Buku ke-29 Tere Liye yang saya baca. Judulnya ‘Pulang’. Cerita Agam, atau Bujang, atau Babi Hutan. Pemuda di pelosok Sumatera yang menjelma jadi jagoan secara fisik sekaligus pemilik dua master dari Amerika.
Serial non fiksi berkelas. Setebal 400 halaman. Tentang kehidupan manusia. Dari berburu di hutan, sampai lebatnya rimba ’shadow economy’ yang menguasai dunia.
Pulang karya Tere Liye menarik dibaca bukan sekadar sebagai novel tentang keluarga, pengkhianatan, cinta, dan pertarungan antarkelompok. Kalau ditarik lebih jauh, novel ini juga bisa dibaca sebagai kisah tentang seorang manusia yang lahir dari nol, ditempa oleh kerasnya kehidupan, lalu masuk ke dalam dunia “shadow economy” yang bekerja di balik permukaan kehidupan normal.
Tokoh utama novel ini adalah Bujang, seorang anak dari pedalaman Sumatra yang tumbuh dalam lingkungan keras. Ia bukan berasal dari keluarga kaya, bukan pula anak yang sejak awal memiliki masa depan gemilang. Ia tumbuh di tengah hutan, berburu, belajar bertahan hidup, dan ditempa oleh pengalaman.
Pertemuan dengan Tauke Besar, pemimpin sebuah kelompok penguasa ekonomi bawah tanah, mengubah seluruh jalan hidup Bujang.
Dari seorang anak kampung yang nyaris tidak memiliki apa-apa, Bujang perlahan naik menjadi sosok penting dalam organisasi tersebut. Ia belajar banyak hal: bertarung, membaca situasi, mengambil keputusan, memahami manusia, mengelola kekuasaan, hingga memahami bagaimana uang dan jaringan kekuasaan bekerja.
Di sinilah Pulang menjadi menarik.
Dunia yang dimasuki Bujang ternyata bukan sekadar dunia kriminal dalam pengertian sederhana. Ada jaringan ekonomi gelap yang memiliki uang, kekuasaan, koneksi, loyalitas, dan pengaruh, bahkan beririsan dengan dunia bisnis dan politik.
Bujang akhirnya menjadi bagian dari sistem itu.
Namun semakin tinggi ia naik, semakin ia menyadari sebuah paradoks: kekuasaan dan kekayaan tidak otomatis membuat manusia merdeka.
Ia memiliki kemampuan, uang, pengaruh, bahkan posisi yang sangat kuat. Tetapi di dalam dirinya masih ada pertanyaan tentang siapa dirinya sebenarnya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia akan pulang.
Karena itu, judul Pulang sesungguhnya mempunyai makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kembali ke tempat asal.
Pulang adalah perjalanan kembali kepada jati diri.
Dari hutan menuju pusat kekuasaan
Perjalanan Bujang, Si ’Babi Hutan’
Salah satu kekuatan terbesar Pulang adalah perjalanan Bujang.
Ia dimulai dari nol.
Dari hutan. Menaklukkan babi hutan raksasa, bak monster. Yang kemudian melekat jadi nama panggilan dan julukannya.
Dari kehidupan yang sangat sederhana.
Ia tidak memulai perjalanan dengan modal kekayaan, jabatan, gelar akademik, atau koneksi politik.
Modal awalnya justru adalah:
keberanian, daya tahan, kecerdasan, loyalitas, dan kemauan belajar.
Ini penting karena perjalanan Bujang memperlihatkan satu hukum kehidupan yang sering kita lupakan:
Manusia tidak selalu lahir dengan keadaan yang menentukan masa depannya. Tetapi bagaimana ia merespons keadaan itulah yang sering menentukan siapa dirinya kelak.
Bujang ditempa oleh kesulitan.
Ia belajar bahwa kehidupan tidak selalu adil. Dunia tidak selalu memberikan kesempatan secara cuma-cuma. Dan terkadang seseorang harus berjuang jauh lebih keras hanya untuk mendapatkan sesuatu yang bagi orang lain terasa biasa.
Tetapi ada konsekuensinya.
Ketika seseorang tumbuh di lingkungan yang keras, ia juga berpotensi menjadi bagian dari sistem yang keras.
Dan di sinilah perjalanan Bujang menjadi semakin kompleks.
Apa itu ’shadow economy’?
“Shadow economy”: dunia yang bekerja di balik dunia
Saya kira pembacaan yang menarik terhadap Pulang adalah melihatnya melalui konsep shadow economy atau ekonomi bayangan.
Dalam kehidupan nyata, kita mengenal ekonomi formal: perusahaan, bank, pasar modal, perdagangan, pajak, pemerintah, dan sebagainya.
Tetapi di balik ekonomi formal itu selalu ada wilayah abu-abu dan gelap: transaksi informal, jaringan kekuasaan, bisnis ilegal, korupsi, perdagangan gelap, pencucian uang, perjudian, hingga berbagai bentuk ekonomi yang berusaha menghindari aturan negara.
Pulang membawa pembaca masuk ke wilayah tersebut.
Di dunia Bujang, uang bukan sekadar alat transaksi.
Uang adalah kekuasaan.
Dan kekuasaan tidak hanya berbentuk jabatan.
Ia bisa berbentuk jaringan, loyalitas, informasi, rasa takut, utang budi, akses, kemampuan memengaruhi keputusan, bahkan kemampuan menentukan siapa yang boleh masuk dan siapa yang harus tersingkir.
Ini membuat dunia dalam Pulang terasa dekat dengan realitas meskipun ceritanya bersifat fiksi.
Sebab dalam kehidupan nyata pun kita sering menemukan bahwa yang tampak di permukaan belum tentu seluruh cerita.
Ada keputusan yang dibuat di ruang resmi.
Tetapi ada pula negosiasi yang terjadi di balik ruang resmi.
Ada perusahaan yang terlihat legal.
Tetapi di belakangnya bisa saja terdapat jaringan kepentingan yang jauh lebih rumit.
Ada orang yang tampak hanya sebagai pengusaha.
Tetapi ternyata memiliki hubungan dengan kekuasaan.
Dengan kata lain:
dunia memiliki ekonomi resmi, tetapi juga memiliki ekonomi bayangan.
Dan Tere Liye menggunakan dunia Bujang untuk memperlihatkan bagaimana kerasnya kehidupan ketika seseorang masuk ke dalam wilayah tersebut.
Jadilah kuat
Tetapi pesan moralnya bukan “jadilah kuat dan kaya”
Ini bagian yang justru paling penting.
Kalau membaca Pulang hanya sebagai kisah tentang Bujang menjadi kuat, kaya, dan berkuasa, kita kehilangan pesan terbesarnya.
Novel ini justru memperlihatkan harga yang harus dibayar seseorang ketika ia masuk terlalu jauh ke dalam dunia kekuasaan.
Bujang memang mendapatkan banyak hal.
Tetapi ia juga kehilangan banyak hal.
Ia kehilangan kesederhanaan.
Ia kehilangan sebagian masa mudanya.
Ia berhadapan dengan kekerasan.
Ia harus menghadapi pengkhianatan.
Dan pada akhirnya ia harus bertanya:
Untuk apa semua kekuasaan itu kalau manusia kehilangan dirinya sendiri?
Inilah pertanyaan moral terbesar novel tersebut.
Beberapa pesan moral dalam buku ini.
Pertama, Kemiskinan bukan alasan untuk menyerah
Perjalanan Bujang mengajarkan bahwa seseorang boleh lahir miskin, tetapi tidak harus mati dalam keadaan menyerah.
Ia mulai dari hutan.
Tidak punya kekayaan.
Tidak memiliki privilese besar.
Tetapi ia mempunyai kemauan untuk belajar dan keberanian untuk menghadapi kehidupan.
Pesannya sangat relevan bagi anak-anak muda: jangan terlalu sibuk menghitung apa yang tidak kita miliki sampai lupa mengembangkan apa yang kita punya.
Kadang-kadang modal terbesar manusia bukan uang.
Tetapi karakter.
Kedua, Kekuatan sejati bukan sekadar kemampuan mengalahkan orang lain
Bujang adalah petarung.
Tetapi semakin jauh perjalanan hidupnya, semakin jelas bahwa pertarungan terbesar bukan melawan musuh di luar dirinya.
Pertarungan terbesar adalah melawan dirinya sendiri.
Melawan keserakahan.
Melawan dendam.
Melawan ambisi.
Melawan godaan kekuasaan.
Melawan keinginan untuk membalas.
Ini pesan yang sangat universal.
Seseorang bisa memenangkan seribu pertarungan tetapi kalah dalam satu pertarungan melawan egonya sendiri.
Ketiga, Kekayaan dan kekuasaan mempunyai harga
Pulang juga seperti mengingatkan kita bahwa tidak ada kekuasaan yang benar-benar gratis.
Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab dan konsekuensi yang mengikutinya.
Uang dapat membeli rumah.
Tetapi tidak selalu dapat membeli ketenangan.
Uang dapat membeli keamanan.
Tetapi tidak selalu dapat membeli kepercayaan.
Kekuasaan dapat membuat orang takut.
Tetapi belum tentu membuat orang menghormati.
Dan di sinilah Bujang akhirnya menemukan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh seberapa tinggi ia berdiri di atas orang lain.
Keempat, Loyalitas adalah barang mahal
Dalam dunia Pulang, pengkhianatan adalah sesuatu yang sangat nyata.
Karena itu loyalitas menjadi sangat berharga.
Tetapi novel ini juga memperlihatkan bahwa loyalitas yang sehat bukan berarti mengikuti seseorang secara buta.
Loyalitas seharusnya mempunyai batas moral.
Seseorang boleh loyal kepada keluarga.
Boleh loyal kepada sahabat.
Boleh loyal kepada organisasi.
Tetapi jangan sampai loyalitas membuat manusia kehilangan kemampuan membedakan benar dan salah.
Dan akhirnya: “pulang” kepada siapa?
Inilah inti paling filosofis dari novel tersebut.
Bujang berjalan sangat jauh.
Dari hutan menuju dunia kekuasaan.
Dari anak kampung menjadi sosok yang disegani.
Dari seseorang yang tidak memiliki apa-apa menjadi seseorang yang memiliki hampir semuanya.
Tetapi perjalanan itu justru membawanya kembali pada pertanyaan paling sederhana: Siapa saya?
Itulah mengapa Pulang sebenarnya bukan hanya cerita tentang perjalanan naik kelas sosial.
Ia adalah cerita tentang perjalanan kembali menemukan manusia di dalam diri sendiri.
Karena seseorang bisa pergi sangat jauh untuk mencari kekayaan, kekuasaan, kehormatan dan pengakuan.
Namun pada akhirnya, manusia membutuhkan tempat untuk kembali.
Bukan hanya secara geografis.
Tetapi secara batin.
“Pulang” adalah kisah seorang anak manusia yang memulai hidup dari nol di tengah hutan, ditempa oleh kerasnya kehidupan, masuk ke pusaran ekonomi bayangan dan kekuasaan dunia gelap, mencapai puncak kekuatan—lalu menyadari bahwa perjalanan terjauh bukanlah dari miskin menjadi kaya atau dari lemah menjadi kuat, melainkan perjalanan kembali menemukan siapa dirinya dan apa yang benar-benar berharga dalam hidup.
Dan mungkin itulah pelajaran paling penting dari Bujang:
Kita boleh mengejar dunia. Kita boleh menjadi kuat. Kita boleh menjadi kaya. Tetapi jangan sampai dalam perjalanan menaklukkan dunia, kita justru kehilangan diri sendiri.

