Buku ke-28 Tere Liye yang saya baca. Sepertinya buku ‘Pulang Pergi’ lupa diresensi. ‘Si Anak Cahaya’ bersetting tahun 1950-an, dibumbui kisah komunisme mengepung kemiskinan kota. Dihancurkan oleh penduduk dan tentara.
Tokoh utamanya, Nurmas alias Nung binti Yahid. Diawali dari kisah sepasukan tentara dari kota yang masuk desa Nung, mencari pemuda terbaik untuk diseleksi.
Setebal 439 halaman, novel ini berupakan bagian dari ’Serial Anak Nusantara’. Saya baru baca dua setelah ’Si Anak Badai’.
Nurmas dijuluki ’Si Anak Cahaya’ bukan tanpa alasan. Ia dikenal cerdas, jujur, pantang menyerah, dan memiliki rasa kepedulian yang sangat tinggi terhadap keluarga serta lingkungan sekitarnya. Di akhir cerita, penampilannya berselimutkan cahaya truk dalam pemberantasan organisasi gerakan komunis nan keji kian melengkapi makna namanya.
Ada kisah percintaan anak kecil. Ada kisah perjuangan mencari dokter ke kota demi bapak yang sakit. Ada cerita menjaga hutan dari serangan hewan liar. Ada juga hikmat bagaimana anak remaja mencari uang saat kampung paceklik, dengan berjualan di stasiun yang keretanya tak lewat tiap hari. Hingga akhirnya stasiun itu tutup sebagai imbas krisis ekonomi.
Beberapa pesan dari buku ini antara lain, menjadi novel petualangan sederhana namun penuh makna. Mengisahkan kehidupan sehari-hari Nurmas bersama sahabat-sahabatnya, dinamika keluarga, dan kehangatan masyarakat desa.
Keberanian membela kebenaran: Nurmas kerap dihadapkan pada situasi rumit di mana kejujuran dan keberaniannya diuji—mulai dari masalah sekolah hingga persoalan warga kampung.
Nilai Karakter dan Keteladanan: Kehadiran Nurmas memberikan inspirasi dan ’cahaya’ kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya, membuktikan bahwa seorang anak kecil pun bisa memberikan dampak besar lewat sikap positifnya.
Si Anak Cahaya bukan sekadar kisah anak-anak, melainkan cermin kehidupan yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kejujuran dan menebar kebaikan di mana pun kita berada. Sangat direkomendasikan untuk pembaca dari segala usia.

