNya.

