Sarah Gilbert serta Doa Mohon Kelembutan Hati

Hari keduabelas bersama Covid-19

Hari-hari ini sedang viral video Sarah Gilbert, peneliti vaksin di Inggris mendapat tepuk tangan meriah, standing applause di ajang Wimbledon, salah satu turnamen Grand Slam, series kejuaraan tenis yang paling menyedot perhatian dunia.

Menjelang partai pembuka antara juara bertahan Novac Djokovic melawan petenis tuan rumah Jack Draper, pembawa acara menyebut nama Gilbert, sebagai salah seorang yang berjasa besar dalam memerangi pandemi Covid-19.

Tatkala Ibu profesor ini disebut sebagai “pemimpin yang telah mengembangkan vaksin anti-COVID”, tepuk tangan membahana di seluruh arena. Sejurus kemudian, satu persatu penonton mulai berdiri memberikan penghormatan sambil terus bertepuk tangan.

Prof Sarah Gilbert merupakan sosok di balik pengembangan vaksin AstraZeneca-Oxford University. Gilbert adalah seorang profesor vaksinologi di Oxford University.

Gilbert lahir di Northamptonshire pada April 1962. Gelar sarjana ilmu biologi didapatnya dari University of East Anglia, pendidikan doktoralnya ditempuh di University of Hull dalam bidang genetika dan biokimia.

Mulai menekuni vaksinologi di Oxford pada 2004, ia menjadi profesor di Jenner Institute. Prof Gilbert mengembangkan dan menguji vaksin flu universal pada 2011, juga memimpin uji klinis pertama vaksin Ebola pada 2024, lalu MERS (Middle East Respiratory Syndrome).

Pada Desember 2020, Inggris menyetujui vaksin COVID-19 yang dikembangkannya bersama rekan-rekannya. Ia mendapatkan ide untuk mengembangkan vaksin tersebut setelah China mempublikasikan kode genetik virus.

Yang mengejutkan, meski vaksin kerja sama Oxford – AztraZeneca ciptaan tim Sarah terbukti ampuh, Sarah Gilbert mengungkapkan pada parlemen Inggris jika dirinya tak ingin mengambil hak paten penuh untuk vaksin ini.

“Saya tak ingin mengambil (hak paten). Sudah seharusnya kita bisa berbagi dan membiarkan semua orang membuat vaksin mereka sendiri,” kata Sarah.

Demikianlah, Sarah menjadi orang besar yang memilih menjadi orang kecil. Harus diakui, tanpa vaksinasi, saya pun mungkin akan terkapar menghadapi Covid-19 ini. Dengan vaksin, serangan virus ini menjadi tak terlalu berat bagi pasukan pertahanan tubuh saya.

Hari ini, Senin, 19 Juli 2021, merupakan penerapan PPKM Darurat hari ke-17. Angka meninggal di Indonesia masih tinggi: 1.338 per hari, dengan 34.257 tambahan kasus baru dalam 24 jam.

Saya pun bersedih, mendengar kabar duka lagi. Haposan Siagian, kawan seangkatan di Universitas Airlangga, meninggal dunia setelah berperang melawan Covid-19. Praktisi hukum yang tinggal di Citra Raya, Cikupa ini meninggalkan isteri dan kedua anaknya. Kiranya Tuhan memelihara mereka.

Saya terus bersemangat untuk sembuh. Baik dengan olahraga, pikiran positif, berjemur, dan makan sebanyak-banyak dan senyaman-nyamannya.

Pun dengan doa, malam ini saya memohon ketenangan batin dalam doa melalui ‘Jaringan Lingkar Doa Bersama’ bersama Damar Juniarto dkk. Temanya: Jamahlah dan Sembuhkan Kami di Masa Pandemi. Kiranya masa-masa penantian di sini memberi saya makna baru dalam hidup.

“Berdoalah minta hati yang lembut,” kata isteri saya, Celi, dalam pesan chatnya.

Ayat ketigabelas dari Mazmur 91, saya pegang teguh jelang istirahat malam,

“Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *