Narasumber dan Reporter adalah Sejajar

Selain masalah kesetaraan narasumber, kritik terhadap reportase Ricky Halim ada pada live reportnya yang tertelan audio pengunjukrasa.

Dalam jurnalistik, posisi narasumber dan koresponden harus sejajar. Tak elok bila reporter menyebut narasumbernya dengan atribusi yang mengesankan narasumber lebih tua atau terhormat. Karena bagaimanapun, pemirsa televisi beragam posisinya. Ada pula, mungkin, pemirsa yang usianya lebih tua dari narasumber tengah menyaksikan tayangan itu. Jadi, tak perlu menyapa dengan sebutan bapak.

Continue reading “Narasumber dan Reporter adalah Sejajar”

Anak Tenabang Menuju KPK

Ahmad Taufik bukan nama asing di dunia jurnalisme. Menginginkan Indonesia lebih baik dalam pemberantasan korupsi, ia memberanikan diri menuju kursi komisioner KPK.

Dukungan Ahmad Taufik sebagai komisioner KPK. Respek dari banyak elemen.
Dukungan Ahmad Taufik sebagai komisioner KPK. Respek dari banyak elemen.

Sebuah konferensi pers digelar pada Kamis (18/9) siang. Tempatnya tak mewah. Di Wisma Mas Isman, kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Digelar oleh Koalisi Publik untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KAP KPK), acara ini bertemakan ‘Mengembalikan Marwah KPK sebagai Oksigen Demokrasi’. Kesan sederhana tampak dari hidangan yang disajikan: ketela, jagung, dan kacang rebus, berteman teh serta kopi hangat.

Acara yang digagas beberapa elemen ini mendeklarasikan dukungan kepada Ahmad Taufik yang tengah maju sebagai calon komisioner KPK pengganti Busjro Muqoddas. “Ahmad Taufik adalah orang yang tepat dan mampu dalam mewakafkan jiwa dan raganya untuk mengawal KPK,” begitu suara resmi KAP KPK.

Continue reading “Anak Tenabang Menuju KPK”

Huru-Hara Hari Buruh?

Liputan Aliefia kaya visual. Beberapa catatan menjadi masukan. Selain soal istilah, juga kurang greget tanpa wawancara.

Hampir tiga menit show diiringi bumper dan musik pengiring BBC News, paket liputan Aliefia Nada Malik awalnya tampak menggigit. Tapi, apakah benar dibilang berlebihan jika headlinenya dianggap terlalu lebay, dengan memberi judul ‘Huru-Hara May Day 2014’, ‘Jakarta Mampet Akibat Demo Buruh’?

 

Continue reading “Huru-Hara Hari Buruh?”

Karena ‘Jurnalisme TV’ Bukanlah ‘Jurnalisme Katanya’

Berita TV punya slogan, ‘Show It Don’t Tell’…

Tesya Claudia Ariesta menampilkan liputan bernuansa semangat tinggi. Beraksi di depan motor-motor pengunjuk rasa –meski gambar latarnya kabur dan tak jelas, Tesya tampak sangat antusias. Tak ubahnya saat ia meliput kampanye Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang juga penuh energy.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=veHQn9M687k&feature=youtu.be]

Continue reading “Karena ‘Jurnalisme TV’ Bukanlah ‘Jurnalisme Katanya’”

Pilih Latar/Blocking yang Tepat untuk On-Cam

Wawancara dengan narasumber menjadi penting dalam sebuah liputan, karena di situlah terlihat orisinalitas karya reporter, selain menumbuhkan ‘aroma’ live dalam sebuah liputan di kerumunan.

Seperti juga saat meliput kampanye Partai Gerindra untuk tugas Ujian Tengah Semester, Dwita Asri tampil dengan semangat khasnya. Berbicara dengan mulut terbuka lebar dan gaya tersenyum ceria menjadi sebuah kelebihan tersendiri.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=SmW8we0UCvE]

Continue reading “Pilih Latar/Blocking yang Tepat untuk On-Cam”

Durasi Terlalu Pendek, Padahal Banyak Gambar ‘Cantik’

Punya banyak belanjaan visual, sayang durasi paketnya kurang optimal.

Henry Fadhillah sebenarnya banyak mendapatkan gambar-gambar cantik dalam liputan ini. Sayang, ia kurang mengeskplore visual nan langka itu. Misalnya saat reog-yang disebutnya sebagai barong- ikut dalam unjuk rasa Hari Buruh. Juga aksi teatrikal buruh yang bersusah-payah berjalan dengan beban nan amat berat membelenggu kaki mereka. Seharusnya, Henry bisa banyak memaksimalkan gambar-gambar itu lebih lama, atau mungkin ber-LOT di depan latar nan amat dahsyat.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=EaatmjpDkaM]

Continue reading “Durasi Terlalu Pendek, Padahal Banyak Gambar ‘Cantik’”

Durasi Terlalu Pendek, Padahal Banyak Gambar 'Cantik'

Punya banyak belanjaan visual, sayang durasi paketnya kurang optimal.

Henry Fadhillah sebenarnya banyak mendapatkan gambar-gambar cantik dalam liputan ini. Sayang, ia kurang mengeskplore visual nan langka itu. Misalnya saat reog-yang disebutnya sebagai barong- ikut dalam unjuk rasa Hari Buruh. Juga aksi teatrikal buruh yang bersusah-payah berjalan dengan beban nan amat berat membelenggu kaki mereka. Seharusnya, Henry bisa banyak memaksimalkan gambar-gambar itu lebih lama, atau mungkin ber-LOT di depan latar nan amat dahsyat.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=EaatmjpDkaM]

Continue reading “Durasi Terlalu Pendek, Padahal Banyak Gambar 'Cantik'”