Ini adalah episode berikutnya dari Series Ayahku Hebat duet dengan sahabat baik saya, Coach Noto.
Sebagai ayah, kita tentu pernah melakukannya. Membandingkan anak dengan kakaknya, dengan teman sekolahnya, dengan anak tetangga, bahkan mungkin dengan diri kita ketika seusianya.
“Lihat tuh, temanmu sudah bisa…”
“Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?”
“Anak si A saja bisa, masa kamu tidak?”
Kadang kita mengatakannya karena ingin memotivasi. Karena ingin anak menjadi lebih baik. Karena kita merasa sedang menunjukkan contoh yang baik.
Tapi, benarkah membandingkan membuat anak menjadi lebih baik?
Atau jangan-jangan, tanpa kita sadari, anak justru belajar merasa bahwa dirinya tidak pernah cukup?
Setiap anak punya kecepatan, bakat, karakter, dan perjalanan yang berbeda. Tugas kita sebagai ayah mungkin bukan membuat anak menjadi seperti anak lain, tetapi membantu mereka menemukan dan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Lalu, bagaimana cara menegur dan memotivasi anak tanpa membanding-bandingkannya?
Bagaimana membedakan antara memberi contoh dan membuat anak merasa kalah?
Dan yang paling penting: bagaimana agar anak tahu bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh seberapa jauh ia dibandingkan dengan orang lain?
Tentu saja, sebagai ayah kami juga jauh dari sempurna. Kami masih sering salah, masih terus belajar, dan mungkin sesekali masih keceplosan membandingkan. ????
Konten ini bukan untuk menggurui. Mari kita belajar bersama, menjadi ayah yang lebih baik di tengah tantangan parenting di era digital.
Karena setiap anak bukan perlombaan.
Anak tidak perlu menjadi seperti anak orang lain. Ia hanya perlu tahu bahwa ayahnya percaya pada dirinya.
Video by: @uyyajunior
Edited by: @iya.n_
Lokasi: Kafe Bahasa Alam, The Green – BSD City
