Kelas Kopi Pimred Tribun Sumsel

Sudah ke Palembang, tak afdol jika tak singgah ke markas media terbesar di kota ‘Wong Kito Galo’. Apalagi pemimpin redaksinya -Tribun Sumsel plus Sriwijaya Post sahabat lawas: Yudie Thirzano.

Di ruang kerjanya, bersama dua sohib lain, Hendra Sipayung dari Kantor Imigrasi Palembang dan Nugie Santoso dari KompasTV Palembang, kami mendapat kelas khusus. Ceramah mengenai dahsyatnya perkembangan kopi di provinsi Sumatera Selatan. Ia pun berkisah, ”Indonesia adalah negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia, setelah Brasil dan Vietnam. Dan, tahukah Anda di mana penghasil kopi terbesar di Indonesia? Sumsel!”

Sumatera Selatan secara konsisten menjadi provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia, diikuti Lampung, Sumatera Utara, Aceh, dan Bengkulu. Setiap tahunnya, rata-rata Sumatera Selatan menghasilkan 198 ribu ton kopi, yang merupakan produksi kopi robusta terbesar di dunia.

Kopi Sumsel terkenal dengan cita rasa dan aroma khasnya yang kuat. Beberapa merk kopi terkenal asal Sumsel antara lain Kopi Pagaralam dan Kopi Semendo. 

Sentra perkebunan dan produksi utamanya berada di dataran tinggi Bukit Barisan, antara lain di Kabupaten Lahat, Muara Enim, dan Pagar Alam. Total luas perkebunan mencapai 163 ribu hektar dengan produksi 182 ribu ton per tahun.

Selain menjadi penghasil kopi Arabika terbesar, Sumatera Selatan memiliki kopi jenis Robusta yang sangat terkenal, terutama dari wilayah Pagar Alam dan Lahat. Kopi Robusta dari daerah ini dikenal dengan cita rasa yang kuat dan kandungan kafein yang lebih tinggi dibandingkan Arabika, menjadikannya favorit di pasar domestik.

Seperti kita ketahui, robusta memiliki kafein lebih tinggi, rasa pahit dan kuat, tubuh lebih pekat, serta lebih mudah ditanam dan murah, sedangkan arabika memiliki kafein lebih rendah, rasa asam dan kompleks (buah, bunga), tubuh lebih ringan, serta lebih sulit dibudidayakan dan mahal.  Selain itu, salah satu perbedaan biji kopi arabika dan robusta bisa dilihat dari segi ukuran dan bentuknya. Biji kopi arabika lebih besar dibanding robusta. Bentuk biji robusta cenderung membulat, sementara biji arabika berbentuk lonjong. 

”Sayangnya, kopi Sumsel dengan produksinya amat melimpah ini belum diikuti dengan branding dan gerakan kebudayaan yang kuat. Di media kami mencoba melakukannya dengan kampanye massif, misalnya dengan ajakan ’Ayo Minum Kopi Sumsel’,” kata Yudie.

Selanjutnya, ia berharap, bisa ada pabrik-pabrik besar yang bisa menyerap hasil perkebunan kopi Sumsel, tanpa harus dibawa melintas provinsi, seperti ke Lampung.

”Ada enam kabupaten penghasil kopi utama di Sumsel. Yang paling besar di antara produsen kopi itu adalah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan,” jelasnya. Sekitar 40 persen perkebunan kopi Sumatera Selatan berada dalam wilayah OKU Selatan, kabupaten beribu kota Muaradua yang dengan Danau Ranaunya menjadi perbatasan alami langsung dengan Lampung. Tanaman kopi di daerah itu tumbuh di ketinggian 600 – 1500 meter di atas permukaan laut (mdpl).

”Seharusnya budaya minum kopi bisa lebih dikembangkan di daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia ini. Kalau Anda pergi ke Jawa, khususnya Surabaya, budaya minum kopi saat ini massif benar,” ungkapnya. Selain Aceh, Belitung, Lampung, Pontianak dan daerah lain yang lebih dulu terkenal dengan warkopnya, di Surabaya marak berdiri belasan kedai 24 jam dengan brand STK alias ’Sedulur Tunggal Kopi’.

Dan, tak lengkap rasanya jika cerita kampanye budaya minum kopi itu tak disertai dengan tuangan kopi langsung dari tekonya. Dihidangkan sendiri oleh Yudie dengan takaran presisi ke gelas kecil masing-masing dari kami.

Merasakan khas keasaman istimewa, sembari meresapi tagline yang dibangun Tribun Palembang dan Sriwijaya Post di eranya, ’Ayo Minum Kopi Sumsel!’

Leave a Reply

Your email address will not be published.