Perjalanan tiga hari ke Kalimantan Timur menjadi kian bermakna saat di menit-menit akhir jelang boarding ke Jakarta bertemu Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Balikpapan 2023-2025 Septianus Hendra. Pemuda asal Tarakan ini menyerahkan bukunya, ‘Aku Aktivis Mahasiswa Kristen, Iman Idealisme dan Perjuangan di Jalanan‘.
Adalah Ketua GMKI Balikpapan saat ini, Roy Tomi Hermawan, yang memperkenalkan Hendra -begitu sapaan akrab pendahulunya sebagai ‘kecab’ alias ketua cabang itu.
“Ini Kecab Hendra. Kebetulan sama-sama berjiwa jurnalis juga seperti Mas Jojo,” kata Roy di ruang tunggu Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan.
Ingatan saya melayang kepada sebuah posting di WhatsApp Group Senior GMKI yang dikirim Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Pengurus Nasional Perkumpulan Senior (PNPS GMKI) Herjon panggabean. Post di percakapan telepon itu meneruskan promosi buku ’Aku, Aktivis Mahasiswa Kristen: Iman, Idealisme dan perjuangan di Jalanan’.
”Buku ini adalah rekaman perjalanan seorang mahasiswa Kristen, seorang organisatoris dan aktivis. Penulis mengajak pembaca untuk melihat pandangan mengenai aksi demonstrasi dalam kekristenan sebagai aksi profetik, iman yang tumbuh di jalan perjuangan dan kesadaran bahwa kehidupan setiap orang berhubungan dengan nasib orang lain,” tulisnya.
Dicetak setebal 120 halaman dalam genre non-fiksi reflektif, buku seharga Rp 65 ribu itu bisa dipesan di shopee https://id.shp.ee/Z6tnagfC maupun dibaca di digital google play book: https://play.google.com/store/books/details?id=49PaEQAAQBAJ
”Salut, mantan kecab baru sdh produktif menulis buku ????,” komentar Herjon Panggabean, senior asal GMKI Bandung yang menghabiskan karirnya di Kementerian Agraria Tata Ruang dan Badan Pertanahan Nasional itu.
Memang, ditulis oleh jurnalis bersertifikat ‘Wartawan Muda‘, buku ’Aku, Aktivis Mahasiswa Kristen’ terasa renyah dibaca. Buku ini dikemas dalam modifikasi perjalanan hidup, kisah pergerakan di Kaltim, pelajaran moral, untaian ayat Alkitab, serta kutipan tokoh-tokoh yang relate.
Anak petani dari Kalimantan Utara itu mengawali kisahnya saat menjalani status sebagai mahasiswa baru di STT Migas Balikpapan. Hendra merasa beruntung, berada dalam rumah kontrakan, bertemu dengan mentor organisasi yang tepat. Termasuk saat dua bulan awal kuliah di STT Migas, terjadilah bencana gempa bumi dan likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah.
Di saat rekan-rekannya mungkin lebih sibuk bermain dan nongkrong, Hendra tenggelam dalam keguatan sebagai relawan korban bencana alam yang terus mengalir dari Palu ke Balikpapan.
”Sore hari setelah aku menyelesaikan kelas, kami langsung berangkat menuju posko pengungsian korban gempa. Di sana, kami bersama relawan-relawan lainnya membantu para pengungsi turun dari pesawat Hercules milik TNI, mengangkat barang-barang mereka, menata bantuan yang datang, menyiapkan tempat tidur serta membantu jika para korban membutuhkan pertolongan. Aktivitas itu kami lakukan hingga larut malam dengan bergantian,” kenangnya.

Harga yang harus dibayar
Hendra merasa jika seseorang ingin memiliki kemampuan komunikasi yang baik, kemampuan membangun relasi, kepemimpinan, maupun berbagai kemampuan akademik dan non-akademik lainnya, semua itu tidak datang dengan sendirinya.
”Ada harga yang harus dibayar, baik dalam bentuk waktu, tenaga, bahkan kadang materi. Semua itu merupakan bagian dari proses pembentukan diri,” tegas Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Perkumpulan Senior (PCPS) GMKI Balikpapan ini.
Waktu berjalan, Hendra tumbuh sebagai aktivis jalanan. Berbagai aksi unjuk rasa di Kaltim kerap dilakoninya. Tak jarang dalam statusnya sebagai ’korlap’ alias koordinator lapangan. Misalnya demonstrasi korupsi Rumah Potong Unggas, menolak RKUHP dan Revisi UU KPK (2019), kasus tumpahan minyak di Teluk Balikpapan, peolakan UU Cipta Kerja (2020), menolak PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) pada 2021, persoalan kota seperti banjir, hauling batubara dan air bersih di Balikpapan, menolak isu penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden, menolak kenaikan harga BBM bersubsidi (2022), HUT Balikpapan dan banjir perumahan (2023), Hari Buruh, unjuk rasa di depan Kantor Otorita IKN pada HUT RI, pembabatan mangrove (2024), Indonesia Gelap, menolak RUU TNI, serta menolak kenaikan PBB di Kota Balikpapan (2025).
Apakah aksi-aksi itu selalu berhasil? Pria 26 tahun ini mengakui, tidak semua unjuk rasa berakhir dengan hasil seperti yang diharapkan. Sebagian aksi berhasil melahirkan perubahan yang nyata, sebagian lainnya masih tertunda hasilnya, dan ada pula yang tidak menghasilkan perubahan secara langsung.
”Namun, hampir setiap persoalan yang disuarakan mulai mendapat perhatian dan upaya perbaikan setelah adanya gelombang aksi protes dari masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa tekanan publik melalui aksi massa dan suara yang lantang di ruang publik, sering kali permasalahan justru dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian yang serius dari pemerintah maupun lembaga legislatif,” jelasnya.
Hendra juga mengisahkan babak hidupnya saat jadi jurnalis di sebuah media online di Kalimantan Timur. Sebuah profesi yang sering beririsan dengan statusnya sebagai aktivis gerakan mahasiswa.
Suatu saat, GMKI Balikpapan mengkritisi pembangunan sekolah terpadu di Balikpapan Regency. Proyek yang menggunakan anggaran APBD sekitar 33 miliar itu mengalami keterlambatan penyelesaian dari jadwal yang telah ditentukan dalam kontrak. Sebagai jurnalis, ia pun menulis beberapa laporan mengenai keterlambatan pembangunan tersebut.
Hendra pun diundang bertemu langsung dengan Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Balikapapan. Saat itulah, sang Kepala Dinas bertanya, “Hendra, kamu hari ini ketemu saya sebagai apa? Jurnalis atau Ketua GMKI?” Hendra menjawab, “Keduanya, Pak.”
Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan sejumlah temuan di lapangan, mulai dari perbedaan antara laporan progres proyek di media dengan kondisi sebenarnya di lapangan hingga alasan keterlambatan yang dinilai tidak masuk akal. Pada akhirnya kontraktor proyek dikenai sanksi daftar hitam dan diganti karena berbagai kelalaian yang dilakukan.
Sebagai sebuah refleksi, buku ini menarik dibaca. Meski berfokus pada satu orang, ia tak cenderung narsistis atau self-center. Walaupun, di situ juga kekurangannya. Ketiadaan foto atau ilustrasi menjadikannya kurang ’berwarna’. Padahal, tanpa bermaksud menonjolkan diri, foto aksi dan perjuangan menegakkan kebenaran -termasuk saat Hendra mengecap status tersangka dan menginap dua hari di kepolisian- layak ditampilkan untuk mempermudah konteks peristiwa.
Semoga perjalanan Hendra dan pilihannya sebagai aktivis dapat menjadi inspirasi bagi Generasi Z, khususnya mahasiswa Kristen dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik. Bahwa hidup tak semata harus lurus: kuliah, lulus, kerja, berkeluarga dan seterusnya. Ada hal-hal yang secara moril harus dipertanggugjawabkan.
Sebagaimana ditegaskan Septianus Hendra, ”Menjadi mahasiswa Kristen bukan hanya tentang mempertahankan identitas pribadi, tetapi juga tentang menggunakan identitas itu sebagai kekuatan untuk melayani. Kampus bukan sekadar tempat belajar teori, tetapi juga tempat di mana karakter dibentuk dan panggilan hidup mulai terlihat.”
Seperti dikatakan Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda.”

